facebook

Melihat Representasi 'Bhinneka Tunggal Ika' dalam Keluarga

Mohammad Azharudin
Melihat Representasi 'Bhinneka Tunggal Ika' dalam Keluarga
Ilustrasi Keluarga (Pexels.com/August de Richelieu)

Kita sudah cukup sering menemui kasus-kasus intoleran. Kasus intoleran yang muncul ke permukaan biasanya bersinggungan dengan agama. Bukan hanya yang beda agama, yang agamanya sama pun kadang masih ditemukan sikap tidak toleran. Sebagai misal, klaim soal ‘masjid sunnah’. Hal tersebut menyiratkan pandangan bahwa masjid lain yang tidak punya ciri-ciri yang sama dengan ‘masjid sunnah’ tersebut, merupakan perwujudan dari lawan katanya. Fenomena klaim seperti ini jelas merupakan bentuk kecil dari sikap tidak toleran. Kalau hal tersebut terus-terusan terjadi, bisa berujung geger gedhen nanti.

Sependek yang saya perhatikan, penyebab paling fundamental dari sikap intoleran adalah perasaan tidak bisa menghargai perbedaan. Ada yang tidak berjenggot, dianggap tidak nyunnah. Ada yang pake sarung, dipandang tidak ngikutin Nabi saw. Kalau setiap yang berbeda dianggap masalah, maka galaksi Bima Sakti akan terasa sangat sempit. Dunia seolah hanya milik sebagian orang, sisanya cuma numpang. Kepemilikan sepihak yang tersirat ini sangat berpotensi menyulut perpecahan. Setiap kelompok akan berlomba menunjukkan eksistensinya. Bukan supaya keberadaan mereka diakui, melainkan demi merebut panggung dominasi.

Padahal, bila dicermati, segala yang ada di sekitar kita memang diciptakan beragam. Bahkan, dengan melihat sekilas pun kita akan menemukan banyak perbedaan pada berbagai hal. Mari kita ambil contoh lingkungan terdekat dan terkecil, keluarga. Disadari atau tidak, faktanya dalam keluarga kita ada banyak ketidaksamaan. Misalnya, selera makanan. Apakah seluruh anggota keluarga kita suka makanan pedas? Jelas tidak.  Mungkin semua anggota keluarga kita suka makanan manis (atau mungkin lebih tepatnya ‘rasa’ manis). Namun, kadar kesukaannya tetap saja tidak sama.

Dari segi jenis favorit pun demikian. Ada yang kesukaannya nasi goreng, ada yang suka banget sama bakso, ada yang favoritnya mie ayam. Seluruh perbedaan selera makanan ini dapat kita saksikan dengan mata telanjang, bahkan setiap hari. Terus, apa kita mesti memprotes anggota keluarga yang selera makanannya berbeda dengan kita? Tidak perlu, tidak ada gunanya. Kalau kita memprotes dan memaksa anggota keluarga supaya punya selera makanan yang sama dengan kita, maka siap-siap aja dicoret dari KK.

Tak hanya itu, keberagaman dalam keluarga juga dapat kita temui dalam selera musik. Saya sangat bersyukur dilahirkan di keluarga juga lingkungan yang punya sikap biasa saja terhadap eksistensi musik. Mengglorifikasi tidak, merendahkan pun tidak. Keluarga dan masyarakat di sekitar saya memandang musik sebagai hiburan, sebagai pengisi hari agar tidak krik-krik. Hanya saja beberapa dari mereka masih menganggap bahwa bermain alat musik adalah hal yang sia-sia, tidak bermanfaat, buang-buang waktu, dan sering diberi cap sebagai kegiatannya pengangguran. Kendati demikian, mereka tetap mendengarkan dan menikmati musik.

Selera musik saya sangat berbeda dengan bapak-ibu saya. Mereka berdua cenderung menyukai genre dangdut, khususnya lagu dari bang Haji Rhoma beserta penyanyi dangdut lain yang seangkatan dengan beliau. Selain itu, bapak-ibu saya juga menyukai lagu-lagu Nasida Ria. Salah satu alasan mereka berdua suka dengan lagu-lagu tersebut katanya sih karena muatan dakwahnya. Alasan tersebut membuat mereka berdua sering menyisipkan penggalan lirik lagu waktu memberi wejangan pada anak-anaknya, tapi ya tidak dinyanyikan juga. Waktu di tengah-tengah pembicaraan, sering mereka berucap, “Seperti kata bang Haji Rhoma...”.

Saya sendiri tidak terlalu suka dengan genre dangdut. Meski demikian, bukan berarti saya tidak mengakui keberadaan musik dangdut. Ini hanya soal perbedaan selera musik, tidak lebih. Lantas, apakah perbedaan ini membuat saya harus mengasingkan diri dari keluarga?  Bisa-bisa saya malah tidak dapat jatah makan tiga kali sehari nanti. Bapak-ibu saya pun punya sikap yang sama terhadap perbedaan selera musik ini. Mereka berdua tidak memaksa saya untuk suka sama dangdut. Dipaksa pun saya juga tidak bakal mau. Lha mau gimana? Telinga saya emang cocoknya bukan dengan genre dangdut.

Melalui 2 contoh perbedaan di atas, kita bisa melihat bahwa sebenarnya hidup kita tidak bisa lepas dari perbedaan. Bahkan di lingkungan kecil (keluarga) sekali pun kita menemukan berbagai keberagaman. Lantas, bagaimana kita menyikapi adanya perbedaan tersebut? Kita tetap bersikap biasa, tidak teriak-teriak supaya segalanya seragam.

Dengan kata lain, kita tetap bersatu meski punya ketidaksamaan. Disadari atau tidak, hal tersebut merupakan representasi Bhinneka Tunggal Ika. Coba kita renungkan, lingkungan keluarga yang tidak memaksakan supaya segalanya sama akan terasa lebih menenangkan dibanding lingkungan keluarga yang membenci perbedaan. Jika hal ini dapat kita praktikkan dalam kehidupan sosial, kita akan merasakan kehidupan yang harmonis.

Kalau ada yang bilang, “Perbedaan selera makanan dan musik itu hal yang biasa, tidak bisa disamakan dengan perbedaan agama dan/atau ekspresi keberagamaan”. Ya, benar. Perbedaan agama dan/atau ekspresi keberagamaan memang cukup kompleks. Namun, tetap saja, hal tersebut merupakan sesuatu yang niscaya, sesuatu yang tidak bisa kita sangkal. Sekeras apapun kita memaksa, perbedaan dalam sisi termaktub akan tetap ada. Hal ini tidak cuma terjadi di era mabar seperti sekarang. Pada era Nabi saw pun kita bisa melihat berbagai perbedaan interpretasi dari para sahabat. Hal tersebut adalah hal yang biasa bagi mereka.

Maka, dari sini kita bisa nyatakan bahwa bagaimana kita memandang perbedaan akan berpengaruh terhadap sikap kita. Kalau kita memandang perbedaan sebagai sesuatu yang mengerikan, ya..... yang keluar adalah sikap-sikap intoleran yang sangat meresahkan itu. Akan tetapi, kalau memandang perbedaan dengan perspektif yang positif, maka kita bisa hidup dalam lingkungan yang ayem lan tentrem.

Jadi, mulai sekarang tidak perlu lagi lah memaksa segala hal agar sama. Selain tidak mungkin terwujud, hal tersebut juga cuma bikin capek. Nikmati saja hidup dalam bhinneka yang niscaya dan tetap bersatu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak