facebook

Satu Dekade Menjadi Guru Sekolah Dasar

Thomas Utomo
Satu Dekade Menjadi Guru Sekolah Dasar
Siswa sekolah dasar (Dokumentasi pribadi/ Thomas Utomo)

Mei 2012-Mei 2022. Tepat sepuluh tahun bertugas jadi guru sekolah dasar. Tidak pernah bercita-cita jadi guru. Tentu tidak. Sebab, meski senang belajar, tapi (dulu) tidak menikmati berada di sekolah. Bawaannya kepengin libur panjang atau kalau berangkat, kepengin cepat-cepat pulang (bukan karena di sekolah di-bully, tapi memang nggak suka di tempat umum dengan banyak orang di waktu yang lama). 

Meski senang dengan anak-anak, tapi sadar diri, bukan pribadi penyabar. (Dulu) gampang jadi naga atau minimal singa. Cita-cita waktu kecil, ingin jadi penulis/pengarang/wartawan. Sebab itu, suka bikin majalah-majalahan pakai kertas gambar yang dipotong-potong, ditulisi, dihias gambar, diwarnai, terus disteples.

Kirim tulisan pertama ke tabloid Hoplaa waktu kelas empat. Ditolak. Begitu pun tulisan-tulisan berikutnya. Hahaha.

Lulus SMA, Bapak dan Ibu menyarankan untuk masuk jurusan ini-itu (seperti kakak-kakak) atau coba mendaftar pekerjaan ini-itu (seperti pekerjaan hampir semua anggota keluarga kami). Tidak ada yang sreg.

Suatu pagi, pas lagi ngepel teras, nggak sengaja ketemu seorang tetangga. Namanya Pak Heri (allahu yarham). Dengan cara yang sederhana tapi membujuk, beliau meyakinkan untuk mendaftar kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Ternyata, orang tua tidak langsung setuju karena dalam keluarga, tidak ada yang jadi guru. Lewat jalan lumayan berliku, akhirnya diizinkan kuliah di jurusan pendidikan. Alhamdulillah.

Tujuh semester menempuh pendidikan, ternyata terasa amat cepat. Tandanya, menikmati. Memang demikian adanya. Hampir semua mata kuliah enak dikunyah. Dan di ruang kuliah, mulai ditempa untuk berbicara di muka umum, saling berbeda pendapat, dan berdebat. Ternyata asyik dan seru.

Lulus kuliah April 2012. Bulan-bulan sebelumnya, sudah kirim surat lamaran ke tiga sekolah swasta. Iya, sekolah swasta. Waktu itu, sama sekali tidak mendaftar ke sekolah negeri dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Dari tiga sekolah, diterima di SD UMP setelah melewati sekian lapis seleksi dan bersaing dengan puluhan pelamar. Alhamdulillah. Bulan-bulan awal jadi guru, ternyata sesuai dugaan, tidak gampang tapi menantang. 

Selama tujuh tahun bertugas, tempat ini benar-benar jadi kawah candradimuka buatku. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang amat berharga.

Di tahun ketujuh itu pula, urutan hidup berubah. Dari mengemudikan tugas di sekolah swasta, haluan berubah. Tugas mengajar pindah ke sekolah negeri, tepatnya di SD Negeri 1 Karangbanjar, dengan 'budaya' yang sama sekali berbeda. Tapi malah lebih cepat beradaptasi. Alhamdulillah.

Sepuluh tahun menjadi guru. Manis, pahit, getir, semua terangkum dalam satu kata: bahagia. Terima kasih kepada semua anak didik, orang tua siswa, teman-teman guru, para pengawas sekolah, dan terutama keluarga yang dengan cara masing-masing, hari ke hari, kian mempertebal keyakinan betapa menjadi guru adalah sebuah Dunia Bernama Gembira. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak