Hobi
Makin Hari Makin Terbukti, Qatar dan Arab Saudi Lolos ke Piala Dunia 2026 dengan Cara Ilegal
Perjalanan dua anak emas AFC pada guliran Piala Dunia 2026 akhirnya berakhir dengan tragis. Setelah Qatar harus pulang kampung dengan membawa satu poin saja dari Grup B yang dihuni oleh tim sekelas Swiss, Kanada, dan Bosnia and Herzegovina, kali ini giliran Tim Elang Hijau, Arab Saudi, yang harus berkemas.
Pertandingan terakhir Arab Saudi yang semestinya bisa dijadikan sebagai laga untuk memperpanjang napas mereka di turnamen justru hanya berakhir dengan skor kacamata. Alhasil, tim asal Timur Tengah yang selama fase grup turnamen ini menuai dua poin hasil dari dua kali imbang harus menyusul sang saudara kandung, Qatar, yang sudah lebih dahulu pulang kampung.
Bahkan, jika dilihat-lihat, nasib Arab Saudi di Piala Dunia 2026 kali ini juga tidak berbeda dengan Qatar. Di Grup B, Qatar harus pulang ke kampung halamannya dengan status sebagai tim juru kunci di bawah Swiss, Kanada, dan Bosnia and Herzegovina. Sementara itu, Arab Saudi yang tergabung di Grup H juga harus pulang dengan predikat yang serupa setelah mereka hanya menjadi alas kaki dari Spanyol, Tanjung Verde, dan Uruguay.
Kepulangan duo anak emas AFC ini bagi saya pribadi, mungkin juga bagi teman-teman pencinta sepak bola, terasa begitu istimewa. Sayangnya, hal tersebut bukan sebuah keistimewaan yang memiliki vibes positif, melainkan sebuah keistimewaan yang bernada negatif.
Pasalnya, pulang cepatnya dua negara bertetangga di kompleks kawasan negara kaya Timur Tengah itu makin menegaskan bahwa mereka memang tidak layak untuk mentas di gelaran Piala Dunia kali ini dan kelolosannya ke putaran final cenderung dipaksakan. Dengan kata lain, kelolosan Qatar maupun Arab Saudi ke turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya itu didapatkan dengan cara ilegal alias penuh dengan intrik dan kecurangan.
Kelayakan Qatar yang Patut Dipertanyakan
Hal ini tentunya tidak perlu saya buktikan terlalu detail. Pasalnya, seperti yang pernah saya jelaskan beberapa waktu lalu, Grup B yang dihuni oleh Qatar sejatinya juga bukan grup yang terlalu menyeramkan bak grup neraka. Negara-negara yang bersaing dengan Qatar di grup tersebut sejatinya bukanlah kekuatan mengerikan di pentas persepakbolaan dunia.
Baik Swiss, Kanada, apalagi Bosnia and Herzegovina hanyalah tim-tim yang memiliki kekuatan semenjana di persepakbolaan kawasan masing-masing dan kerap menjadi penggenap di turnamen kawasan yang mereka ikuti. Tentunya, jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki tradisi sepak bola kuat seperti Brasil, Argentina, Prancis, Spanyol, Inggris, dan para raksasa lainnya, tiga tim tersebut sama sekali bukanlah pihak yang lebih ditakutkan.
Namun, apa yang terjadi? Melawan tim-tim sekelas mereka bertiga saja Qatar tidak mampu lolos. Bahkan, hasil satu poin yang mereka dapatkan dari pertandingan pertama melawan Swiss kemarin juga baru mereka dapatkan pada menit-menit akhir pertandingan saat tim lawan sedang terlena.
Bukankah ini sendiri sudah menjadi bukti sahih jika sejatinya Qatar belum sepenuhnya layak untuk tampil di gelaran tersebut? Bahkan mungkin jika dibandingkan dengan Oman, Uni Emirat Arab, atau bahkan Indonesia, kekuatan Qatar tidak mutlak lebih baik.
Inferioritas Arab Saudi di Hadapan Tim Debutan
Sama halnya dengan Qatar yang kelayakannya tampil di Piala Dunia 2026 ini masih perlu diperdebatkan, penampilan Arab Saudi di turnamen kali ini juga masih sangat perlu untuk dipertanyakan. Memang, mereka sukses menahan Uruguay 1-1 pada pertarungan pembuka (16/6) lalu. Namun, patut untuk diingat, Uruguay di Piala Dunia 2026 ini tidaklah semenyeramkan ketika mereka tampil pada edisi-edisi sebelumnya.
Alih-alih menyamakan dengan keganasan era Diego Forlan dan kolega di Piala Dunia 2010 lalu, kekuatan Uruguay saat ini terbilang jauh berbeda dengan tim yang mentas di Piala Dunia edisi 2014 dan 2018. Berdasarkan pengamatan saya, setelah edisi 2018 di Rusia, kekuatan Timnas Uruguay mengalami penurunan yang sangat signifikan, yang dibuktikan dengan kegagalan mereka lolos dari fase grup dalam dua edisi terakhir secara beruntun.
Bukan hanya itu, bukti ketidaklayakan Arab Saudi mentas di Piala Dunia 2026 ini juga terbuktikan dengan pertandingan terakhir mereka di fase grup melawan Tanjung Verde. Pada pertandingan ini, Arab Saudi yang turun dengan modal lebih baik (setidaknya dalam hal peringkat FIFA maupun pengalaman bertanding di turnamen) ternyata harus mengakhiri pertarungan sebagai pihak yang lebih inferior meskipun pertarungan berakhir imbang.
Berdasarkan statistik pertandingan yang dirilis oleh FIFA, Arab Saudi tercatat lebih buruk dalam hal penguasaan bola (44 persen), penciptaan peluang (15 dibanding 7), hingga dalam hal distribusi dan penyerangan seperti umpan sukses, umpan silang, maupun jumlah tendangan sudut yang didapatkan.
Selain itu, patut digarisbawahi lagi bahwa Tanjung Verde sendiri adalah tim "anak bawang" pada turnamen kali ini. Selain baru pertama kali merasakan debut Piala Dunia, Tanjung Verde ini juga tim yang bukan siapa-siapa di persepakbolaan kawasan, apalagi di pentas dunia. Bahkan, dari data yang saya kumpulkan dari laman FIFA, Tanjung Verde ini juga baru bisa masuk ke peringkat 70-an dunia pada bulan September tahun 2025 kemarin setelah sebelumnya mereka selalu berada di peringkat yang lebih rendah daripada itu.
Secara asumsi kasar, fakta-fakta di atas tentu saja mengharuskan Arab Saudi setidaknya bisa meraih poin sempurna dari Tanjung Verde. Namun, apa yang terjadi di lapangan tentu saja tidak demikian. Bagaimana bisa tim yang konsisten di peringkat 50-an FIFA dan (katanya) masuk dalam delapan tim terbaik Benua Asia itu justru malah kepayahan saat menghadapi tim sekelas Tanjung Verde? Tentunya hal itu tidak akan terjadi jika Arab Saudi dan Qatar lolos ke turnamen dengan cara yang legal dan melalui seleksi yang ketat, bukan?