Teknologi dan digitalisasi makin canggih di era globalisasi saat ini. Berbagai informasi mudah didapatkan, tidak seperti zaman dahulu yang harus membuka buku, jurnal, dan hasil penelitian dalam bentuk fisik hingga mencari-carinya di perpustakaan.
Salah satu perkembangan alat teknologi yang hampir digunakan oleh setiap orang adalah gawai, dan ini menjadikan pertanda bahwa era digitalisasi mulai perlahan menunjukkan tampaknya.
Pendidikan juga terkena dampaknya dengan adanya gawai yang mampu melakukan apa saja yang diinginkan. Apalagi sudah dilengkapi juga dengan kecerdasan buatan yang mampu memberi tafsiran sebuah penjelasan yang diminta oleh penggunanya.
Dengan adanya perkembangan ini dapat membuat siswa mencari jawaban dan menyelesaikan berbagai persoalan beserta solusinya dengan hitungan detik tanpa harus membuka buku atau catatan secara fisik.
Secara tidak langsung, hal ini memberikan dampak positif dan negatif terhadap siswa. Misalnya, sedang belajar matematika yang membutuhkan konsentrasi penuh dalam pengerjaannya. Tetapi, siswa tersebut malas untuk berhitung dan langsung mencari jawaban menggunakan gawai.
Berbeda dengan siswa yang sudah mencoba berulang kali menjawab soal tetapi tetap salah dan sudah tak tahu lagi, lalu ia mencari jawaban tersebut dan memahaminya dengan betul. Oleh karena itu, penggunaan gawai di era digitalisasi saat ini memiliki efek positif dan negatifnya tersendiri.
Ki Hajar Dewantara semasa menjalani dunia pendidikan sama sekali belum ada teknologi yang sudah bisa secanggih kecerdasan buatan seperti sekarang. Maka kemungkinan yang terjadi ketika beliau melihat era di masa kini tentu akan sangat menelaah lebih jauh efek dari adanya teknologi terhadap bidang pendidikan.
Selain itu, bisa saja beliau menjadi orang pertama yang mengkritisi penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang tidak berlandaskan rasa keingintahuan siswa. Seperti ilustrasi di atas yang menjelaskan siswa yang malas untuk berpikir dan berhitung akibat ingin semua serba instan dan cepat mendapatkan jawaban.
Maka dapat dikatakan bahwa jika sebagian besar pelajar di Indonesia menggunakan kecerdasan buatan seperti itu, justru akan menghambat proses berpikir kritis selama ia belajar. Penggunaan teknologi sudah sebaiknya bisa menjadi alat bantu dalam belajar asalkan tidak mengandalkannya sampai ketergantungan.
Besar kemungkinannya, Ki Hajar Dewantara selain mengkritisi persoalan tersebut tentu beliau pun akan memperhatikan peran guru yang selama ini menjadi sumber informasi mendapatkan ilmu, ternyata malahan teknologi yang digunakan selama ini bisa merebut peran tersebut secara tidak langsung.
Sebaik-baiknya teknologi yakinlah bahwa peran guru lebih banyak mengetahui ilmu pengetahuan dibandingkan kecerdasan buatan, karena seorang guru pun menimba ilmu pada gurunya yang mengajar ketika itu. Maka belum tentu semua ilmu dari seorang guru ada pada jawaban yang diperoleh dari hasil yang instan.
Oleh sebab itu, guru bisa menjadi seorang pembimbing yang mengarahkan siswa untuk dapat memanfaatkan teknologi yang berkembang dengan bijaksana. Dengan adanya perkembangan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif.
Pendidikan di era digital selain menjadi tantangan bagi generasi muda dan para pengajar, tentu bisa juga menjadi aliran yang baik menuju Indonesia emas pada tahun 2045.
Teknologi hanyalah alat bantu dalam kehidupan sehari-hari, bukan untuk dijadikan sebagai teman hidup yang bisa membantu apa saja sehingga membuat diri kita merasa malas dan tak produktif.
Seharusnya dengan adanya dukungan teknologi di masa kini dapat meningkatkan dan mengembangkan daya kreativitas hingga produktivitas, khususnya sebagai generasi muda yang menjadi agen perubahan bangsa. Dengan demikian, pembelajaran digital dapat memberikan dampak positif bila dimanfaatkan dengan sangat baik.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS