“Rekomendasi saya untuk anak-anak Indonesia, baca saja buku yang dikarang oleh orang Barat atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia. Kalau orang Indonesia, menulis itu sesuai versinya dan subjektif.”
Ungkapan tersebut dilontarkan oleh Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, saat diwawancarai oleh tim kreatif Jagat Literasi mengenai rekomendasi buku untuk anak-anak Indonesia. Momen tanya jawab tersebut diunggah melalui akun Instagram @jagat.literasi yang berkolaborasi dengan @kompascom pada Rabu (29/7/2026).
Pernyataan Pigai mendadak memicu gelombang reaksi dari warganet, pegiat literasi, hingga para penulis papan atas. Penulis Tere Liye—yang akrab disapa Darwis—mengunggah kembali video tersebut sembari menuliskan sindiran menohok di takarirnya:
“Alhamdulillah, berarti sudah benar. Jutaan anak-anak Indonesia baca buku Tere Liye. Kan Tere Liye itu orang India, dan India itu ada di baratnya Indonesia. Makasih Pak Menteri atas kata-kata hari ini.”
Tak berhenti di situ, Tere Liye juga menyentil para book lovers dan aktivis literasi yang sering kali bersikap serupa. “Kalian tidak usah marah-marah dengar ocehan ini. Jujur saja, pembaca di Indonesia yang ngaku-ngaku book lovers atau aktivis literasi pun banyak yang begini. Komentar mereka bertebaran: 'Males banget baca buku penulis Indo, mending buku LN.' Cek saja timeline X dan kawan-kawan, nanti kaget.”
Sementara itu, penulis J.S. Khairen turut menumpahkan kekesalannya di kolom komentar dengan mengirimkan GIF bernada jengkel. Banyak pihak menyayangkan sikap seorang pejabat publik—terutama seorang menteri—yang memandang sebelah mata karya anak bangsa sendiri di tengah masa krisis minat baca yang masih melanda Indonesia.
Mengurai Mitos Objektivitas Penulis Barat
Membaca karya karangan penulis Barat memang sangat berguna untuk memperluas perspektif dan cakrawala berpikir. Namun, menganggap karya Barat pasti objektif sedangkan karya penulis Indonesia selalu subjektif adalah narasi yang keliru.
Dalam dunia penulisan—khususnya literatur sejarah, sosial, maupun humaniora—hampir tidak ada karya yang benar-benar lepas dari subjektivitas. Setiap penulis pasti membawa kacamata, tafsir personal, dan keyakinan masing-masing ke dalam tulisannya.
Penulis Barat pun tidak serta-merta bersikap objektif. Mereka tumbuh dalam ruang budaya, nilai, dan sejarah mereka sendiri. Pemikiran mereka juga dibentuk oleh lingkungan ideologisnya—baik itu kapitalisme, sosialisme, maupun liberalisme. Oleh karena itu, tulisan mereka tentu mencerminkan bias budaya dan pandangan hidup dari mana mereka berasal.
Atas dasar itu, proses memilih bacaan tidak bisa dilakukan secara serampangan. Sebelum membaca, calon pembaca idealnya mengenali latar belakang penulis, memahami konteks buku, serta bersikap kritis. Sebab, setiap karya—baik dari dalam maupun luar negeri—pasti membawa muatan ideologi dan sudut pandang tersendiri dari sang pembuatnya.
Menanam Akar Budaya Melalui Karya Lokal
Bagi anak-anak di Indonesia, membaca buku karya penulis dalam negeri justru menjadi sarana penting untuk mengenali identitas diri, memahami realitas masyarakat sekitarnya, serta menumbuhkan empati terhadap isu-isu lokal. Daripada mendikotomi asal-usul penulis, pendekatan yang lebih bijak adalah mengasah kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Tidak ada buku yang sepenuhnya bebas dari bias. Tugas orang tua, pendidik, dan pemerintah bukanlah melarang atau mendiskreditkan karya tertentu, melainkan mengarahkan anak-anak agar mampu menyaring informasi, membandingkan berbagai perspektif, serta memetik nilai positif dari setiap bacaan.
Pada akhirnya, memperluas wawasan dengan membaca buku-buku terjemahan atau berbahasa asing adalah langkah yang sangat baik. Namun, mengapresiasi dan bangga pada karya anak bangsa sendiri adalah fondasi utama agar generasi muda Indonesia berwawasan global tanpa kehilangan akar budayanya. Menikmati sastra dunia dan mencintai literasi negeri sendiri seyogianya berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
Baca Juga
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Makna Lirik Lagu 'Coba Lagi': Pengingat Harapan saat Berada di Titik Terendah
-
Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
Artikel Terkait
-
Polemik Film 'Pesta Babi' Dandhy Laksono, Menteri HAM Dorong Polisi Tempuh Restorative Justice
-
Tak Hanya Menyembuhkan, 5 Dokter ini juga Bagikan Inspirasi Lewat Tulisan
-
Bela Dandhy Laksono, Menteri HAM: Seseorang Tak Boleh Dihukum karena Daya Cipta dan Karsanya
-
Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
Kolom
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?
-
Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri
-
Kota Pelajar untuk Perantau, 32 Ribu Anak Malang Justru Tidak Sekolah
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Terkini
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!