Sebagai perempuan, menstruasi adalah fenomena alami yang menandakan tubuh yang sehat. Intinya, menstruasi itu normal. Namun, ada polemik sosial yang bahkan kualami sendiri, yaitu soal membeli pembalut.
Menstruasi itu Normal!
Melansir laman Alodokter, menstruasi adalah tanda pubertas pada perempuan dimana sel telur di dalam dinding lahir mengalami peluruhan karena nggak dibuahi. Rasa-rasanya, materi ini sudah diajarkan sejak SD deh.
Ketika menstruasi, maka keberadaan pembalut dibutuhkan untuk menampung darah sementara. Walau ada juga yang menggunakan tampon dan menstrual cup sih. Namun jujur, aku prefer pembalut karena takut dengan tampon atau menstrual cup.
Polemik Beli Pembalut Masih Dianggap Aneh?
Sayangnya, setiap kali kita beli pembalut entah di warung, toko, hingga swalayan besar, entah kenapa banyak orang merasa aneh. Apa ya, pandangan mereka itu menghakimi gitu lho. Padahal aku sendiri yang notabenenya seorang perempuan yang memilih item dan membelinya.
Yang paling lucu, ketika membayar di kasir swalayan, dan seorang kasir yang juga perempuan berkata: “Oh dulu jaman saya muda, tiap kali beli pembalut pasti malu dan buru-buru dikresek hitam. Anak sekarang mah enggak.”
Lah, kenapa malu beli pembalut? Bukannya kalau masih ada yang beli berarti masih ada perempuan yang menstruasi dan itu berarti hal bagus ya? Berarti masih ada perempuan-perempuan sehat gitu kan?
Stigma Negatif Masa Lampau
Namun, aku kemudian menyadari bahwa stigma buruk terhadap menstruasi sudah ada sejak zaman lampau. Kamu mungkin pernah mendengar kisah pada masa jahiliyah, ketika perempuan yang sedang menstruasi harus tidur di kandang unta?
Atau stigma bahwa perempuan yang mengalami “tembus” saat menstruasi dianggap berdosa?
Aku sendiri pernah mendengar keduanya. Rasa takut pun muncul ketika aku mengalami “tembus” saat SMP. Mau bagaimana lagi, jiwa anak SMP pada masa itu memang masih polos dan kurang paham. Jadi, wajar saja jika mudah termakan stigma buruk semacam itu.
Laki-Laki Turut Menyumbang Rasa Malu pada Perempuan
Sebagai perempuan, kami cenderung mampu menyimpan rahasia soal “tembus” saat menstruasi, bahkan dari sesama teman. Kami juga tak segan saling membantu di masa genting, entah dengan memberikan pembalut atau meminjamkan jaket untuk menutupi rok yang terkena noda darah.
Namun, yang paling menyebalkan adalah ketika siswa laki-laki mulai bertingkah. Aku masih ingat guyonan mereka yang, jujur saja, terasa nyelekit pada masa sekolah. Mereka mengomentari keberadaan “benda sumpalan” (pembalut) yang hampir selalu ada di tas siswi perempuan, lalu tertawa ketika melihat beberapa siswi saling memberi bantuan pembalut.
Belum lagi saat ada razia tas di sekolah, dan guru laki-laki terkekeh ketika mendapati pembalut di dalam tas murid. Rasanya ingin bertanya: memang kenapa? Salahkah perempuan membawa pembalut di dalam tas? Ini pembalut bersih, masih tersegel pula.
Mungkin Tidak Masalah jika Bersikap Bodo Amat
Menyikapi berbagai polemik sosial soal pembalut, rasanya tidak masalah jika kita bersikap bodo amat. Toh, kita membeli pembalut yang bersih dan steril, bukan mencuri barang di toko.
Tidak perlu malu atau minder saat membeli pembalut, karena ini bukanlah hal tabu. Apalagi di zaman sekarang, stigma buruk soal pembalut perlahan mulai memudar. Semakin banyak orang menyadari bahwa menstruasi dan pembalut adalah sesuatu yang normal. Laki-laki pun kini semakin terbuka, dan semoga tidak lagi termakan stigma kuno dari masa lampau.
Kesimpulannya, membeli pembalut bukanlah hal yang memalukan selama proses transaksinya dilakukan secara jujur. Jika yang dilakukan adalah kecurangan, seperti mencuri, atau meminta pembalut pada teman karena malas membawa persiapan sendiri, nah, itu yang justru patut dipermalukan.