Hakikatnya, orang Islam yang satu dengan orang Islam yang lainnya adalah saling bersaudara. Oleh karena itu, sudah selayaknya antara satu dengan yang lain saling tolong-menolong dalam kebaikan dan juga saling menghormati satu sama lain.
Saling nasihat-menasihati satu sama lain juga mestinya menjadi kebiasaan kita. Namun yang harus ditegaskan di sini, nasihat yang kita sampaikan kepada orang lain itu haruslah dengan niat dan cara-cara yang baik. Karena nasihat yang disampaikan dengan cara yang tidak baik justru hanya akan mendatangkan mudarat atau dampak yang buruk. Misalnya mendatangkan kebencian dan permusuhan.
Salah satu contoh nasihat yang baik adalah ketika dilakukan secara rahasia. Selain itu, pilihlah kata-kata yang santun saat menyampaikan sebuah nasihat agar tidak membuat orang yang dinasihati merasa tersakiti atau dihakimi. Satu hal lagi, jangan sampai kita menasihati orang di depan umum. Menasihati orang di depan khalayak tentu itu bukan nasihat namanya, tapi mempermalukan harga diri orang tersebut.
Selain itu, hal yang tak boleh diabaikan adalah mencari waktu yang tepat ketika kita ingin menasihati orang lain. Misalnya ketika melihat orang tersebut dalam kondisi santai, tidak sedang dalam kondisi lelah atau saat sedang terbakar emosi. Menasihati orang yang kondisinya sedang kurang baik tentu kurang tepat dan dapat memicu kemarahannya.
Andai kita belum mampu menasihati orang lain, kita tak perlu sibuk menggunjing atau membicarakan aibnya. Bila kita belum mampu memberi nasihat yang baik atau tak punya hak untuk menasihati orang, maka lebih baik memilih diam, tapi dalam hati kita mengingkari perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang tersebut.
Ada sebuah keterangan yang bisa kita jadikan renungan dalam buku ‘Sesaudara dalam Iman Sesaudara dalam Kemanusiaan’ karya Edi AH Iyubenu bahwa niat baik dan perkataan baik acap tidak membuahkan hasil yang baik hanya akibat kita gagal dalam menemukan cara yang baik pula. Kita harus berhati-hati dan cermat benar memikirkan caranya (baik waktunya, situasinya, pilihan kata-katanya) agar niat baik dan perkataan baik itu membuahkan hasil yang baik pula.
Edi AH Iyubenu meyakini bahwa menemukan dengan saksama cara terbaik, teraman, pun terefektif menjadi kunci pokok bagi buah maslahat nasihat-menasihati itu sekaligus cermin bagi kearifan pemikiran dan perasaan batin kita kepada liyan. Salah satu pilar yang harus dipahami saksama ialah ‘keterjangkauan’. Apa yang dimaksud ‘keterjangkauan’ ialah adanya hak kita secara relasi sosial dengan pihak yang akan diberi masukan atau nasihat itu. Dalam bahasa al-Qur’an, ia disebut ‘ulil amri’, yakni pemangku suatu urusan (urusan nasihat-menasihati dalam hal ini).
Terbitnya buku karya Edi AH Iyubenu (Diva Press, 2021) ini semoga dapat menjadi refleksi atau renungan bersama, agar kita selalu berusaha menjadi manusia yang memanusiakan sesama.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
-
Four Hands, Two Sonatas: Ketika Sahabat Menjadi Rival dalam Meraih Mimpi
-
Pengaruh Kolonial pada Kesastraan Sunda Abad 19 di Buku Semangat Baru
-
Review Film Crawlers: Aksi Matilda Lutz Melawan Invasi Ribuan Laba-Laba!
-
Aksi Dua Mantan Militer Gempur Markas Penjahat di Film In The Grey
Terkini
-
Politik Beras Orde Baru: Bagaimana Nasi Jadi Standar Makan Orang Indonesia?
-
PSSI Naturalisasi Pemain dari Liga Lokal, Bakal Jadi Sebuah Kemunduran?
-
Prediksi Liverpool vs Manchester City: Duel di Tengah Bayang-Bayang Kontroversi
-
Bebas Jerawat! 4 Micellar Water PHA Angkat Kotoran dan Eksfoliasi Ringan
-
Ungkapkan Cinta dari Barak Militer, Hoshi Seventeen Rilis Single Boyfriend