Guru Hebat Butuh Kebijakan yang Nggak Setengah-Setengah

Hikmawan Firdaus | Budi Prathama
Guru Hebat Butuh Kebijakan yang Nggak Setengah-Setengah
Ilustrasi seorang Guru. (Pixabay/@Pezibear)

Kalau mau pendidikan kita maju, kuncinya cuma satu: guru. Mereka bukan sekadar “tukang ngajar” yang hadir di kelas, tapi orang yang membentuk karakter, memberi inspirasi, dan sering kali jadi role model bagi murid-muridnya. Tapi pertanyaannya, kebijakan pendidikan kita sudah benar-benar mendukung mereka belum?

Di atas kertas, pemerintah sudah bikin banyak aturan keren. Ada kewajiban guru punya ijazah minimal S1/D4, sertifikat pendidik, sampai program pelatihan dan sertifikasi lewat PPG. Tujuannya jelas: biar kualitas pengajaran meningkat. Masalahnya, di lapangan, nggak semuanya berjalan mulus.

Coba deh tengok guru di daerah perkotaan. Mereka relatif gampang ikut pelatihan atau workshop. Tapi guru di daerah terpencil? Akses terbatas, sinyal internet susah, jarak jauh ke kota, bahkan info pelatihan pun kadang nggak nyampe. Hasilnya, kualitas guru di satu daerah bisa jauh berbeda dengan daerah lain.

Pelatihan yang ada juga kadang terkesan “formalitas”. Terlalu teoritis, nggak nyambung sama realita di kelas, dan lebih fokus ke laporan administrasi daripada skill yang benar-benar bisa dipakai. Nggak heran kalau efeknya ke kualitas belajar murid masih belum signifikan.

Soal insentif seperti tunjangan profesi memang membantu. Guru jadi lebih sejahtera, tapi nggak otomatis bikin kualitas mengajar melonjak. Soalnya, yang bikin guru hebat itu bukan cuma gaji, tapi juga lingkungan kerja yang mendukung, kesempatan berkembang, dan motivasi yang dibangun dari dalam.

Contoh Kebijakan yang Sukses

Program Guru Penggerak dari Kemendikbud bisa dibilang salah satu yang cukup berhasil. Program ini nggak cuma fokus pada materi pelajaran, tapi juga kepemimpinan, inovasi, dan kolaborasi antar-guru. Guru yang ikut biasanya pulang dengan semangat baru dan ide segar yang langsung mereka terapkan di sekolah.

Contoh lain, di Kabupaten Wonosobo, ada program pelatihan guru berbasis komunitas yang diinisiasi pemerintah daerah. Mereka memanfaatkan jejaring guru untuk saling berbagi praktik baik, tanpa bergantung pada pelatihan pusat yang kadang lambat. Hasilnya, guru lebih kreatif dan merasa dihargai.

Contoh Kebijakan yang Kurang Berhasil

Di sisi lain, ada juga program yang niatnya bagus tapi implementasinya tersandung. Misalnya, pelatihan berbasis modul daring yang diluncurkan untuk guru di daerah terpencil. Masalahnya, daerah tersebut justru punya koneksi internet yang lemah. Akhirnya, banyak guru nggak bisa ikut secara maksimal, dan sertifikat yang mereka dapatkan pun terasa “kosong” karena materinya nggak betul-betul terserap.

Ada pula kebijakan rotasi guru yang tujuannya meratakan kualitas pendidikan. Tapi, karena minim persiapan dan adaptasi, guru malah kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan murid kehilangan kontinuitas belajar.

Sekarang zaman digital. Guru dituntut melek teknologi, apalagi setelah pandemi COVID-19 yang memaksa semua pindah ke pembelajaran daring. Ada guru yang cepat beradaptasi, bikin materi kreatif di YouTube atau pakai aplikasi interaktif. Tapi ada juga yang kewalahan karena minim pelatihan dan dukungan teknis. Ini bukti kalau transformasi digital butuh strategi nasional, bukan sekadar inisiatif pribadi guru.

Idealnya, kebijakan pengembangan guru itu nyambung dari hulu sampai hilir. Mulai dari kompetensi pedagogik, penguasaan materi, kemampuan sosial, sampai integritas pribadi. Semua guru harus punya akses yang sama ke peluang pengembangan, entah dia mengajar di pusat kota atau di pulau terluar.

Pemerintah pusat dan daerah juga harus kompak. Jangan sampai program tumpang tindih atau malah nggak nyambung. Kalau koordinasi jalan, kebijakan bisa lebih tepat sasaran dan guru benar-benar merasakan manfaatnya.

Intinya, bikin guru berkembang itu bukan proyek instan. Nggak bisa cuma 1-2 tahun lalu selesai. Ini investasi jangka panjang yang butuh konsistensi, evaluasi terus-menerus, dan keberanian untuk memperbaiki kalau ada yang melenceng.

Guru adalah pilar utama pendidikan. Kalau pilar ini kokoh, bangunan pendidikan kita berdiri tegak. Tapi kalau pilar ini rapuh, ya siap-siap aja bangunan itu goyah. Jadi, kalau kita serius mau punya generasi masa depan yang hebat, mulailah dengan memastikan guru punya semua yang mereka butuhkan untuk berkembang, dari kebijakan, pelatihan, sampai dukungan moral.

Karena, seperti kata pepatah lama yang nggak pernah basi: “Guru yang baik mengajar, guru yang hebat menginspirasi.” Dan untuk melahirkan guru hebat, kebijakannya juga harus hebat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?