Panik! Mobil Mogok di Hutan Kecil yang Terkenal Wingit

M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Panik! Mobil Mogok di Hutan Kecil yang Terkenal Wingit
ilustrasi hutan (Pixabay/bertvthul)

Ada satu tempat di Desa T yang banyak dirumorkan sebagai tempat berhantu oleh penduduk. Dan, setelah satu pengalaman ini, aku percaya.

Tempat itu sendiri sebetulnya mirip kebun liar atau bahkan hutan kecil yang ditumbuhi pepohonan heterogen, dan kanopi dahan-dahannya sukses menghalau sinar matahari. Dedaunan kering dibiarkan hancur dengan sendirinya, menjadi humus sekaligus menciptakan aroma kesegaran khas yang berpadu dengan tanaman paku-pakuan.

Konon, tempat itu aslinya merupakan tanah milik beberapa orang. Namun, aku tidak tahu pasti.

Nah, uniknya, jalan yang melewati tempat itu menurun ke arah selatan, dan terdapat satu pohon beringin tua dengan akar-akar menjuntai yang tumbuh di tepian parit kecil. Meski agak disayangkan, saat ini air sudah tidak mengaliri parit tersebut. Kalau boleh kukatakan, di siang hari tempat itu teduh, rindang, segar, dan memanjakan mata. Kalau malam? Mending lewat jalur lain saja.

“Oh, suamiku pernah dapat kerja nebang kayu di tempat itu. Pas petang belum kelar, eh ada suara nyuruh pulang.”

“Oh, aku pernah kewat situ pas habis isya, ada aroma ubi bakar.”

"Kalau kata anak tetanggaku, ada ular besar bertanduk yang melingkari pohon beringin itu."

“Wah, kalian berani lewat situ? Aku sih mending putar balik.”

Dan sekian cerita-cerita penduduk mengenai betapa wingitnya lokasi tersebut.

Aku sendiri cukup manggut-manggut karena vibes tempat itu memang cukup seram bagiku kalau siang-siang lewat sendirian. Ditambah lagi, jaraknya dengan rumah-rumah penduduk ada beberapa ratus meter jauhnya. Sebab, zaman Ujian Nasional SD dulu, aku harus ‘nebeng’ lokasi ke SD Desa S, dan jalan satu-satunya ya lewat sini.

“Mbak, ayok ikut bapak,” ajak bapakku suatu hari.

“Kemana, Pak?” tanyaku saat mendapati sorot mata usil Bapak.

“Sudah, ikut saja.”

Aku ragu. Apalagi saat ini sudah jam lima sore. Aku hanya khawatir kalau Bapak mengajak berpetualang melewati lokasi-lokasi wingit alias angker, sebab tahu anaknya ini penakut.

Pernah suatu kali aku diajak berkeliling naik motor pada sore hari, dengan rayuan dibelikan bakso, mi ayam, es campur, dan segala jajan yang kuinginkan. Namun apesnya, Bapak justru mengambil jalan yang membelah area persawahan, bahkan membelah suatu pemakaman, dengan makam baru bertabur bunga.

"Sudah, ikut saja. Kita jalan-jalan keliling kampung. Janji nggak lewat jalan di pemakaman waktu itu deh."

Jadilah aku ikut Bapak menaiki mobil tuanya, dan kami meluncur ke arah lapangan Desa T. Rupanya, Bapak berniat mengajariku menyetir.

Bapak menjelaskan skematis menyetir mobil manual karena mobil Bapak bukan matic. Beliau juga memberikan contoh dan menungguiku dengan sabar saat aku harus menginjak pedal gas bersamaan dengan melepaskan pedal kopling pelan-pelan. Dalam beberapa percobaan, aku gagal.

Aku tahu Bapak kadang punya pemikiran unik. Termasuk mengajariku menyetir saat aku masih kelas 5 SD.

“Pak, pulang yok. Ini sudah mau maghrib,” rengekku saat jejak-jejak malam mulai tampak.

“Kamu takut ya?”

Aku cengengesan. “Pulang saja yok. Kapan-kapan belajar lagi.”

Bapak setuju. Jadilah kami meninggalkan lapangan Desa T yang juga memiliki pohon beringin dengan segudang rumor horornya.

Anehnya, saat kami mencapai spot kebun luas bak hutan heterogen kecil dan parit mati sebagaimana yang kumaksud di atas, mobil mendadak mogok. Mati mesin. Distarter beberapa kali tetap tidak menyala, sedangkan petang mulai gelap.

“Lho, mogok, Mbak,” kelakar Bapak sambil tertawa. “Bentar kucek dulu.”

Bapak lalu turun dan membuka kap mobil, sebelum sibuk entah melakukan apa. Beberapa kali distarter, mesin tetap tidak mau menyala. Jalanan ini sudah sepi sekali.

Sebetulnya tidak ada suara apa pun, atau aroma-aroma apa pun sebagaimana rumor yang kudengar. Namun, keadaan kami terjebak dengan mobil mogok dan jauh dari permukiman saja sudah ngeri. Sejak tadi, tidak ada satu pun orang lewat.

“Sudah bisa belum, Pak?” tanyaku terdengar panik.

Bapak masih tersenyum santai. “Dikit lagi ini. Sabar dulu ya.”

"Tapi, bisa kan, Pak?"

"Bisa dong. Bapak kan pinter."

Oke, kuakui Bapak memiliki skill menenangkan orang dengan kata-katanya yang tenang dan kalem. Namun, kalau memikirkan kembali situasi kami yang macam terisolasi begini, mungkin benarlah ungkapan bahwa hari apes tidak ada di kalender.

Pun saat Bapak memintaku mencoba menstarter mobil ketika beliau masih sibuk dengan mesin, masih gagal juga. Sekilas, ada sorot mata khawatir, ragu, dan bingung yang kutangkap dari ekspresi Bapak.

Aslinya aku sudah mau menangis. Apalagi situasi hutan kecil ini betul-betul gelap gulita, dan entah mengapa terlihat menyeramkan. Aku panik, meski sudah meringkuk di jok mobil sambil menutup mata rapat-rapat.

"Oh, sudah bisa. Kita gas pulang," pekik Bapak terdengar lega.

Tepat saat kumandang azan terdengar, mesin mobil berhasil menyala. Dan Bapak segera menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil melaju kencang. Nguengg...

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak