Keteduhan Sebuah Kerinduan

Munirah | Taufan Rizka Purnawan
Keteduhan Sebuah Kerinduan
Ilustrasi Sebuah Kerinduan. (pixabay.com)

Keteduhan sebuah kerinduan dalam dimensi sunyi menyatukan jiwa manusia dalam genggaman kuasa-Nya. Yang menaungi sepanjang hamparan saujana alam raya bergerak amat luasnya. Alam raya bersujud dalam ketaatan kepada-Nya. Tak ada hentinya alam raya bersujud kepada-Nya. Melukis hawa kedamaian dalam raihan keimanan sempurna.

Keteduhan kuasa-Nya berucap tanpa sekat jarak dan waktu. Seakan mendekat selalu pada raihan keberkahan yang tak pernah usai. Terungkap segala untaian perasaan sanubari yang berucap pada setiap raga. Nyawa bernafas memancarkan duka dalam kenistaan sempurna.

Rupa setiap jiwa yang hanyut pada kenistaan menjadi langkah menggapai pelukan kasih-Nya. Ketulusan Illahi yang selalu menyelimuti setiap jiwa. Petuah dari kenistaan menghantarkan setiap jiwa berkata jeritan nyata begemuruh keras. Seakan terhenti langkah setiap jiwa tertahan dalam kesesatan.

Jeritan nyata terlukis pada sanubari yang bergolak tak tertahankan. Memanggil Illahi tuk mendekat segenap raga. Berjibaku melawan rayuan kesesatan menjauh dari Illahi. Bias kehidupan terungkap melenyapkan langkah yang tak ada geraknya. Lestari raga selama berdetak masih menanti pertolongan-Nya.

Pertolongan-Nya sepanjang waktu bergerak tak pernah terhenti menaungi setiap jiwa manusia. Bertengger pelita ampunan perlahan menerangi setiap jiwa tertanam dalam kesesatan. Hempasan raga berucap sepatah kata senantiasa menangisi kerendahan diri.

Iman yang goyah dalam kesesatan menuntun langkah terombang-ambing dalam kuasa amarah nafsu. Berharap pula kesucian ampunan-Nya yang selalu meneduhkan bumi dan langit.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak