Hujan menderu di luar Galeri Atmadja. Namun, di dalam, kesunyian terasa lebih mencekam daripada badai.
Detektif Aris menatap bingkai emas yang kini kosong. Lukisan The Silent Waltz, yang bernilai miliaran rupiah, raib tanpa jejak. Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada sidik jari, hanya tersisa aroma parfum lavender yang samar.
“Kau terlambat sepuluh menit, Aris. Insting detektifmu mulai tumpul?”
Suara itu datang dari bayang-bayang. Seorang wanita dengan gaun beludru merah melangkah maju. Elena. Ia adalah kurator galeri, sekaligus satu-satunya perempuan yang pernah mematahkan hati Aris lima tahun lalu.
“Dan kau masih tetap sombong, Elena,” balas Aris dingin, meski jantungnya berkhianat dengan detak yang lebih kencang. “Hanya ada dua orang yang tahu kode brankas ini. Kau dan pemilik galeri yang sedang berada di Paris.”
Elena tertawa kecil, melangkah mendekat hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “Jadi kau menuduhku? Periksalah aku, Detektif. Borgol aku jika itu memang keinginanmu.”
Aris mengabaikan godaan itu. Ia menyalakan senter UV, menyisir lantai. Matanya menangkap sesuatu yang janggal: noda cat minyak yang masih basah di dekat ventilasi. Ia merunduk, tetapi Elena tiba-tiba menarik kerah kemejanya.
“Jangan lewat sana,” bisik Elena. Napasnya hangat di telinga Aris. “Pencurinya tidak keluar lewat ventilasi. Dia masih ada di sini.”
Aris terpaku. Bukan karena peringatan itu, melainkan karena ia menyadari sesuatu. Aroma lavender itu bukan berasal dari Elena. Elena selalu memakai aroma mawar hitam. Lavender adalah aroma asisten galeri—pria muda yang tadi menyambutnya di depan.
Tiba-tiba, lampu galeri padam total. Suara langkah kaki cepat terdengar menuju pintu belakang. Aris bereaksi cepat. Ia menarik Elena ke dalam pelukannya untuk melindunginya, lalu melepaskan tembakan peringatan ke udara.
“Berhenti! Polisi!” teriak Aris.
Dalam kegelapan, terdengar suara benda jatuh. Aris menyalakan lampu darurat dari ponselnya. Sang asisten tertangkap basah, tersungkur dengan lukisan di tangannya. Ia mencoba melawan, tetapi Aris dengan cekatan melumpuhkannya dan memasang borgol di pergelangan tangan pria itu.
Setelah petugas kepolisian lain datang dan membawa tersangka, galeri kembali sunyi. Aris berdiri di depan bingkai kosong, mencoba mengatur napasnya. Elena mendekatinya, kali ini tanpa sarkasme.
“Kau masih hebat, Aris,” ucapnya lembut. “Hanya butuh sepuluh menit untuk memecahkan misteri yang membuatku ketakutan sepanjang malam.”
Aris menoleh, menatap mata Elena yang kini tampak rapuh. “Pencurinya tertangkap, Elena. Kasus selesai.”
“Apakah benar-benar selesai?” Elena menyentuh tangan Aris yang masih menggenggam borgol cadangan. “Lima tahun lalu, kau pergi karena sebuah kesalahpahaman. Kau detektif hebat, tapi kau payah membaca hatiku.”
Aris terdiam. Ia menatap borgol di tangannya, lalu menatap Elena. Perlahan, ia memasangkan satu sisi borgol ke pergelangan tangan Elena, dan sisi lainnya ke pergelangan tangannya sendiri.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Elena terkejut.
“Menahanmu untuk interogasi lebih lanjut,” jawab Aris dengan senyum tipis yang langka. “Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk memecahkan sandi di hatimu, Elena. Dan aku tidak keberatan memulainya malam ini.”
Elena tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Aris. Hujan di luar mulai mereda, tetapi bagi mereka, detak jantung yang sinkron adalah satu-satunya melodi yang dibutuhkan. Misteri lukisan telah usai, namun babak baru dalam pencarian hati mereka baru saja dimulai.