Mengubah kebiasaan buruk dalam hidup sering kali menjadi hal yang sulit dilakukan. Terlebih jika kebiasaan tersebut telah mendarah daging sehingga berbagai upaya perubahan yang dilakukan sering kali sia-sia.
Terkait hal tersebut, Danang Setyo Budi Baskoro selaku psikolog klinis menemukan sebuah fenomena unik ada banyak pasien yang justru menjadi lebih mudah berubah ke arah yang lebih baik saat mereka memiliki kesadaran tentang manajemen diri.
Hal tersebut kemudian dituangkan dalam buku berjudul 'Berubah itu Mudah', Rahasia Cara Tercepat Membentuk Ulang Diri Menjadi Lebih Baik. Melalui buku ini, penulis membagian kiat-kiat agar bisa membuat perubahan yang positif dengan pendekatan psikologi.
Untuk melalukan perubahan, menurut penulis, hal paling pertama yang harus dilakukan adalah mengenali diri sendiri. Setelah kita belajar mengenali karakteristik dan kepribadian yang kita miliki, selanjutnya kita bisa mengukur dan memberdayakan segala potensi yang ada untuk meraih tujuan perubahan yang hendak dicapai.
Namun dalam proses perubahan tersebut, memang tidak bisa digapai dengan cara yang instan. Tapi fakta mengenai neuroplastisitas otak yang dibahas dalam buku ini setidaknya menjadi penghiburan bagi kita. Bahwa secara sains, otak kita selalu berkembang dan memperbaiki diri. Tak peduli jika usia telah menua dan organ tubuh yang lain telah rusak.
Otak yang menjadi pusat kendali atas seluruh tindakan kita memiliki kemampuan untuk mengubah struktur dan fungsi kimianya, selama kita terus melatih otak tersebut. Jadi, memang tidak ada yang mustahil untuk berubah jika kita tidak berhenti untuk melakukan upaya-upaya ringan namun konsisten sepanjang hidup.
Selain pembahasan mengenai neuroplastisitas, hal menarik lainnya adalah berbagai metode dalam psikologi perubahan yang dijelaskan oleh penulis. Seperti metode NAC dan manajemen diri, memulihkan pikiran yang terganggu dengan NLP, hingga penyembuhan emosi dengan EFT.
Namun berbagai metode tersebut sayangnya hanya dijelaskan secara ringkas sehingga agak sulit membayangkan penerapan metode-metode tersebut bagi orang awam.
Selain itu, saya merasa bahwa terlalu banyak informasi tambahan yang tidak relevan dan terkesan membuat pembahasan jadi ke mana-mana. Sementara itu, ada beberapa bab yang menarik dan menurut saya butuh fokus yang mendalam tapi hanya dibahas secara sepintas.
Tapi terlepas dari hal tersebut, buku ini adalah salah satu buku pengembangan diri yang unik karena membahas aspek perubahan lewat kacamata psikologi klinis. Hal tersebut tampaknya juga masih jarang dibahas pada buku-buku self-help lokal.
Jadi, bagi pembaca yang ingin mengubah kebiasaan buruk, Berubah Itu Mudah adalah salah satu buku yang bisa menjadi referensi!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Berhenti Cemas! Memahami Dinamika Dunia Kerja dengan Bijak Lewat Buku 'Lagi Probation'
-
Ulasan Buku Cermin Ajaib, Sarat Pesan Moral untuk Pembaca Cilik
-
Ulasan Buku 'No More Burnout', Strategi Jitu Menjaga Kesehatan Mental
-
Tanamkan Sikap Jujur dan Tanggung Jawab dalam Buku Bertajuk Kio Si Penjaga Lumbung
-
Ulasan Buku The Book of Imaginary Beliefs, Kumpulan Quotes yang Menyentuh Hati
Ulasan
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi
-
Review Drama My Mister: Mahakarya Slice-of-Life tentang Beban Hidup dan Empati Kemanusiaan
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Keajaiban Membaca dalam When You Love a Book Karya Kaz Windness
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
Terkini
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Bukan Sekadar Visual, Ini Alasan Drama Korea Jadi Terapi 'Healing' Paling Favorit
-
Di Balik Ilusi Media Sosial dan Ekspektasi: Belajar Hadir dan Menerima Jalur Hidup yang Tak Linear
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"