Penyerang naturalisasi timnas Indonesia, Mauro Zijlstra resmi diperkenalkan sebagai rekrutan baru klub kasta tertinggi sepakbola Indonesia atau Super League, yakni Persija Jakarta. Melansir dari laman berita suara.com (4/2/2026), penyerang berusia 21 tahun tersebut akan dikontrak oleh klub berjuluk “Macan Kemayoran” tersebut selama kurang lebih 2,5 tahun.
Hal ini tentunya tidaklah menjadi sebuah kejutan dari beberapa pihak. Pasalnya, mantan penyerang klub FC Volendam tersebut memang dikabarka akan segera bergabung ke liga Indonesia usia kontraknya tak diperpanjang oleh klub asal Belanda tersebut. Menurut Mauro Zijlstra, dirinya sangat antusias bergabung dengan Persija Jakarta karena klub ini sarat dengan sejarah dan merupakan klub besar di Indonesia.
"Saya sangat siap menyambut tantangan bersama Persija. Persija adalah tim besar yang memiliki target juara musim ini. Saya sangat antusias menerima tantangan ini. Saya sangat senang, begitu pun keluarga saya. Seperti yang saya bilang, Persija adalah klub besar. Jadi saya sangat senang berada di sini,” ujar Mauro Zijlstra.
Namun, kepindahan Mauro Zijlstra ke klub liga Indonesia tentunya menuai pro dan kontra. Hal ini dikarenakan dalam beberapa bulan terakhir banyak punggawa naturalisasi timnas Indonesia yang memutuskan berkarier di liga Indonesia. Sebelumnya, nama Jordi Amat dan Shayne Pattyanam meruapakan punggawa naturalisasi yang bergabung dengan Persija Jakarta di musim 2025/2026 ini.
Fenomena ini ternyata juga turut disorot oleh beberapa media lokal. Bahkan, salah satu media instagram, yakni @garudafansbook_ juga menyoroti fenomena ini. Bahkan, laman instagram @garudafansbook_ juga memberikan kritikan mengenai banyaknya punggawa naturalisasi timnas Indonesia yang memutuskan berkarier di Super League terlalu dini.
“Tanpa mengurangi rasa hormat, namun dengan kejadian ini kita mempertanyakan apa sebenarnya tujuan dari Naturalisasi?. Rasanya wajar banyak dari kita khususnya fans setia Timnas yang kecewa dengan keputusan ini. Ini bukan soal bermain di klub mana, tapi soal mereka datang ke Liga Indonesia di usia yang masih sangat muda. Padahal alasan mereka di naturalisasi adalah karena mereka bermain di Eropa,” tulis laman media @garudafansbook_
Lantas, apakah proses naturalisasi yang diharapkan dapat menjadi pendongkrak performa dan prestasi timnas Indonesia justru disalahgunakan oleh PSSI dan beberapa oknum?
Demi Ambisi Juara AFF Cup 2026, PSSI Izinkan Pemain Berkarier di Liga Indonesia?
Fenomena banyaknya pemain diaspora dan naturalisasi yang datang ke liga Indonesia tentunya membuat banyak pihak mempertanyakan kembali mengenai urgensi proses naturalisasi demi peningkatan performa timnas Indonesia. Melansir dari beberapa sumber di laman berita suara.com, setidaknya ada sekitar tujuh hingga delapan pemain naturalisasi timnas Indonesia yang kini memilih berkarier di liga Indonesia.
Fenomena ini sendiri kembali menyoroti ambisi PSSI yang ingin timnas Indonesia juara ASEAN Cup 2026 atau yang dulunya bernama AFF Cup. Sebelumnya, pelatih timnas Indonesia, John Herdman juga menyebut jika dirinya hanya akan memanggil pemain dari liga lokal untuk ajang AFF Cup 2026 nanti karena keterbatasan opsi imbas tak masuknya kompetisi tersebut di kalender resmi FIFA.
Hal inilah yang kemungkinan besar disinyalir membuat PSSI mencari cara lain agar punggawa-punggawa terbaiknya bisa bermain di ajang AFF Cup 2026 tanpa harus terhalang izin dari klubnya. Tak dapat dipungkiri, melakukan lobbying terhadap klub-klub liga lokal cenderung lebih mudah jika dibandingkan klub luar negeri.
Namun, di sisi lain, fenomena ini kembali memunculkan keraguan dari publik mengenai urgensi dari proses naturalisasi tersebut nantinya. Tentunya untuk apa menaturalisasi pemain jika nantinya mereka akan berkarier di liga Indonesia terlalu cepat?