Di tengah gemerlap Jakarta yang tak pernah tidur, Aryya tinggal di apartemen kecil lantai 15 kawasan Sudirman. Ia guru bahasa Indonesia di SMA swasta elit, mengajar siswa tentang metafora dan rima setiap pagi.
Tapi malam hari, ia menjadi penyair rahasia—menulis puisi hanya untuk satu orang: Gwen, kekasihnya yang tinggal di Bandung, terpisah tiga jam perjalanan kereta.
Mereka bertemu dua tahun lalu di seminar sastra. Gwen, ilustrator freelance, langsung mencuri hatinya dengan senyum dan sketsa cepat di buku catatan.
Kini hubungan jarak jauh membuat Aryya rindu setiap malam. Ia tak pernah membagikan puisinya pada siapa pun kecuali angin kota—membaca keras di depan jendela terbuka, membiarkan hembusan AC dan angin malam membawa kata-katanya ke selatan, ke arah Gwen.
"Bawalah ini untuknya," bisik Aryya setiap kali.
Suatu malam hujan deras, angin masuk lebih ganas. Lampu berkedip, buku catatan puisinya terbuka sendiri. Halaman kosong mulai terisi tulisan tangan—tulisan Gwen yang ia kenal betul.
Saat hujan reda, Aryya mendekat. Di halaman itu ada sketsa wajahnya sendiri yang digambar Gwen: mata lelah setelah mengajar, dan di lehernya tanda merah kecil seperti bekas ciuman terakhir mereka. Di bawah sketsa, sebuah puisi baru yang jelas ditulis Aryya untuk Gwen, tapi kini dibalas dengan coretan kecil di pinggir: "Aku dengar semua."
Tu Deviens Poésie
Kau adalah perempuan yang menyatukan seluruh kepingan kegilaanku. Jangan lepaskan bibirmu! Karena lehermu sudah kutandai dengan bibirku.
Wahai perempuan yang mengantarkan sungai kepada samudera. Di sana burung-burung lapar mencari makan, menggurdi kesedihan yang berenang kencang di mata cokelatmu.
Arus laut itu bergelombang. Kau tahu, sebenarnya mereka lebih lembut daripada keinginan angin. Mereka juga sering membawa kejutan-kejutan kecil
Jauh dari sini aku serupa bunga yang dihinggapi ramarama.Mengira-ngira apakah saripatinya bisa kita simpan berdua.
O, perempuanku, bulan sabit separuh membeku. Dan kita berdua sedang dipenuhi bau matahari. Tapi, kau malah memohon untuk mencium keningmu.
Ponsel Aryya bergetar. Pesan dari Gwen: "Kereta terakhir tiba jam 11 malam. Aku di stasiun Gambir. Angin bilang kau rindu."
Aryya buru-buru turun, naik taksi di tengah hujan. Di stasiun, Gwen berdiri basah kuyup, tas ransel di punggung, payung rusak di tangan. Tanda merah di lehernya masih samar dari perjumpaan terakhir.
"Kau dengar puisiku?" tanya Aryya pelan.
Gwen tersenyum, mendekat. "Setiap malam. Angin Bandung membawanya ke kamarku."
Mereka pulang bersama malam itu. Sejak saat itu, Aryya masih mengajar pagi hari, tapi malamnya tak lagi sendirian. Gwen pindah ke Jakarta. Mereka menulis puisi bersama, membacanya keras di depan jendela—tak lagi meminta angin membawa, karena Gwen sudah ada di sampingnya, tangan saling genggam.
Tahun-tahun berlalu di apartemen kecil lantai 15 itu. Gwen kini bekerja sebagai ilustrator untuk penerbit buku anak-anak di Jakarta, sementara Aryya tetap mengajar di SMA yang sama. Malam mereka dipenuhi tawa dan coretan pena—puisi Aryya menjadi lebih hidup dengan ilustrasi Gwen yang lembut, penuh warna pastel.
Suatu hari, sebuah penerbit besar menghubungi mereka. "Kami ingin menerbitkan buku puisi-ilustrasi kalian," kata editor lewat telepon. Judulnya mereka pilih sendiri: "Diceritakan Angan kepada Angin". Buku itu lahir dari kumpulan puisi lama Aryya yang dulu dibisikkan pada angin, kini dibalas dengan gambar-gambar Gwen yang seperti mimpi.
Peluncuran buku diadakan di sebuah kafe sastra di Kemang. Ruangan penuh pembaca, penyair muda, dan teman-teman lama dari seminar sastra dulu.
Aryya membaca puisi pertamanya dengan suara mantap, Gwen berdiri di samping, memegang tangannya erat. Saat Aryya membaca baris "Tu Deviens Poésie", mata Gwen berkaca-kaca. Penonton terdiam, terbawa angin kata-kata yang pernah melintasi kota.
Buku itu laris. Ulasan di media memuji keajaiban hubungan jarak jauh yang berubah menjadi kedekatan abadi. Mereka diundang ke festival sastra di Yogyakarta, Bali, bahkan Singapura. Di setiap perjalanan, mereka selalu membawa buku catatan kecil—kebiasaan lama. Malam di hotel, mereka membaca puisi baru di balkon, angin tropis membelai rambut mereka seperti dulu.
Tapi kehidupan tak selalu lembut. Ada masa Gwen sibuk deadline, Aryya lelah dengan siswa-siswa remaja yang sulit diatur.
Pertengkaran kecil muncul—tentang waktu, tentang ruang. Suatu malam, Aryya kembali membuka jendela lebar, membaca puisi sendirian seperti dulu. "Bawalah ini untuknya," bisiknya pada angin.
Pagi harinya, Gwen mendekat di dapur, memeluk dari belakang. "Aku dengar lagi semalam," katanya lembut. "Jangan biarkan angin yang membawa. Katakan langsung padaku."
Mereka belajar lagi: cinta bukan lagi tentang jarak atau angin pembawa pesan, tapi tentang keberanian bicara. Buku kedua mereka lahir dari itu—"Angin Berhenti Berbisik"—lebih dalam, lebih jujur.
Kini, di apartemen yang sama, mereka masih duduk di depan jendela setiap malam Minggu. Bukan untuk mengirim puisi, tapi untuk membacanya bersama. Angin Jakarta terus berhembus, tapi kini hanya membawa aroma kopi dari cangkir mereka, dan tawa yang tak pernah pudar.