Dalam industri film Hollywood yang dibanjiri sekuel dan reboot, tak banyak waralaba yang mampu mempertahankan daya tariknya seperti Now You See Me. Dimulai dari karya perdananya tahun 2013 yang memikat penonton lewat trik sulap pintar dan sindiran sosial yang pedas, disusul Now You See Me 2 (2016) yang kian meledak-ledak, kini hadir Now You See Me: Now You Don't (2025).
Sebagai seri ketiga, film ini digarap oleh Ruben Fleischer—sutradara di balik Venom dan Uncharted—yang menawarkan perpaduan ilusi memukau, konspirasi korporat, serta pesan etis yang lebih mendalam.
The Four Horsemen kembali diperankan oleh Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Dave Franco, dan Isla Fisher, sementara generasi pesulap baru ikut meramaikan untuk menyuntikkan kesegaran.
Dengan panjang 112 menit, Now You See Me: Now You Don't memulai pemutaran perdana di Amerika Serikat pada 14 November 2025, tetapi sudah bisa disaksikan di bioskop Indonesia sejak 12 November 2025. Apakah ini ilusi paling brilian dalam sejarah franchise, atau sekadar sihir usang yang kehilangan kilau? Mari kita bedah lewat ulasan ini!
Sinopsis: Kembalinya Horsemen, Musuh Baru yang Berkilau
Cerita dimulai tiga tahun setelah petualangan terakhir The Four Horsemen. Kelompok pesulap pemberontak ini—J. Daniel Atlas (Eisenberg), Merritt McKinney (Harrelson), Jack Wilder (Franco), dan Henley Reeves (Fisher)—kini hidup dalam bayang-bayang ketenaran.
Mereka direkrut oleh Eye, organisasi rahasia yang melindungi ilmuwan dan seniman, untuk misi terbesar: membongkar sindikat kriminal yang dipimpin Veronika Vanderberg (Rosamund Pike), pewaris berlian yang haus kekuasaan.
Vanderberg menggunakan teknologi sulap modern—seperti AI dan hologram—untuk memanipulasi pasar global, mencuri identitas, dan bahkan mengendalikan pikiran elite dunia. Horsemen harus berkolaborasi dengan generasi baru: seorang hacker jenius (Anya Taylor-Joy) dan pesulap jalanan (Justice Smith), sambil menghadapi pengkhianatan dari dalam.
No spoiler-spoiler club ya Sobat Yoursay, karena plotnya penuh lapisan. Fleischer membangun narasi seperti permainan catur raksasa, di mana setiap adegan sulap bukan sekadar hiburan, tapi metafora untuk ketidakadilan ekonomi.
Vanderberg mewakili korporasi rakus ala Silicon Valley, sementara Horsemen adalah pahlawan rakyat yang menggunakan ilusi untuk ungkap kebenaran. Ini bukan sekadar heist movie; ini kritik terhadap era digital di mana sulap adalah algoritma yang memanipulasi kita semua.
Review Film Now You See Me: Now You Don't
Salah satu daya tarik utama Now You See Me: Now You Don't adalah efek visualnya yang memukau. Dibantu oleh tim VFX Lionsgate, film ini menghadirkan sulap yang terasa nyata sekaligus mustahil: ledakan berlian virtual yang menyembur seperti air mancur, teleportasi massal di tengah konser Las Vegas, dan trik pikiran yang memanfaatkan deepfake.
Adegan klimaks di museum berlian Vanderberg adalah puncaknya—sebuah urutan 10 menit yang membuat penonton bertepuk tangan di bioskop. Fleischer, yang dikenal dengan aksi dinamis, berhasil menjaga tempo cepat tanpa terasa kacau, meski kadang terlalu bergantung pada CGI.
Secara akting, chemistry Horsemen lama tetap jadi andalan. Eisenberg sebagai Atlas yang sarkastik semakin matang, menambahkan lapisan keraguan diri yang membuat karakternya lebih manusiawi.
Harrelson mencuri perhatian dengan humor absurdnya, terutama dalam adegan hipnosis yang absurd tapi jenius. Fisher dan Franco memberikan keseimbangan emosional, dengan chemistry romantis mereka yang subtil.
Masuknya Taylor-Joy sebagai Lula—hacker yang cerdas tapi naif—menambah kesegaran; ia bukan sekadar "gadis baru", tapi katalisator konflik.
Sayangnya, Pike sebagai antagonis terasa underutilized. Meski karismatik, Vanderberg kurang kedalaman dibanding Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) di film sebelumnya—ia lebih seperti karikatur villain daripada ancaman sungguhan.
Namun, bukan berarti film ini tanpa cela, ya. Alur ceritanya sarat kejutan, tetapi sejumlah di antaranya terkesan dipaksakan—seperti twist ketiga yang lebih condong ke arah fan service ketimbang terobosan baru.
Dengan durasi 112 menit, ritme terasa molor di segmen tengah, terutama saat pengungkapan rahasia sulap disampaikan secara bertele-tele, mirip keluhan yang muncul di sekuel sebelumnya.
Singkatnya, twist-nya lebih banyak ketimbang pendahulunya, tapi substansi di balik ilusi tetap tipis. Hiburan yang mantap, namun tak benar-benar revolusioner—ia berhasil berada di sisi aman sekaligus mengkritik minimnya kejutan emosional.
Secara keseluruhan, kekuatan film ini ada di hiburannya: musik Hans Zimmer yang epik (remix tema lama), dialog witty, dan pesan anti-kapitalis yang relevan di era AI.
Kelemahannya? Kurangnya inovasi besar—sulapnya impresif, tapi tak secerdas film pertama. Bagi fans franchise, ini seperti pertunjukan encore yang memuaskan; bagi pemula, cukup menyenangkan untuk masuk ke dunia ilusi ini.
Jadwal Tayang di Bioskop Indonesia
Film ini sudah tayang perdana di Indonesia pada 12 November 2025, lebih awal dari rilis globalnya, melalui jaringan bioskop utama. Berikut jadwal contoh di Jakarta (periksa aplikasi seperti XXI atau CGV untuk update real-time):
- Agora Mall XXI: 12:15, 14:25, 16:35, 18:45, 20:55, 23:05 WIB.
- CGV Grand Indonesia: 13:00, 15:20, 17:40, 20:00, 22:20 WIB.
- Cinepolis Mall Taman Anggrek: 12:30, 14:50, 17:10, 19:30, 21:50 WIB.
Di luar Jakarta, seperti di Surabaya (CGV Transmart) dan Bandung (XXI Paris Van Java), jadwal serupa mulai pukul 12:00 WIB. Tiket presale sudah dibuka, dengan harga standar Rp 50.000–Rp 100.000. Saran: Nonton di format IMAX untuk efek sulap maksimal. Di Kendari, Hollywood Bioskop juga tayang mulai 12 November dengan sesi malam.
Now You See Me: Now You Don't bukan masterpiece, tapi sulap hiburan yang solid untuk malam keluarga atau kencan. Film ini membuktikan franchise ini masih punya trik di lengan bajunya—meski tak selalu mengejutkan. Kalau kamu suka Ocean's Eleven bertemu The Prestige, ini wajib tonton sih. Pergilah ke bioskop sebelum ilusinya pudar. Siapa tahu, mungkin kamu akan melihat sesuatu yang tak terduga di layar lebar.
Baca Juga
-
1 Jam Bersama Batsy
-
Review Film The Voice of Hind Rajab: Klaustrofobia Emosi di Ruang Panggilan
-
Review Film Coraline: Remastered 3D yang Seram dan Bikin Merinding!
-
Review Film Mercy: Paranoia Teknologi dan Keadilan Instan yang Menyeramkan!
-
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Film Horor Brutal yang Kuras Emosi Aulia Sarah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Nostalgia Film 5 cm: Antara Keindahan Mahameru dan Kekuatan Persahabatan
-
Burung-Burung Rantau: Gagasan tentang Manusia Pasca-Indonesia
-
Dua Dini Hari: Noir Lokal tentang Konspirasi dan Nasib Anak Jalanan
-
Psikologi di Balik Hadirnya Do Ra-mi dalam 'Can This Love Be Translated?'
-
Tips Jitu Membuat Keputusan Bijak di Buku Clear Thinking
Terkini
-
4 Padu Padan Daily OOTD ala Go Youn Jung, Gaya Simpel tapi Classy!
-
Saat Sekolah 'Pindah' ke Mall: Serunya Open House Mutiara Persada 2026
-
Antara Empati dan Superioritas: Mengembalikan Makna Volunteer yang Berdampak
-
4 Physical Sunscreen Vegan Terbaik untuk Kulit Sensitif dan Mudah Breakout
-
Shayne Pattynama Gabung Persija Jakarta, Peluang Main di Timnas Makin Besar