Kata kakek saya, perdebatan tentang mesin vs manusia itu sudah ada sejak berabad-abad lalu dan akan terus berlangsung sepanjang eksistensi manusia ada. Pernyataan “mesin akan menggantikan manusia dan membuat lapangan pekerjaan hilang” sudah tidak dihitung sebagai masalah baru. Namun untuk kali pertama dalam hidup, saya sadar bahwa penggunaan mesin (dalam konteks ini mesin AI), ternyata terasa begitu menyebalkan.
Waktu kuliah, dosen-dosen saya sudah memberikan wejangan bahwa nanti di masa depan akan muncul teknologi penerjemahan yang selalu berusaha disempurnakan oleh manusia. Tapi beliau-beliau yang berprofesi sebagai ahli bahasa ini percaya bahwa bidang kebahasaan tidak akan bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin dan robot. Pasalnya, inti dari bahasa adalah manusia.
Teknologi itu fungsinya mempermudah, tapi belum tentu bisa membuat seseorang makin pintar. Ini adalah kesimpulan yang saya dapatkan setelah kurang lebih menjalani hidup sebagai seorang penerjemah dan guru bahasa selama tiga tahun.
AI dewasa ini sudah mulai marak dalam lingkup pekerjaan manusia
Setelah lulus kuliah, saya bekerja menjadi seorang penerjemah. Sejak awal saya tidak pernah menggunakan jasa mesin penerjemah di internet karena hasilnya tidak akurat sesuai konteks dan sering kali masih berantakan. Saya tipe yang langsung menerjemahkan kalimat secara langsung, lalu beralih ke kamus buku atau kamus elektronik ketika menemukan kosa kata yang tidak saya ketahui.
Eh, siapa sangka, saya sempat mendapatkan pekerjaan sebagai quality control yang bertugas membenahi dan memperbaiki hasil terjemahan otomatis menggunakan mesin AI. Jenis pekerjaan ini biasanya sering disebut sebagai MTPE (Machine Translation Post Editing).
Penggunaan AI di bidang pekerjaan bisa dibilang banyak pro dan kontranya. Banyak perusahaan memakai mesin ini karena bisa memotong anggaran biaya dan memungkinan pengerjaan ratusan file dalam waktu singkat (walaupun hasilnya belum tentu bagus dan harus diperiksa lagi secara manual oleh manusia).
Namun karena saya juga mengambil pekerjaan part-time sebagai seorang guru, saya merasa bahwa penggunaan AI di bidang pendidikan lebih banyak sisi merugikannya daripada menguntungkan.
Pemakaian AI di dunia pendidikan sama seperti konsumsi gula dalam kehidupan manusia
Mengonsumsi gula itu enak, rasanya manis. Tapi kalau terlalu sering dan terlalu banyak dikonsumsi, lama-lama justru menjadi penyakit yang membahayakan kesehatan. Kurang lebih, penggunaan AI sama seperti gula.
Tugas menerjemahkan kalimat dan membuat tulisan bebas sudah bukan hal yang asing ketika sedang belajar bahasa asing. Sebelum memberi tugas, saya selalu menegaskan bahwa materi dan kosa kata yang diperlukan untuk jawaban tugas tersebut sudah tersedia di modul yang sudah dipelajari di kelas. Kalau bingung, silakan buka modul saja, open book.
Dulu waktu kuliah, saya ingat salah satu dosen saya pernah marah besar karena ada salah satu mahasiswa yang ketahuan memakai jawaban copy paste persis dari internet. Karena sekarang berada di posisi yang sama dengan beliau, sekarang saya bisa paham mengapa ia bisa begitu marah.
Beberapa waktu lalu, saya sedang mengecek tugas murid-murid saya ketika menemukan salah satu tugas yang dikumpulkan adalah hasil terjemahan dari mesin AI. Jawabannya terlihat paling mencolok dibandingkan milik teman-teman sekelasnya yang lain.
Diksi yang digunakan kelewat advanced untuk level pelajar beginner dalam bahasa asing. Selain itu, ada banyak penggunaan grammar yang bahkan tidak pernah diajarkan di kelas. Gaya bahasanya juga terkesan kaku dan ada pola kalimat yang masih plek persis dengan bahasa Indonesia.
Astaga. Saya lebih ikhlas menerima jawaban tugas yang hancur dan serba salah tapi dikerjakan oleh sang murid sendiri, daripada yang sempurna tapi ternyata hasil kerjaan mesin AI.
Alasan saya sakit hati murid saya pakai mesin AI translator
Pertama, esensi mengerjakan tugas adalah supaya sang murid belajar menerapkan ilmu yang sudah ia pelajari di kelas. Selain itu, saya sebagai pengajar bisa mengukur sampai mana tahap pemahamannya dan bisa membantunya di bagian yang dirasa masih kurang ia kuasai. Kalau jawabannya hasil terjemahan mesin, bagaimana saya bisa tahu kemampuan murid saya?
Kedua, saya merasa tidak dihargai. Pasalnya, membuat soal dan memeriksa jawaban itu memakan waktu di luar jam kelas. Terutama soal terjemahan seperti ini pasti bentuk jawabannya adalah paragraf, bukan pilihan ganda. Artinya, jawabannya bisa berbeda-beda antarmurid dan perlu dibaca satu per satu. Waktu yang saya habiskan untuk mendukung perkembangan belajar kelas ini tidak seimbang dengan effort waktu yang mau dikeluarkan murid, karena mereka bisa mendapatkan jawaban yang cepat dan instan dengan AI.
Ketiga, saya merasa justru kalau menggunakan cara cepat seperti ini, si murid sendiri yang rugi. Nikmatnya cuma di awal ketika memakai mesin ini (kerjaan cepat selesai, tidak harus berpikir dan tidak menghabiskan waktu banyak). Namun kalau keseringan dan ketagihan pakai, lha trus esensinya belajar bahasa baru di kelas apa dong kalau tidak dilatih? Uang yang dipakai untuk mendaftar dan membayar biaya operasional kelas per bulan tidak ada hasil nyatanya dong? Rugi dong nakkk!
Ah, inilah nestapanya mengajar manusia-manusia muda yang sejak awal lahir di bumi ini sudah akrab dengan teknologi. Di kalangan warganet, generasi Alpha ini juga dijuluki sebagai “generasi 15 detik” karena mereka terbiasa mendapatkan informasi secara cepat dari video-video singkat sehingga kesulitan untuk bisa fokus dalam jangka waktu panjang. Mereka sudah terbiasa dengan segala hal yang serba instan dan cepat.
Apakah ada para pembaca yang juga mengalami hal yang sama dengan saya seputar hadirnya AI dalam lingkup pekerjaan? Coba dong, berbagi pengalaman juga mengenai ancaman AI di bidang-bidang lain yang belum dibahas di artikel ini!