Dua hari ini Sudiyono lembur membuat nisan. Selama ia menjadi pembuat nisan, baru kali ini ia bekerja di malam hari. Sudiyono merasa tubuhnya mendapatkan asupan tenaga, di setiap keinginan menyudahi menggarap nisan muncul.
Pada hari kemarin, Sudiyono menghentikan pekerjaannya tepat pukul setengah dua belas malam. Itu pun berkat imbauan anaknya, Shabran, agar ia berhenti.
Kepada Sudiyono, Shabran bertanya, “Apakah ada orang yang memesan nisan, dan disuruh segera untuk menyelesaikan?”
Sudiyono mengatakan kalau tiga hari yang lalu, seorang lelaki telah datang ke rumah. Penampilan sang tamu tampak sederhana, tapi begitu rapi. Sorot matanya teduh, wajahnya penuh karisma.
“Ia memesan nisan, dan menuntut bapak agar secepat mungkin diselesaikan. Saat bapak tanya, cepat yang dimaksud itu berapa hari, ia hanya kembali berkata, pokoknya secepatnya,” jelas Sudiyono.
“Masa tidak menyebutkan berapa harinya?” tanya Shabran dengan nada mengelak.
“Ya, ya... yaa... begitu,” jawab Sudiyono gagap.
“Terus?”
“Bapak sanggupi saja. Soalnya bapak ingat, dua minggu lagi paling lambat bayar uang SPP, sedangkan uang yang ada sekarang masih kurang kalau untuk bayar. Lagi pula, sudah seminggu tidak ada satu pun orang yang mampir ke sini, selain orang itu. Bapak juga tidak tahu kenapa.”
“Kenapa bapak tidak berpikir panjang? Bagaimana jika orang itu tidak kembali-kembali, sedang nisan yang bapak buat sudah jadi? Bapak tidak meminta nomor telepon atau alamat rumahnya?”
“Bapak yakin, orang itu pasti akan kembali. Dari perkataannya kepada bapak, ia sangat butuh sekali nisan. Bapak yakin orang itu serius.”
“Hanya terlihat butuh, bapak yakin? Dia memberikan bapak uang muka kan?” tanya Shabran.
“Tidak. Dia tidak memberikan.”
“Bagaimana bapak ini? Seharusnya kejadian di bulan yang lalu memberikan bapak pelajaran, dan bapak ingat dengan hal itu. Hingga sekarang, orang yang memesan tidak datang-datang bukan? Padahal sudah lewat dari hari perjanjian, dan bapak belum dibayar juga. Dan sekarang belum dibayar lagi. Mengapa bapak, tidak...”
“Itu bapak lagi apes saja. Lagi pula masih mungkin juga kan, besok orang itu akan datang untuk mengambil? Berdoa saja, orang itu masih akan datang. Atau berdoa, supaya nisan pesanannya yang bapak buat, ada orang lain yang membeli. Sudah, jangan dibuat ribet masalah itu.”
“Jengkelnya aku sama bapak ya di sini. Bapak terlalu lugu, terlalu menaruh prasangka baik kepada orang lain.”
“Kalau terus curiga, justru itu membuat hati tidak tenang. Menambah masalah kan?”
Di depan rumah Sudiyono, terdapat tempat berteduh yang beratap seng. Di situlah nisan-nisan buatannya diletakkan untuk dijual. Nisan-nisan itu tidak pernah Sudiyono pindah-pindahkan.
Ia sama sekali tidak takut jika kemalingan, toh nyatanya selama ini ia sama sekali belum pernah kemalingan. Hampir seluruh nisan yang Sudiyono buat, berbahan dasar dari semen.
Bukan berarti Sudiyono tidak pernah memahat batu untuk dijadikan nisan. Sudiyono hanya melakukannya satu dua kali saja, sebab atas dasar pertimbangan lebih repot tidaknya mengangkat garapan yang sudah jadi.
Hari ini nisan pesanan sudah jadi. Sudiyono merasa ada berlembar-lembar kain sutra mengelap hatinya. Dari pertama kali membuat nisan hingga kini, baru sekarang ini ia mengalami perasaan bahagia yang berlebihan.
Dipandanginya nisan itu. Nisan itu berwarna hitam, dengan bintik-bintik putih yang berasal dari pecahan-pecahan semacam batu.
Sudiyono tidak sabar, ia ingin orang yang memesan nisan segera datang. Aneh. Tetapi tentu saja, bagi Sudiyono, hal itu tidaklah aneh, meskipun baru pertama kalinya ada perasaan seperti itu; begitu antusias setelah nisan garapannya selesai.
Sudiyono tidak bisa memejamkan sepasang matanya kala malam tiba. Andaiannya mengembara kepada hari esok. Dalam kepalanya, orang itu datang untuk mengambil nisan, lalu tersenyum puas, dan Sudiyono ikut orang tersebut ke atas mobil untuk menaik-turunkan nisan—mengantarkan nisan.
Kemudian Sudiyono memutar kembali ingat, tentang percakapan-percakapan di hari kedatangan orang itu ke kediamannya untuk memesan nisan.
***
Sang pemesan nisan tiba di rumah Sudiyono pagi-pagi sekali. Ia mengenakan pakaian dengan warna putih, dan begitu rapi. Wajahnya begitu bersih, memancarkan sinar—tampak lebih bersih dan bersinar dari kedatangannya yang pertama kali.
Serupa yang Sudiyono andaikan, orang itu memintanya untuk membantunya mengangkat nisan pesanannya ke atas bak mobil dan mengantarkan untuk kembali menurunkan nisan—orang itu datang sendirian.
“Ibumu dijaga. Bapak ngantar nisan dulu, tidak tahu pulangnya kapan,” kata Sudiyono begitu mesin mobil menyala, dan Shabran muncul di bingkai pintu.
Shabran rupanya tidak begitu memperhatikan perkataan Sudiyono, bahkan pemesan yang mengemudikan mobil itu. Shabran hanya bilang, “Hati-hati, Pak.”
Mobil berjalan. Sudiyono duduk di atas mobil, di samping nisan. Tiba-tiba muncul semburat gelisah di wajahnya. Mengapa ia tidak menjelaskan kepada anak dan istrinya, bila sebentar lagi, sesuatu akan terjadi padanya?
Mulut Sudiyono terkatup, ia tidak bisa menyuruh pemesan itu untuk menghentikan mobilnya. Sesungguhnya ada percakapan yang tidak diketahui oleh Shabran dan istrinya—pada saat orang itu datang ke rumahnya, keduanya memang tidak sedang di rumah.
Sudiyono sengaja menyembunyikannya di tengah kebahagiaannya saat itu. Sudiyono menjadi menyesalkan mengapa ia begitu bahagia, sehingga tidak memikirkan perasaan anak dan istrinya? Seharusnya ia tidak berbahagia secara berlebihan karena keinginannya bakal terjadi. Sudiyono terpaksa menciptakan kebohongan di depan Shabran dan istrinya.
“Jadi sekiranya Anda tahu, maksud dari kedatangan saya kemari,” ucap orang itu.
“Saya mengerti... Saya sungguh sangat senang sekali dengan kehadiran Anda. Saya menginginkan hal ini...”
“Apakah Anda sudah bosan hidup dengan anak-istri? Atau bosan terhadap sesuatu di kehidupan ini?”
“Oh, tidak. Saya juga mengharapkan bisa lebih lama di dunia. Hanya saja, ketika saya melihat hal-hal di sekitar saya, harapan itu saya musnahkan sendiri. Saya bertanya, apa saya cukup yakin bisa bertahan dengan keadaan saya? Bukannya saya mau menyombongkan keimanan saya, tetapi pertanyaan itu selalu muncul. Maka saya takut.”
Sudiyono memang terkenal di kampungnya, sebagai orang yang rajin beribadah. Hampir setiap tiba waktunya beribadah, ia selalu pergi ke masjid. Ia juga terkenal gemar bersedekah. Singkatnya, ia terkenal sebagai orang yang alim.
“Baik. Sebagai keseriusan Anda menginginkan kepergian itu, oleh Tuhan Anda disuruh membuat nisan untuk Anda sendiri. Tanda bila waktunya sudah tiba, saya akan menjemput Anda, dan sekaligus membawa nisan itu bersama saya.”
“Untuk apa nisan? Bukankah nisan itu baru dipasang setelah seribu hari setelah kepergian?”
“Saya tidak tahu. Kerjakan saja. Ini perintah Tuhan.”
“Apakah ada pesan yang lain?” tanya Sudiyono.
“Ada.”
“Apa?”
“Jangan beritahukan kepada anak dan istri Anda bila akan pergi. Buatlah keadaan seakan normal. Bagaimanapun caranya.”
Sudiyono benar-benar menciptakan keadaan yang normal. Imbas dari orang itu, Sudiyono menjadi berbohong kepada Shabran dan istrinya jika nisan yang sedang ia buat merupakan pesanan yang harus cepat diselesaikan.
Nisan itu sejatinya untuk dirinya sendiri. Tidak ada sama sekali pertanyaan-pertanyaan; akan diletakkan di mana nisan itu begitu sepeninggalnya—rasa-rasanya lucu bila langsung dibawa ke kuburan dan digunakan? Dengan cara seperti apa ia menghadap Tuhan? Apakah nanti orang itu akan menusuknya, lalu membawa nyawanya? Atau mobil ini akan mengantarnya ke jurang?
Sekali lagi, tidak ada sama sekali pertanyaan-pertanyaan yang saling tindih di kepalanya. Di kepalanya, hanya ada wajah istri, anak, kematian, dan nisan. Sementara mobil terus melaju, tanpa Sudiyono tahu, kapan kendaraan itu akan berhenti.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS