Aku takut dengan kuburan sebenarnya. Sementara banyak dari teman-temanku yang sering bermain layang-layang di kuburan, sebab di kota tidak ada tanah lapang—sekalinya ada jaraknya jauh. Karena tidak mau bermain layang-layang sendiri di pinggir jalan, aku menjadi sering terpaksa ikut mereka di kuburan. Walau dengan rasa takut.
Tanpa teman-temanku ketahui, di dalam kuburan aku sesungguhnya merinding dan menahan rasa takut. Nisan-nisan yang berjejer, belum lagi gundukan tanah kuburan yang masih baru, selalu dapat membuatku membayangkan hal buruk. Tiba-tiba saja dari sana keluar mayat yang dibalut oleh kain putih seperti yang terjadi di film-film.
Teman-temanku tidak mau bermain di pinggir jalan, sebab menurut mereka bermain layang-layang di pinggir jalan akan membahayakan diri sendiri. Setiap pulang dari bermain layang-layang, selalu diliputi oleh sosok hantu berupa pocong. Dan itu membuatku takut untuk pergi ke kamar mandi. Beruntung ibu bisa memahami keadaanku dan sering menemani sampai di dekat sumur, meski kadang mengejek juga.
Pernah suatu ketika, aku bermain layang-layang di kuburan, hingga hampir magrib. Dan suasana mendadak mendung. Sangat pekat sekali awan di atas. Saat masing-masing berhasil menurunkan layang-layang, hujan turun. Langsung deras. Aku dan teman-temanku terpaksa berteduh. Di rumah terbuka yang menaungi sebuah nisan berukuran besar. Hanya itu satu-satunya tempat berteduh yang paling dekat dengan kami menurunkan layang-layang. Sekitar lima belas meter dari aku dan teman-temanku berteduh, sesungguhnya ada tempat berteduh juga, sama ada nisannya.
Petir yang menyambar-nyambar menambah suasana menjadi semakin mengerikan. Rupanya teman-temanku tahu kalau aku takut dengan kuburan. Dengan sangat mendadak, Ipul berlari-lari dan meneriakkan, “Pocong, pocong!”. Semua sontak berlari. Melompati nisan-nisan. Kakiku menendang batu nisan hingga batu itu terlepas dari tempatnya. Aku tidak mengembalikan pada tempatnya. Juga menginjak-nginjak gundukan tanah yang masih merah.
Sampai hampir keluar dari kuburan, sebuah sepeda motor tiba-tiba muncul. Beberapa temanku hampir tertabrak. Untungnya si pengendara sigap mengerem dan memarahi kami. Sekaligus mempertanyakan kami yang lari-lari dari dalam kuburan. Aku pun berlari seperginya pengendara itu. Aku sudah basah. Layang-layangku bolong. Aku tidak peduli. Aku sudah sangat ketakutan. Di rumah, aku segera mandi dan berganti baju.
Hari berikutnya, ibu mengajakku pergi ke rumah saudaranya. Aku juga tidak tahu ada urusan apa. Yang jelas kami berangkat sore. Dan melewati kuburan tempatku bermain—kebetulan jalan kuburan itu menjadi jalan utama juga untuk terhubung ke jalan besar. Aku teringat kemarin, Ipul yang iseng mendadak berlari. Aku sengaja tidak melihat ke dalam kuburan.
Ternyata ibu di rumah saudaranya sampai malam hari. Aku bahkan sampai ketiduran. Kira-kira pukul sebelas ibu membangunkanku. Ia mengajakku pulang. Tentu aku langsung teringat kuburan. Aku merajuk kepada ibu, supaya tidak melewati kuburan. Aku blak-blakan, mengatakan kepada bahwa aku sangat takut. Kata ibu, ia akan memelukku sambil berjalan. Dan aku disuruh memejamkan mata.
Tetapi saat hendak melewati kuburan, aku sudah terlanjur melihat. Sebuah nisan di tengah jalan. Aku langsung memeluk ibu erat-erat dan memejamkan mata.
“Mengapa kau begitu takut?”
“Aku takut, ayo lewat jalan lain saja, Bu,” kataku.
Aku tidak mengatakan apa yang kulihat. Ibu tidak mau lewat jalan lain. Akhirnya aku tidak berdaya. Aku berjalan dengan deg-degan yang luar biasa. Anehnya ibu tidak mengeluarkan satu patah kata pun, padahal ia pasti melewati nisan yang kulihat.
“Ibu tadi melihat sesuatu tidak?” kataku sampai di rumah.
“Sesuatu?”
“Nisan, Bu. Tadi ada nisan di tengah jalan, di depan kuburan!”
“Jangan mengada-ada. Ibu tidak melihatnya!”