facebook

Stasiun Bisu

Mohammad Azharudin
Stasiun Bisu
Ilustrasi Stasiun (Pexels.com/Plato Terentev)

Intan bergegas mandi, hatinya begitu ceria pagi itu. Selesai mandi ia memilih pakaian yang menurutnya terbaik. Setengah jam lebih ia menelusuri lemarinya, tapi ia masih saja merasa tak menemukan pakaian yang cocok dengannya. Satu per satu pakaian yang ada ia coba, menghadapkan dirinya ke cermin, mencermati seperti apa penampilannya. 

“Duh...!! Kenapa sih kok nggak ada yang cocok!?”, Intan menggerutu. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang 15 menit. Artinya, 15 menit lagi Sahrul datang. Intan merasa kehabisa waktu. Ia lantas memilih pakaian favoritnya, meski begitu dalam hatinya ia tetap merasa tak cocok dengan pakaian pilihannya tersebut.

“Assalamu’alaikum!!”. Suara salam itu sangat familiar di telinga Intan. Namun, anehnya Intan tak menjawab salam dari Sahrul. Intan justru merasa masih ada yang kurang dengan penampilannya, ia belum siap bertemu dengan Sahrul. Intan masih saja menghadap cermin du kamarnya, mencermati seluruh penampilannya.

“Wa’alaikumussalam!”, ibu Intan membukakan pintu, “Oh...Sahrul! Ayo, masuk, sini!. Bentar ya, ibu panggilin Intan dulu”.

“Eh, iya bu!”, jawab Sahrul sambil tersenyum ramah.

Tak berselang lama Intan pun menuju ruang tamu, menghampiri Sahrul. Mereka berbincang sebentar, setelah itu berpamitan pada ibu dan ayah Intan untuk pergi jalan-jalan. Selepas diberi izin, mereka berdua pun berangkat. Mereka berdua sebenarnya masih belum punya destinasi jelas mau ke mana.

“Kita mau ke mana sekarang?”, tanya Sahrul pada Intan.

“Terserah, kemana aja aku mau kok”, jawab Intan dengan senyam-senyum.

“Emm...kemana ya enaknya?”, Sahrul kemudian terdiam sejenak. Pikirannya memilah-milah tempat tujuan. “Kalau ke taman, kamu mau nggak?”, Sahrul bertanya.

“Berangkat!!!”, jawab Intan dengan penuh semangat.

Sahrul memacu sepeda motornya menuju taman. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sana. Sebelum mencari tempat duduk, Sahrul membeli es kelapa muda dua bungkus terlebih dahulu. Mentari hari itu cukup menyengat, tak salah bila Sahrul membeli es kelapa muda sebagai pelepas dahaga. Mereka berdua kemudian memilih berteduh di bawah pohon beringin yang lumayan besar. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat suasana kian tenang. Selepas cukup becanda, Sahrul tiba-tiba mengatakan sesuatu yang cukup mengagetkan Intan.

“Tan! Maaf ya, kayaknya beberapa hari ke depan aku harus berangkat merantau. Maaf kalau.....”, belum selesai Sahrul dengan kalimatnya, Intan tiba-tiba memotong.

“Merantau kemana, Rul?”

Sahrul menghela napas sejenak. “Mungkin ke Jakarta, atau Surabaya. Entahlah! Aku sendiri belum yakin mau mengadu nasib kemana. Intinya, aku nggak mau terus-terusan stagnan di posisi ini”.

“Maksud kamu apa, Rul? Kamu udah bosen sama aku? Kamu udah mau mengakhiri hubungan kita sampai di sini dengan dalih merantau?”, Intan terdengar tak sabar mendengar jawaban dari Sahrul.

“Bukan begitu maksudnya, Ya Allah! Kamu tenangkan pikiran kamu dulu, Tan!”, Sahrul mencoba merespons dengan tenang. “Maksudku, aku itu nggak mau terus-terusan jadi beban keluarga. Ayah dan ibuku semakin tua, aku nggak bisa bergantung pada mereka selamanya. Selain itu, kamu juga minta dilamar segera kan?”.

Intan menunduk, mencerna kebenaran dari apa yang dikatakan Sahrul. “Kamu masih mau menungguku, Tan?”, tanya Sahrul kemudian. Sayangnya Intan masih diam saja. Ia membayangkan segala hal yang bisa terjadi ketika berpisah jarak dengan Sahrul. “Tapi kalau misal kamu udah ada yang ngelamar, aku nggak akan ngelarang kamu untuk menerimanya kok”, ucap Sahrul kemudian.

“Aku akan tetap menunggu kamu, Rul!”, mata Intan berkaca-kaca.

Selepas percakapan itu, suasana jadi hening dan canggung. Mereka berdua sama-sama tak tahu harus berkata apa untuk memecah suasana. Akhirnya, Sahrul mengajak Intan pulang karena merasa tak enak hati telah menghancurkan suasana ceria hari itu. Dalam perjalanan pulang pun mereka tak saling bicara. Intan merasa takut saat berjauhan dengan Sahrul nanti, sementara Sahrul masih diliputi rasa bersalah karena kejadian tadi.

*****

Esok harinya Intan tak terlihat seperti biasanya. Ia tampak berat untuk tersenyum, juga terlihat tak punya energi untuk melakoni aktivitas seperti biasa. Ayah dan ibu Intan menyadari hal tersebut, mereka berdua tak tinggal diam.

“Ada apa, Tan? Kamu capek?”, tanya ibu Intan.

“Enggak, bu!”, jawab Intan sambil menggelengkan kepala.

“Tan! Kamu bisa cerita pada kami semuanya. Kami ini orang tua kamu”, ibu Intan mencoba menangkan.

“Apa ini menyangkut Sahrul, Tan?”, tanya sang ayah.

Intan terdiam, ia berusaha menahan air mata yang telah berada di ujung pelupuk matanya. Ibu Intan lantas memberikan pelukan, “Kamu bisa cerita pada kami! Sahrul kenapa?”. Intan tak mampu menjawab,  air matanya juga mulai berjatuhan. “Nggak apa-apa, nggak apa-apa!”, Ibu Intan mencoba menenangkan sambil mengusap-usap kepala Intan dengan lembut.

“Sahrul mau merantau, bu!”, Intan menjawab dengan menahan isak tangis.

“Kemana?”

Air mata Intan semakin deras berjatuhan. Ia sama sekali tak menjawab. “Kenapa Sahrul tiba-tiba punya niatan merantau?”, tanya sang ibu sambil tetap mendekap Intan.

“Katanya, Sahrul ingin mandiri, bu! Ia juga berkata bahwa salah satu tujuannya merantau itu supaya bisa segera melamar Intan”, jawab Intan dalam isak tangis.

“O....gitu. Udah! Sekarang tenang, ya. Toh, tujuan Sahrul merantau juga demi kebaikan kalian berdua. Tugas kamu sekarang doain Sahrul, supaya dia selalu diberi kelancaran dan kekuatan di sana”.

“I... Iya, bu!”, jawab Intan sambil terus meneteskan air mata.

*****

Dua minggu berlalu, sekarang adalah hari dimana Sahrul akan berangkat merantau. Intan mencoba menguatkan hatinya, ia tak lagi sesedih sebelumnya. Jarak stasiun dengan rumah Intan tak terlalu jauh, ia lantas bergegas ke sana untuk menemui Sahrul di detik-detik terakhir sebelum keberangkatannya. Saat itu, Intan telah menyiapkan bekal yang dibuat khusus untuk Sahrul.

Beruntung ketika sampai di stasiun, Sahrul masih terlihat menunggu keberangkatan kereta. Intan lalu bergegas menghampirinya. Sahrul seketika berdiri ketika melihat Intan mendekati dirinya. Ia kemudian juga melangkahkan kaki mendekati Intan.

“Kenapa kamu repot-repot ke sini?”, tanya Sahrul.

“Udah! Jangan banyak tanya. Ini, aku buatin bekal spesial untuk kamu. Dimakan ya!”, Intan tersenyum.

“Pasti, tuan putri!”.

Belum puas mereka bicara, kereta ternyata telah tiba. Sahrul mengambil napas berat, ia lantas berpamitan pada Intan.

“Intan! Maaf ya, aku harus berangkat sekarang”.

“Iya, Rul! Hati-hati ya! Jaga diri, jaga kesehatan selalu”.

Sahrul merasa berat sekali hendak melangkah, “Iya, kamu juga ya! Hati-hati dan jaga diri selalu. Aku pamit. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya!”, Intan mencoba melempar senyum.

Sahrul perlahan melangkah menjauh dari Intan. Ketika hendak masuk ke kereta, langkah Sahrul terhenti. Ia menoleh ke belakang, matanya tertuju pada sosok Intan yang kini melambaikan tangan padanya. Sahrul membalas, hatinya benar-benar sedih. Ia lantas melangkah masuk ke dalam kereta.

Setelah kereta berangkat, Intan masih terdiam di stasiun. Ia membayangkan kejadian barusan yang cukup menyesakkan baginya. Ia juga membayangkan kenangan-kenangan indah bersama Sahrul. Kini, ia tak lagi bisa mendapat kenangan itu. Ia harus menunggu sampai Sahrul kembali pulang. 

Saat Intan hendak berputar arah pulang, tiba-tiba terdengar kabar bahwa kereta yang barusan berangkat mengalami kecelakaan. Kabar tersebut membuat Intan panik. Ia benar-benar takut, jangan-jangan Sahrul adalah salah satu korban dari kecelakaan itu. Intan kemudian bergegas menghubungi Sahrul, meneleponnya berkali-kali. Namun sayang, tak ada jawaban sama sekali. Intan sangat takut, ia tak kuasa lagi menahan tubuhnya. Intan lantas jatuh tak sadarkan diri dalam keadaan begitu kehilangan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak