Influencer Ditawari Bungkam Rakyat: Jeri dan Jerome Polin Tolak Jadi Corong Kekuasaan!

Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Influencer Ditawari Bungkam Rakyat: Jeri dan Jerome Polin Tolak Jadi Corong Kekuasaan!
Jerome Poline Ditawari Jadi Buzzer Pemerintah (Instagram/jeromepolin)

Ada sesuatu yang menyedihkan sekaligus ironis dalam babak terbaru negeri ini. Di saat rakyat berkumpul di jalanan, mengangkat suara dengan napas tercekat oleh gas air mata, di saat mahasiswa berlari dikejar pentungan, dan di saat seorang ojol meregang nyawa dilindas rantis barracuda yang nggak kenal ampun, negara justru punya agenda lain: Mencari buzzer!

Iya, buzzer!

Di tengah luka dan tangisan, mereka sibuk menyiapkan narasi, bukan solusi.

Seakan-akan rakyat adalah audiens, tragedi adalah panggung, dan penderitaan hanyalah latar untuk sebuah konten yang bisa dijinakkan dengan filter cerah dan lagu riang di media sosial. 

Jerome Polin ditawari menjadi buzzer dengan bayaran Rp150 juta (Instagram)
Jerome Polin ditawari menjadi buzzer dengan bayaran Rp150 juta (Instagram)

Lalu, muncullah kabar influencer muda, Jeri (Kamar Jeri), termasuk Jerome Polin, yang ditawari ikut jadi bagian dari panggung politik. 

Jeri yang suka membagikan informasi terkini pada audiens di YouTube, dan Jerome yang selama ini membranding diri sebagai sosok sederhana dan smart dengan mengajar matematika dengan canda ringan, tiba-tiba mereka diminta mengajarkan sesuatu yang jauh lebih kelam, perihal bagaimana cara menutup jeritan rakyat dengan senyum buatan. Bagaimana cara menghitung engagement dari luka bangsa.

Namun, Jeri dan Jerome menolak.

Satu kata yang terdengar kecil, tapi pantulannya besar sekali. “Tidak!” Kata yang sederhana, tapi beratnya melampaui seribu narasi pemerintah yang dibayar mahal.

Di situlah kita melihat wajah negara yang sebenarnya. Betapa jauhnya mereka dari denyut rakyat. 

Bayangkan, Sobat Yoursay! Rakyat menuntut keadilan, tapi pemerintah malah menawarkan konten. Rakyat meminta solusi, tapi yang diberi nantinya tagar. Rakyat berduka, tapi yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana agar trending topic bisa dikendalikan untuk meredam amarah rakyat. 

Miris sekali!

Seolah-olah kita semua ini hanyalah followers yang bisa dikelola. Seolah-olah air mata bisa dipoles jadi campaign. Seolah-olah luka bisa dihapus dengan emoji.

Penolakan Jeri dan Jerome jadi pengingat bahwa masih ada harapan kecil di tengah situasi suram ini. Merekaa memilih untuk nggak ikut menjual nurani. Mereka tahu, uang negara dari pajak bisa membeli banyak hal, tapi nggak bisa membeli harga diri. Dan dari sanalah muncul dukungan deras dari netizen. Orang-orang merasa lega, merasa masih ada figur publik yang nggak tergoda untuk jadi corong kekuasaan.

Namun, dukungan itu sekaligus membuka luka yang lebih dalam. Kalau Jeri dan Jerome menolak, itu berarti memang benar tawaran itu ada. Memang benar negara menganggap influencer lebih penting daripada suara rakyat di jalanan. Memang benar mereka lebih percaya pada algoritma media sosial ketimbang dialog terbuka dengan rakyatnya sendiri.

Miris sekali! Di ulang tahun DPR yang ke-80, rakyat nggak mendapat hadiah selain gas air mata. Di hari yang seharusnya jadi renungan lembaga legislatif tertua negeri ini, yang ada justru penolakan, demonstrasi, dan duka. Namun, alih-alih bercermin, mereka malah menambal retakan itu dengan buzzer.

Apakah ini bukan satir paling kejam dalam sejarah kita? Bahwa lembaga yang katanya rumah rakyat, malah melahirkan politik yang menutup mulut rakyat. Bahkan, tragedi di jalan raya bisa disejajarkan dengan drama di Instagram. Termasuk suara mahasiswa diseimbangkan dengan cuitan buzzer. Gila!

Sejarah sudah mengajarkan, buzzer hanya bergema sebentar. Mereka bisa bikin heboh di timeline, bisa trending semalam, bisa mengubah persepsi sekejap. Namun, waktu akan selalu berpihak pada yang jujur. Kebohongan akan pudar, sementara penolakan yang sederhana, seperti “tidak” dari Jeri dan Jerome, akan terus diingat rakyat. .

Dan mungkin, itu adalah ironi terbesar. Di titik ini, kita tahu, bukan soal Jeri dan Jerome semata. Ini tentang kita semua. Tentang rakyat yang menolak dibungkam dengan konten, tentang mahasiswa yang menolak dihapus dari sejarah, tentang ojol yang tubuhnya meregang nyawa, bukan untuk jadi headline sementara, tapi untuk jadi tanda bahwa negeri ini sedang sakit parah.

Dan kita pun sadar, di tengah semua hiruk-pikuk, buzzer boleh saja berteriak sekeras-kerasnya. Namun, gema mereka hanya sementara. Yang akan abadi hanyalah seruan rakyat yang menggema menuntut keadilan. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?