Bagi sebagian orang, membaca buku adalah kegiatan yang menyenangkan, bahkan sudah menjadi hobi yang sulit dipisahkan dari keseharian. Membaca dipilih sebagai cara untuk melepas penat, pelarian dari rutinitas yang padat, serta jeda dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Saat tenggelam dalam bacaan, pikiran terasa lebih rileks dan tubuh pun ikut merespons dengan rasa tenang. Tak heran jika membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang selalu membawa dampak positif bagi kesehatan mental.
Namun, di balik citra membaca sebagai kegiatan yang menenangkan, ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Bagi sebagian pembaca, terutama pembaca novel, membaca justru dapat menimbulkan kelelahan mental.
Ada yang mengaku bahwa setelah membaca buku, pikirannya masih dipenuhi alur cerita, konflik tokoh, bahkan emosi tertentu hingga berhari-hari. Alih-alih merasa ringan, pembaca justru merasa lelah secara emosional.
Membaca dan Potensinya sebagai Terapi
Pandangan bahwa membaca dapat membantu kesehatan mental bukanlah anggapan semata. Dalam dunia psikologi, dikenal sebuah terapi bernama biblioterapi. Menurut Alodokter, biblioterapi merupakan terapi yang memanfaatkan kegiatan membaca untuk membantu mengurangi stres dan kecemasan. Terapi ini dapat dilakukan secara mandiri maupun berkelompok, dengan atau tanpa pendampingan psikolog, tergantung pada tujuan dan kondisi pembacanya.
Dalam biblioterapi, bacaan yang dipilih biasanya memiliki kedekatan dengan masalah yang sedang dihadapi pembaca. Melalui cerita, pembaca diajak memahami emosi tokoh, melihat cara tokoh menghadapi konflik, lalu menarik makna dari pengalaman tersebut.
Jika pembaca mampu menangkap pesan yang disampaikan, diharapkan pemahaman itu dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, membaca bisa menjadi proses reflektif yang membantu seseorang memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.
Pendekatan ini bahkan bisa dicoba secara mandiri di rumah, dengan catatan dilakukan secara terarah. Pembaca perlu memilih bacaan yang sesuai dengan kondisi emosinya saat itu, bukan sekadar mengikuti tren atau dorongan rasa penasaran semata.
Saat Novel Terasa Terlalu Dekat dengan Emosi Pembaca
Di sisi lain, tidak semua pengalaman membaca berjalan sama dengan konsep biblioterapi. Ada kondisi ketika pembaca justru sulit melepaskan diri dari novel yang telah selesai dibaca. Istilah sederhananya, pembaca belum bisa move on. Beberapa adegan tertentu terus teringat, konflik tokoh seolah masih berlanjut di kepala, bahkan muncul dorongan kuat untuk membicarakan buku tersebut kepada siapa pun yang ditemui.
Fenomena ini sering dianggap sebagai tanda keberhasilan penulis dalam menyampaikan cerita dan pesan. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, kondisi tersebut juga memiliki penjelasan psikologis. Fenomena ini dikenal dengan istilah book hangover. Menurut sejumlah kajian, book hangover terjadi karena saat membaca, pembaca melibatkan emosi secara intens. Otak memproses pengalaman karakter seolah-olah itu adalah pengalaman pribadi. Ketika cerita berakhir, muncul kekosongan emosional yang tertinggal.
Akibatnya, sebagian pembaca merasa sulit memulai buku baru, terus memikirkan nasib karakter, atau membayangkan kemungkinan lanjutan cerita. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini dapat memicu kelelahan mental, terutama jika tema novel yang dibaca cukup berat atau memiliki kedekatan dengan pengalaman pribadi pembaca.
Mengelola Emosi Setelah Membaca Buku
Penting untuk dipahami bahwa membaca novel tetaplah aktivitas yang baik dan bukan hobi yang berbahaya. Melalui membaca, seseorang dapat melatih empati, memperluas cara pandang, serta meningkatkan kepekaan sosial. Dari hobi ini, kita bisa belajar memahami emosi, melihat proses pengambilan keputusan, dan memahami orang lain dari sudut pandang yang berbeda.
Namun, seperti aktivitas lain yang melibatkan emosi, membaca juga membutuhkan kesadaran akan batas diri. Ketika membaca mulai terasa melelahkan, mengambil jeda bukanlah sebuah kesalahan. Pembaca dapat berhenti sejenak, menulis refleksi atas bacaan yang telah selesai, atau mendiskusikan isi novel dengan teman maupun komunitas pembaca. Proses ini membantu melepaskan emosi yang menumpuk dan mencegah kelelahan mental berkepanjangan.
Sebagai penutup, membaca tidak harus selalu terasa ringan dan tenang di akhir. Ketika membaca mulai melelahkan, berhenti sejenak bisa menjadi cara yang sehat. Langkah ini penting agar pembaca tetap bisa menikmati buku tanpa memaksakan diri. Dengan cara ini, membaca dapat tetap menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan, tanpa mengorbankan kesehatan mental.