Riuh Ibadah di Ramadan: Penuh Suara, Tapi Seberapa Dalam Maknanya?

Bimo Aria Fundrika | Angelia Cipta RN
Riuh Ibadah di Ramadan: Penuh Suara, Tapi Seberapa Dalam Maknanya?
Ilustrasi Ramadhan dan rutinitas Photo by khats cassim:

Setiap Ramadan, pemandangan yang sama kembali hadir dengan wajah yang nyaris seragam. Masjid-masjid penuh sesak. Saf salat merapat rapi. Jadwal kajian bertambah padat. Media sosial dipenuhi potongan ayat, nasihat ulama, dan foto-foto aktivitas ibadah.

Ramadan seolah menjadi bulan paling religius dalam kalender umat. Namun, di balik semua itu, muncul pertanyaan yang tak pernah benar-benar usai: mengapa perubahan sikap sosial kita sering kali tak sebanding dengan peningkatan aktivitas ibadah?

Bulan puasa seharusnya bukan sekadar momentum ritual, melainkan ruang pendidikan moral. Puasa, dalam makna terdalamnya, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih kejujuran, empati, dan pengendalian diri.

Ironisnya, justru di bulan yang menjanjikan pelembutan hati ini, kita masih mudah menemukan kemarahan di jalanan, kebohongan kecil di tempat kerja, ujaran kasar di media sosial, hingga sikap abai terhadap penderitaan sesama.

Masjid memang penuh, tetapi apakah hati kita ikut terisi dengan nilai-nilai baik?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan ibadah siapa pun, melainkan untuk mengajak bercermin bersama. Kita perlu jujur mengakui bahwa sering kali ibadah dijalankan sebagai rutinitas tahunan, bukan sebagai proses transformasi.

Salat tarawih dilakukan dengan disiplin, tetapi setelahnya kita masih dengan ringan menyakiti orang lain lewat kata-kata. Puasa dijalani sebulan penuh, tetapi empati terhadap yang lapar dan terpinggirkan hanya bertahan sesaat.

Di sinilah persoalan konsistensi moral menemukan relevansinya. Ibadah sejatinya tidak berhenti di sajadah. Ia semestinya menjalar ke cara kita bersikap, berbicara, bekerja, dan memperlakukan sesama. Jika Ramadan berlalu tanpa meninggalkan jejak perubahan dalam keseharian, maka patut dipertanyakan apa yang sebenarnya kita puasakan, jika kita masih mendekati perbuatan yang dilarang.

Puasa adalah ibadah yang sunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang jujur menahannya, kecuali dirinya sendiri. Di situlah nilai pendidikannya terletak. Puasa melatih integritas—kualitas moral yang tetap teguh meski tak diawasi.

Namun ironi muncul ketika ibadah yang paling personal ini justru tidak melahirkan pribadi yang lebih bertanggung jawab secara sosial.

Kita masih kerap menyaksikan dalih puasa dijadikan pembenaran untuk bermalas-malasan, datang terlambat, atau bersikap kasar. Seolah menahan lapar menjadi alasan sah untuk menanggalkan etika. Padahal, jika puasa benar-benar bekerja di batin, yang lahir justru sebaliknya: kesabaran yang lebih panjang, tutur kata yang lebih terjaga, dan kepekaan yang lebih tajam.

Ramadan juga sering terjebak dalam simbolisme. Masjid yang ramai menjadi ukuran keberhasilan spiritual, sementara perubahan sikap dianggap urusan pribadi. Kita merasa telah menunaikan kewajiban ketika ritual selesai, tanpa merasa perlu mempertanyakan dampaknya. Padahal, agama tidak pernah berhenti pada simbol. Ia selalu menuntut konsekuensi etis.

Masjid yang penuh seharusnya melahirkan lingkungan sosial yang lebih adil dan beradab. Jika doa-doa kita tulus, semestinya ia membentuk keberanian untuk jujur, meski sulit. Jika bacaan ayat-ayat suci kita hayati, semestinya ia menumbuhkan kepedulian terhadap yang lemah. Ibadah yang tidak berbuah pada perilaku berisiko berubah menjadi formalitas kosong—indah secara tampilan, hampa secara makna.

Kritik ini bukan ajakan untuk sinis terhadap ritual, melainkan seruan agar ibadah dikembalikan pada ruhnya. Konsistensi moral adalah jembatan antara masjid dan realitas. Tanpa jembatan itu, ibadah akan terkurung di ruang sakral dan tak pernah menyentuh ruang sosial.

Ramadan memberi kita kesempatan langka untuk berlatih konsistensi tersebut. Selama sebulan penuh, kita diajak mengendalikan diri secara intensif. Pertanyaannya bukan seberapa khusyuk kita di masjid, tetapi seberapa jujur kita di luar masjid. Bukan seberapa panjang doa kita, tetapi seberapa adil sikap kita. Bukan seberapa sering kita mengutip ayat, tetapi seberapa sungguh kita mempraktikkannya.

Jika Ramadan berakhir dan kita kembali pada kebiasaan lama—amarah yang mudah meledak, empati yang tumpul, kejujuran yang lentur—maka barangkali yang berubah hanya jadwal ibadah, bukan kualitas kemanusiaan.

Masjid yang penuh adalah kabar baik. Namun hati yang terisi nilai adalah kabar yang jauh lebih penting. Ramadan akan selalu datang setiap tahun, tetapi kesempatan untuk benar-benar berubah tidak selalu kita ambil.

Maka, sebelum bulan ini pergi, ada baiknya kita bertanya dengan jujur: apakah ibadah kita telah menyentuh hati, atau sekadar memenuhi ruang? Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan Ramadan bukanlah keramaian masjid, melainkan seberapa manusiawi kita setelahnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak