Buku tentang kiat-kiat menulis fiksi dan nonfiksi ini menarik dijadikan sebagai buku panduan bagi Anda yang berminat menjadi seorang penulis atau pengarang. Menulis, sebagaimana kita ketahui bersama, adalah sebuah keterampilan yang dapat dipelajari oleh setiap orang.
Dalam buku Menulis dan Menerbitkan Buku Fiksi dan Non Fiksi ini, Zamakh Syarifani menuturkan, hampir setiap orang ingin menjadi penulis, terlepas dari motivasi apa yang menjadi latar belakang keinginan mereka untuk menjadi penulis.
Menurut Zamakh Syarifani, untuk bisa menulis dengan baik, kita tentu saja harus berlatih rutin. Namun, Zamakh Syarifani menyarankan supaya berlatih seperti permain badminton. Pada waktu-waktu tertentu Anda, mungkin hanya berlatih untuk membuat metafora, sampai Anda menemukan kekuatan metafora dalam tulisan Anda. Temukan juga metafora-metafora yang ditulis secara memikat oleh penulis-penulis lain. Pemain badminton juga memiliki waktu tersendiri untuk berlatih smes. Ia juga rajin mengamati dan mempelajari cara pemain lain menghunjamkan smes.
Pada lain hari, Anda mungkin perlu belajar membuat deskripsi. Cobalah membuat deskripsi saja sampai benar-benar kuat. Pelajari bagaimana penulis-penulis yang baik membuat deskrispi yang hidup dan tidak membosankan. Mungkin ini sama dengan pemain badminton yang sedang berlatih mengayunkan langkah atau melakukan reli panjang (Menulis dan Menerbitkan Buku Fiksi dan Non Fiksi, halaman 4).
Rajin membaca menjadi semacam “amunisi” bagi seorang penulis untuk mengasah kepekaannya dalam menulis. Karenanya kegiatan membaca bagi seorang penulis adalah sebuah keniscayaan. Tidak bisa tidak. Sangat aneh dan janggal bila ada orang mengaku penulis atau pengarang tapi dia tidak memiliki kebiasaan membaca.
Menurut Zamakh Syarifani, banyak orang berkata, “Saya ingin jadi penulis! Sumpah!” namun mereka malas membaca, malas untuk mulai menulis. Sampai kapan pun mereka tidak akan jadi penulis. Sebenarnya, menulis adalah salah satu bentuk komunikasi dan refleksi kecendekiaan seseorang yang dibutuhkan dalam perkembangan orang itu sendiri dan masyarakatnya.
Aktivitas menulis memiliki banyak manfaat, salah satunya bisa melegakan hati dan pikiran. Karena apa yang kita rasakan dan pikirkan akhirnya berhasil dituangkan dalam bentuk kata-kata yang bisa dipahami oleh orang lain.
Menulis juga bisa menjadi terapi diri. Hal ini sebagaimana pernah diungkapkan oleh James Peannebaker. Menurut James, menulis bisa menjadi terapi diri, atau bahasa awamnya “menghilangkan stres”. Menulis bisa membuatmu menolong orang lain (Menulis dan Menerbitkan Buku Fiksi dan Non Fiksi, halaman 19).
Buku karya Zamakh Syarifani ini sangat tepat dijadikan sebagai salah satu buku panduan bagi Anda: calon penulis atau yang sudah menjadi penulis.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
My Tomorrow, Your Yesterday: Ketika Hari Pertama Kita Jadi Hari Terakhirnya
-
Ulasan Novel Festival Hujan, Belajar Menerima Diri dari Sebuah Kehilangan
-
Tampil Stand Out ala Profesional dalam Buku Presentasi yang Mencekam
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
Terkini
-
Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?
-
Ibu Tzuyu TWICE Jelaskan Rumor Kencan, Minta Publik Berhenti Berspekulasi
-
Cari Kerja Susah Malah Disuruh Wirausaha, Dikira Dagang Gak Pakai Duit?
-
Laptop REDMI Book 16 2027 Hadir dengan Numeric Keypad,Baterai 72Wh, dan Layar 120Hz
-
4 Hydrating Sunscreen Buat Lindungi Kulit dari Sinar UV dan Jaga Kelembapan