Setiap Tahun Baru Imlek tiba, suasana berubah hangat dan penuh warna. Lampion merah menghiasi sudut kota, petasan berdentum memecah malam, dan keluarga berkumpul dalam balutan kebersamaan. Namun di balik kemeriahan itu, Imlek menyimpan kisah panjang yang berakar dari legenda kuno dan nilai kehidupan yang tetap relevan hingga kini.
Asal-usul Imlek sering dikaitkan dengan legenda monster bernama Nian. Dalam cerita rakyat Tiongkok, Nian muncul setiap akhir tahun untuk mengganggu penduduk desa. Ketakutan melanda hingga suatu hari warga menemukan bahwa makhluk itu takut pada warna merah, api, dan suara keras. Sejak saat itu, rumah-rumah dihiasi warna merah, lentera dinyalakan, dan petasan dibakar untuk mengusirnya. Kata “Nian” sendiri berarti “tahun”, sehingga legenda ini menjadi simbol kemenangan atas rasa takut dan awal yang baru.
Secara historis, perayaan Tahun Baru Cina telah berlangsung lebih dari dua ribu tahun. Pada masa dinasti kuno, Imlek merupakan momen syukur atas hasil panen dan doa untuk keberuntungan di tahun berikutnya. Tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan keluarga yang menekankan pentingnya kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Imlek mengikuti kalender lunar, sehingga tanggalnya selalu berubah dalam kalender Masehi, biasanya antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Setiap tahun diwakili satu dari dua belas hewan shio dalam siklus dua belas tahunan. Shio bukan sekadar simbol, tetapi dipercaya membawa karakter dan peruntungan tersendiri.
Tradisi angpao juga memiliki makna filosofis. Amplop merah berisi uang bukan sekadar hadiah, melainkan simbol doa, keberkahan, dan energi positif. Warna merah dipercaya melambangkan keberuntungan serta penolak hal-hal buruk.
Di Indonesia, perjalanan Imlek juga menyimpan dinamika sejarah. Perayaan ini pernah mengalami pembatasan pada masa tertentu. Namun perubahan penting terjadi ketika Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan kebebasan masyarakat untuk merayakan Imlek secara terbuka. Sejak saat itu, Imlek resmi menjadi hari libur nasional dan menjadi bagian dari keberagaman budaya Indonesia.
Rangkaian perayaan berlangsung selama lima belas hari dan ditutup dengan Cap Go Meh atau Festival Lampion. Lampion yang menyala menjadi simbol cahaya harapan di awal tahun yang baru.
Pada akhirnya, Imlek bukan hanya tentang dekorasi merah atau hidangan khas. Ia adalah refleksi tentang keberanian menghadapi tantangan, mempererat hubungan keluarga, dan membuka lembaran baru dengan semangat optimisme. Di setiap dentuman petasan dan cahaya lampion, tersimpan pesan sederhana: selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.