Antara Emosi dan Algoritma: Mengapa FYP Dipenuhi Lagu Galau?

Bimo Aria Fundrika | Zahrin Nur Azizah
Antara Emosi dan Algoritma: Mengapa FYP Dipenuhi Lagu Galau?
Ilustrasi mendengarkan lagu galau. (Pexels/Ivan S)

Pernah tidak, kamu sedang scroll ponsel dengan santai, lalu tanpa sadar berhenti di satu video berisi potongan lagu galau? Kamu lanjut scroll lagi. Namun yang muncul justru lagu lain dengan nada sendu, lengkap dengan quotes sedih yang terasa relate.

Lama-lama muncul pertanyaan di kepala: kok pas banget, ya? Apakah ini sekadar kebetulan, atau algoritma benar-benar “mengerti” perasaan kita?

Musik memang punya kekuatan besar dalam memengaruhi suasana hati. Saat berolahraga, kita cenderung memilih lagu dengan beat cepat dan penuh semangat. Sebaliknya, ketika sedang sedih atau lelah secara emosional, lagu bernada mellow terasa lebih cocok menemani.

Lirik-liriknya sering kali terasa relevan dengan apa yang sedang kita alami. Apalagi jika lagu tersebut dipadukan dengan potongan video atau kutipan galau di media sosial, rasanya makin sulit untuk melewatkan begitu saja. Akhirnya kita menonton sampai selesai, bahkan kadang mengulangnya. Dari situlah, FYP kita perlahan dipenuhi konten serupa.

Bukan Soal Perasaan, tapi Pola Kebiasaan

Hampir semua orang sudah tahu bahwa media sosial bekerja dengan algoritma. Singkatnya, algoritma adalah sistem yang menggunakan berbagai sinyal untuk menentukan konten apa yang dianggap relevan bagi penggunanya dan kemudian menampilkannya di FYP. Sinyal ini bisa berupa durasi menonton, jeda saat berhenti dan menonton, like, komentar, hingga membagikan video ke orang lain.

Ketika kamu berhenti lebih lama di satu video lagu galau yang muncul di beranda, algoritma menangkapnya sebagai ketertarikan terhadap konten tersebut. Jika hal itu terjadi berulang kali, terutama saat kamu sedang sedih dan memang cenderung mencari lagu-lagu melankolis, maka FYP-mu akan dipenuhi konten dengan lagu serupa, meski dikemas dalam video yang berbeda. Jadi, algoritma sebenarnya tidak memahami perasaanmu. Ia hanya membaca pola kebiasaanmu dan menyesuaikan konten berdasarkan itu.

Musik sebagai Bahasa Emosi yang Aman

Di balik itu semua, ada alasan mengapa lagu galau terasa begitu dekat. Musik memang mampu memengaruhi mood dan membantu mengatur emosi negatif. Saat seseorang sedang sedih, salah satu hal terpenting adalah tidak memendam perasaan tersebut sendirian. Lagu galau bisa menjadi perantara yang aman untuk meluapkan emosi, tanpa harus menjelaskan apa pun kepada orang lain.

Banyak orang merasa lebih dipahami lewat lirik lagu dibandingkan lewat percakapan. Musik menjadi ruang aman untuk merasa sedih tanpa takut dihakimi. Bahkan bisa membantu kita mengenali emosi sendiri, memberi validasi bahwa sedih adalah bagian dari perasaan manusia, bukan sesuatu yang harus disangkal atau dianggap lemah. Dalam jangka pendek, mendengarkan lagu galau bisa menjadi pelepas emosi yang sehat, bahkan menjadi teman setia saat kita belum siap bicara dengan siapa pun.

Ketika Lagu Galau Mulai Terasa Melelahkan

Namun, seperti hal lainnya, ada batas yang perlu dijaga. Mendengarkan lagu galau memang punya sisi baik, tetapi jika dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa berbalik arah. Lagu sedih yang diputar tanpa jeda justru berpotensi memperpanjang rasa sedih, membuat kita betah di emosi negatif, dan memicu overthinking. Di titik ini, algoritma yang terus menyuguhkan konten serupa bisa memperparah keadaan.

Perasaan yang seharusnya diproses dan dikelola pelan-pelan malah dipelihara terlalu lama. Kita merasa ditemani, tapi tanpa sadar terjebak dalam lingkaran emosi yang tidak sehat. Karena itu, penting untuk peka pada diri sendiri: kapan musik membantu menenangkan, dan kapan justru mulai melelahkan.

Mengambil Kembali Kendali

Membatasi diri bukan berarti memusuhi lagu galau. Memberi jeda, mengganti genre musik, atau bahkan beristirahat sejenak dari media sosial bisa menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Jika suatu hari kamu merasa tidak lagi ingin melihat konten tertentu, kamu juga bisa memilih opsi “tidak tertarik” pada postingan. Perlahan, algoritma akan kembali menyesuaikan arah FYP-mu.

Sebagai penutup, gunakan musik sebagai alat untuk memahami perasaan, bukan sebagai tempat bersembunyi atau lari dari kenyataan. Lagu galau bukan musuh. Yang perlu dijaga adalah cara dan durasi kita menikmatinya. Algoritma boleh menyarankan, tapi kendali tetap ada di tangan kita. Musik boleh menemani harimu, tapi jangan sampai kesedihan membuatmu sulit move on.

Sumber:

https://hellosehat.com/mental/stres/suka-mendengarkan-lagu-galau-ini-dampaknya-bagi-anda/

https://rri.co.id/lain-lain/1039392/dampak-negatif-terlalu-sering-mendengarkan-lagu-galau 

https://www.halodoc.com/artikel/baper-saat-dengar-lagu-sedih-ketahui-bahaya-depresi?srsltid=AfmBOoqqWMkavufjUbxtHGAG_M9FchBTi9tqVhJKPXv1ZLXs5MRkd6r6 

https://socs.binus.ac.id/2025/05/10/cara-kerja-algoritma-tiktok-mengungkap-teknologi-di-balik-feed-yang-sangat-adiktif/ 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak