Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang tak pernah tidur, terdapat sebuah apartemen tua bernama Tower Ebon, menjulang seperti monumen yang terlupakan di antara gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan. Malam itu, langit cerah bertabur bintang, tapi angin malam yang kering membuat udara terasa berat, seperti napas yang tertahan.
Elena, seorang arsitek berusia 32 tahun, baru saja pindah ke lantai 13 apartemen itu setelah perceraian yang menyakitkan. Dia memilih tempat ini karena harganya murah dan dekat dengan kantornya, meski bangunan itu punya reputasi aneh—beberapa penyewa lama bilang ada "suara-suara" di malam hari.
Elena menutup pintu apartemennya dengan suara klik yang bergema di koridor sepi. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya neon dari jendela yang menghadap ke jalan raya di bawah. Dia melempar tasnya ke sofa dan menyalakan lampu, tapi bola lampu itu berkedip-kedip sebelum mati total.
"Sial," gumamnya, meraih ponsel untuk cahaya sementara.
Apartemen itu kecil: satu kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan dapur, dan kamar mandi yang lembab. Dindingnya retak-retak, seolah menyimpan rahasia tahun-tahun lalu.
Malam pertama berlalu biasa saja. Elena tidur lelap, meski mimpi buruk tentang mantan suaminya menyelinap masuk. Tapi pada malam kedua, saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari, dia terbangun oleh suara samar.
Bisikan. Awalnya, dia pikir itu angin yang menyusup melalui celah jendela, tapi angin malam itu tenang, tanpa hembusan apa pun. Bisikan itu seperti suara manusia, tapi terdistorsi, seperti berasal dari radio rusak. "Kembali... kembali..." kata-kata itu menggema di telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri.
Elena duduk di tempat tidur, jantungnya berdegup kencang. Ruangan gelap pekat, cahaya kota di luar jendela seolah tertelan kegelapan di dalam. Dia menyalakan lampu samping tempat tidur—masih mati. Ponselnya menunjukkan sinyal penuh, tapi saat dia coba hubungi teman, panggilan putus.
Bisikan itu datang lagi, lebih jelas sekarang. "Dia tahu... dia tahu apa yang kau lakukan..." Elena menggelengkan kepala, meyakinkan diri itu halusinasi dari stres. Dia bangun, berjalan ke dapur untuk minum air. Saat tangannya menyentuh gelas, bisikan itu berubah menjadi tawa pelan, seperti anak kecil yang bermain petak umpet.
Pagi harinya, Elena bertanya pada tetangga di lantai bawah, seorang pria tua bernama Mr. Hargrove yang tinggal sendirian.
"Suara? Oh, ya, bisikan itu," katanya sambil tersenyum tipis, matanya gelap seperti sumur. "Apartemen ini dulunya rumah sakit jiwa, tahu? Tahun 1950-an. Banyak pasien mati di sini, katanya karena eksperimen dokter gila. Bisikan itu... mungkin jiwa mereka yang belum pergi."
Elena tertawa gugup, menganggap itu cerita lama. Tapi malam itu, saat matahari terbenam dan kegelapan menyelimuti kota, bisikan kembali.
Kali ini, lebih dekat. Elena sedang mandi, air panas mengalir di tubuhnya, tapi tiba-tiba air menjadi dingin seperti es. Bisikan datang dari balik tirai shower: "Lihat... lihat ke cermin..." Dia keluar, tubuh basah kedinginan, dan menatap cermin yang berembun.
Saat dia usap embun itu, bayangan samar muncul di baliknya—sebuah wajah pucat dengan mata hitam kosong. Elena berteriak, mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Wajah itu hilang, tapi bisikan berlanjut: "Kau bukan yang pertama... kau takkan yang terakhir..."
Dia tak bisa tidur malam itu. Duduk di sofa dengan selimut menutupi tubuh, Elena mencoba riset di ponsel. Artikel lama muncul: Tower Ebon dulunya Asylum Ebon, tempat dokter bernama Dr. Silas melakukan lobotomi ilegal pada pasien. Satu pasien, seorang wanita bernama Clara, mati setelah prosedur gagal.
Clara konon bisik-bisik rahasia pasien lain sebelum mati. Elena merinding. Apakah itu Clara? Bisikan semakin intens, sekarang seperti suara Clara: "Aku tahu rahasiamu, Elena... perceraian itu bukan karena dia selingkuh... kau yang membunuhnya..."
Elena tersentak. Tak ada yang tahu rahasia itu. Mantan suaminya, Mark, mati dalam kecelakaan mobil, tapi Elena yang memotong rem mobilnya setelah tahu dia selingkuh. Polisi bilang kecelakaan, tapi Elena tahu kebenarannya. Bisikan itu tahu.
"Kau pembunuh... pembunuh..." Suara itu datang dari segala arah, dari dinding, dari lantai, dari langit-langit. Elena menutup telinga, tapi bisikan merayap masuk ke pikirannya.
Dia berlari ke pintu, tapi pintu terkunci dari luar. Kegelapan di koridor seolah hidup, bayangan memanjang seperti tangan yang meraih. Elena kembali ke kamar, menyembunyikan diri di bawah tempat tidur.
Bisikan menjadi jeritan pelan: "Gabunglah denganku... di kegelapan..." Tiba-tiba, cahaya ponsel mati, meninggalkan kegelapan total. Elena merasakan sentuhan dingin di kakinya—jari-jari kurus yang menariknya keluar.
Dia berjuang, tapi kegelapan menelan. Pagi harinya, tetangga menemukan pintu apartemen terbuka, ruangan kosong. Elena hilang, tapi di dinding tertulis dengan darah: "Bisikan selamanya." Mr. Hargrove tersenyum, mengetahui rahasia bangunan itu. Bisikan berlanjut, menunggu penyewa berikutnya.