Kucing Hitam di Ujung Gang

M. Reza Sulaiman | Khoirul Umar
Kucing Hitam di Ujung Gang
Ilustrasi kucing hitam di ujung gang (Gemini.ai)

Tidak ada yang aneh dari kucing hitam itu pada pandangan pertama. Bulunya legam, matanya kuning pucat, dan tubuhnya kurus seperti kucing kampung kebanyakan. Ia sering duduk di pagar rumah kontrakan tua di ujung gang, diam seperti patung. Orang-orang mengira ia hanya kucing liar yang kebetulan betah di sana. Aku juga berpikir begitu, sampai suatu malam aku sadar: kucing itu tahu apa yang sedang kupikirkan.

Awalnya hanya kebetulan-kebetulan kecil. Setiap kali aku pulang larut, kucing itu selalu muncul lebih dulu di depan pintu, seolah-olah tahu aku akan datang. Jika aku sedang kesal, ia menatapku lebih lama, matanya tajam, dan nyaris tidak berkedip. Saat aku bahagia, entah kenapa ia malah menjauh dan menghilang ke kegelapan gang.

Aku mencoba mengabaikannya. Pikiran manusia memang sering suka mengada-ada. Namun, kejadian-kejadian ganjil terus berulang. Suatu sore, aku duduk di teras sambil memikirkan sesuatu yang sangat pribadi, hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Tiba-tiba kucing itu mendekat, mengeong pelan, lalu menatapku tepat di mata. Saat itu, dadaku terasa sesak, seperti ada yang mengorek pikiranku dari dalam.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Ada sesuatu dari tatapan kucing itu yang berbeda. Bukan seperti hewan biasa yang hanya menunggu diberi makan, tatapannya seperti... menilai. Seolah-olah ia memahami isi kepala manusia, bahkan yang paling gelap sekalipun.

Suatu kali, tetanggaku bercerita bahwa ia kehilangan dompet. Beberapa jam kemudian, kucing hitam itu terlihat duduk di depan rumahnya, menatap pintu tanpa bergerak. Tetanggaku keluar dan wajahnya langsung pucat. Dompet itu ditemukan tepat di bawah kursi tamu, tempat yang katanya sudah ia periksa berkali-kali.

"Kucing itu bikin merinding," katanya lirih.

Sejak saat itu, warga mulai membicarakannya. Ada yang bilang kucing itu penunggu rumah tua. Ada yang percaya ia jelmaan sesuatu yang tidak kasat mata. Namun, tidak ada yang berani mengusirnya. Kucing itu tidak pernah mengganggu, tidak mencakar, dan tidak mengeong berisik. Ia hanya... ada. Mengamati.

Hal paling menakutkan terjadi pada malam yang hujan. Aku sedang duduk di kamar, pikiranku dipenuhi amarah dan rasa iri pada seseorang. Pikiran buruk itu muncul begitu saja, singkat tetapi tajam. Aku bahkan terkejut pada diriku sendiri.

Belum sempat aku menenangkan diri, terdengar suara cakaran di jendela. Kucing hitam itu ada di sana, matanya menyala di balik kaca basah. Ia tidak mengeong, hanya menatap.

Keesokan harinya, kabar buruk datang. Orang yang semalam kupikirkan mengalami kecelakaan. Tidak fatal, tetapi cukup untuk membuatku gemetar. Aku tahu ini terdengar berlebihan, tetapi sejak malam itu, aku takut pada pikiranku sendiri.

Aku mulai berusaha menjaga isi kepala. Berpikir netral, berpikir baik. Anehnya, setiap kali pikiranku tenang, kucing itu tidak muncul. Namun, saat kecemasan atau kebencian menyelinap, ia selalu ada di dekatku.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa takut. Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang nenek yang sudah lama tinggal di gang itu. Ia menatapku lama sebelum bicara.

"Kucing itu bukan membaca pikiran," katanya pelan. "Ia memantulkan."

Menurut cerita nenek itu, kucing hitam tersebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Pemilik rumah tua dulu adalah orang yang pendiam, sering menyimpan amarah dan dendam. Saat orang itu meninggal sendirian, kucing hitamnya tidak pernah pergi. Sejak itu, kucing tersebut dipercaya menyerap emosi dan pikiran manusia di sekitarnya, lalu "mengembalikannya" ke dunia dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Namun, cerita itu membuatku semakin waspada.

Beberapa hari kemudian, aku sengaja melakukan percobaan bodoh. Aku duduk sendirian di teras, memikirkan hal paling gelap yang pernah ada di kepalaku. Tidak lama kemudian, kucing itu muncul dan berjalan pelan mendekat. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ia mendesis, bulunya berdiri, dan matanya seperti retak oleh cahaya.

Aku langsung berhenti. Menarik napas panjang. Mengusir pikiran itu sejauh mungkin.

Kucing itu berhenti. Menatapku lama, lalu berbalik pergi.

Sejak malam itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

Kini rumah kontrakan itu terasa lebih sunyi. Gang menjadi biasa saja tanpa sepasang mata kuning yang mengawasi. Namun, ada satu hal yang berubah dalam diriku. Aku lebih berhati-hati dengan pikiranku. Lebih sadar bahwa apa yang kita simpan di kepala, sekecil apa pun, bisa berdampak besar.

Aku tidak tahu apakah kucing hitam itu benar-benar bisa membaca pikiran manusia. Mungkin ia hanya simbol. Atau mungkin, ia memang ada untuk mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih menakutkan daripada makhluk apa pun.

Yang jelas, sejak kucing itu pergi, aku belajar satu hal: tidak semua yang diam itu kosong, dan tidak semua pikiran layak untuk dibiarkan hidup.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak