Lara dan Raka: Tentang Kopi Pahit dan Tatapan yang Tidak Memaksa

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Lara dan Raka: Tentang Kopi Pahit dan Tatapan yang Tidak Memaksa
ilustrasi perempuan dan secangkir kopi (Pexels/Sinitta Leunen)

Lara dan Raka tidak pernah sedikit pun mencari cara untuk mendekat. Hanya melalui kopi pahit dan tatapan yang tidak memaksa, tercipta celah rasa yang hangat.

***

Setiap pukul empat sore, aku selalu datang ke kafe itu. Aku memilih meja yang sama, meja dekat jendela paling ujung. Bukan karena paling nyaman, melainkan karena dari sana aku bisa melihat jalanan tanpa benar-benar terlibat di dalamnya. Orang-orang berlalu, hidup terus berjalan, dan aku cukup duduk diam sambil memegang cangkir.

“Americano. Tidak perlu beri aku gula ekstra.”

Aku selalu memesan itu. Bukan karena selera, melainkan karena rasa pahit terasa lebih jujur untukku. Tidak berusaha menyenangkan, tidak menjanjikan apa pun. Sama seperti cinta setelah patah hati yang terlalu dalam, aku tidak lagi percaya pada rasa manis yang datang terlalu cepat.

Aku tahu barista itu mengingat pesananku. Bahkan, sebelum aku selesai bicara, ia sudah mengangguk kecil seolah paham bahwa aku lagi-lagi memesan kopi yang sama dan tidak akan berubah. Gerakannya tenang, matanya ramah, tetapi tidak berlebihan. Ia tidak pernah mencoba mengajakku mengobrol lebih jauh, dan justru itulah yang membuatku merasa aman.

Aku tidak datang ke kafe untuk dikenali; aku datang untuk bernapas. Namun, entah sejak kapan, aku mulai menyadari satu hal: tatapan lelaki di balik mesin pembuat kopi itu. Bukan tatapan yang membuat risih, melainkan seperti seseorang yang mengerti arti sebuah jarak. Ia melihatku, tetapi tidak menuntut apa pun dariku.

Aku sering berpikir, mungkin aku hanya terlalu sensitif. Atau, mungkin luka lama membuatku bisa membaca hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Namun, perasaan itu tetap tinggal—hangat, kecil, dan tidak mengganggu.

Suatu hari, keramahannya tidak lagi ditahan dalam diam. Ia bertanya dengan lembut, “Kenapa selalu kopi pahit?”

Aku terkejut. Bukan karena pertanyaannya, melainkan karena caranya bertanya yang pelan, tanpa rasa ingin tahu yang memaksa. Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan seseorang yang seharusnya asing melihat mataku lebih lama.

“Karena hidup sudah cukup manis dengan kebohongan,” jawabku.

Aku tersenyum, tetapi aku tahu senyum itu tidak akan sepenuhnya sampai ke mata. Aku terbiasa begitu; menyimpan keretakan di balik ekspresi tenang, membiarkan orang sulit menerka apa yang ada dalam pikiranku, juga alasan dari senyumku.

Semenjak hari itu, ia tidak pernah bertanya lagi. Anehnya, hal itu justru membuatku ingin tinggal sedikit lebih lama setiap sore. Aku bahkan mulai datang bukan hanya karena kopi, melainkan karena suasana kafe ini, bahkan karena kehadirannya yang konsisten.

Ia tidak berubah, tidak menjadi lebih dekat, tidak pula menjauh. Ia hanya ada. Untuk seseorang yang pernah mencintai terlalu dalam lalu ditinggalkan tanpa penjelasan, kehadiran seperti itu terasa sangat langka.

Aku sering bertanya-tanya, apakah ia tahu bahwa kopi pahit adalah caraku bertahan? Bahwa aku pernah mencintai seseorang yang datang seperti gula—manis di awal, lalu larut dan hilang—menyisakan rasa getir yang menempel lama.

Aku tidak siap untuk mengulang cerita itu. Hingga suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Kafe sepi. Aku duduk lebih lama dari biasanya, menatap air yang mengalir di kaca jendela. Rasanya seperti menonton perasaanku sendiri; jatuh, dan terus terjatuh.

Ia datang dan meletakkan secangkir kopi di hadapanku.

“Aku tidak pesan,” kataku.

“Gratis. Dari owner.”

Aku mengernyit. “Owner?”

Ia tersenyum, sedikit malu. “Iya.”

Entah kenapa, aku tertawa. Ringan dan jujur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa tanpa merasa bersalah.

“Kenapa?” tanyaku.

Ia menarik napas sebentar. “Karena aku percaya, kopi pahit tidak selalu harus diminum sendirian.”

Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan. Namun, dadaku terasa hangat, seolah-olah ada bagian dari diriku yang lama membeku kini mulai mencair. Aku menatapnya lama. Jujur, tanpa topeng.

“Aku belum siap untuk yang manis,” kataku pelan.

Ia mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku juga tidak meminta.”

Hujan masih turun. Kafe tetap sunyi. Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada janji. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian dengan rasa pahitku. Dan mungkin, cinta pandangan pertama memang tidak selalu datang dengan degup yang meledak-ledak.

***

Kadang, ia hadir dengan pelan;

duduk di seberang meja,

menemani tanpa memaksa,

dan membiarkan pahit menjadi cerita, bukan lagi luka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak