Belakangan ini, quarter life crisis sering menjadi topik pembahasan di kalangan milenial. Meskipun demikian, masih ada saja orang yang belum betul-betul memahami arti dari istilah quarter life crisis. Karena ketidaktahuan tersebut, tak jarang mereka jadi menganggap remeh kondisi yang sebenarnya bisa berakibat serius ini.
Quarter life crisis merupakan suatu periode yang umumnya dialami oleh seseorang pada rentan usia 20-30 tahun. Fase ini ditandai dengan seseorang yang mulai mempertanyakan jati dirinya, tujuan hidupnya, kemampuan yang dimiliki, hingga masa depannya. Dari sederet pertanyaan yang menghantui tersebut, akan muncul rasa khawatir berlebih, galau, bingung, takut, bahkan depresi.
Meskipun QLC merupakan sesuatu yang sangat wajar untuk dialami siapa pun, krisis diri ini tetap bisa berdampak negatif bila tidak disikapi dengan bijak. Nah, berikut terdapat beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi quarter life crisis. Yuk, simak, agar tidak salah langkah.
1. Kenali diri lebih dalam lagi
Banyak orang mengaku sering merasa kebingungan saat dilanda quarter life crisis, bahkan ada juga yang dibuat stres karenanya. Terlepas dari semua itu, periode ini merupakan suatu hal yang penting untuk dialami oleh setiap orang. Karena hanya dengan ini mereka dapat terdorong untuk mengenali diri sendiri secara lebih mendalam, sekaligus mempersiapkan segala kemungkinan di masa depan.
Salah satu cara untuk menghadapi QLC adalah, dengan mengajukan beberapa pertanyaan penting menyangkut hidupmu. Seperti, hal apa yang hendak kamu capai kedepannya, apa kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki. Dengan menjawab setiap pertanyaan barusan, diharapkan kamu bisa bebas dari jeratan perasaan bingung, dan juga mengetahui hal apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidup ini.
2. Menyetop kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain
Selain membuang-buang waktu, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga hanya akan membuatmu semakin khawatir dan merasa rendah diri. Daripada terus memikirkan kemajuan orang lain, lebih baik kamu mulai mencari tahu potensi apa yang kamu miliki, lalu kembangkan agar membuahkan hasil yang terbaik.
Kesuksesan orang lain cukup kamu anggap sebagai motivasi yang melecut semangatmu. Usahakan untuk tidak menilai diri kamu sendiri berdasarkan pencapaian yang digapai orang lain.
Tanamkan di pikiranmu bahwa setiap orang punya jalan dan cerita hidupnya masing-masing. Jadi, jangan pernah merasa tertinggal, gagal, atau kalah. Kamu hanya perlu berfokus pada dirimu sendiri, tujuan, serta proses yang sedang kamu tempuh.
3. Batasi penggunaan media sosial
Masih berkaitan dengan hal sebelumnya, kebiasaan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain biasanya berawal dari penggunaan media sosial. Saat bermain media sosial, pastinya kamu sering menjumpai unggahan dari teman maupun sanak saudara yang membuatmu beranggapan kalau hidup mereka jauh lebih beruntung dan membahagiakan ketimbang kamu.
Padahal, kondisi hidup seseorang yang dibagikan lewat medsos belum tentu sama dengan keadaan aslinya. Oleh karena itu, lebih baik kamu mulai sedikit demi sedikit mengurangi porsi penggunaan media sosial dalam sehari-hari, supaya kamu bisa menaruh perhatian pada hal yang benar-benar penting saja.
4. Cari dukungan dari orang terdekat
Dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat juga bisa membantumu melewati fase yang terkadang menyulitkan ini. Berbagilah dengan mereka yang kamu percaya. Yakinlah bahwa kehadiran orang lain yang peduli dan mau mendengarkan di sekitarmu akan membuatmu jauh lebih tenang.
Jadi, kamu tidak boleh menarik diri dari lingkungan sosial, atau menyendiri saat menjalani hidup. Carilah orang-orang yang mampu memotivasi kamu. Dengan begitu, kamu bisa segera bangkit dari kegelisahanmu, dan bertransformasi menjadi lebih baik.
5. Susun rencana hidup
Agar tidak mudah tertekan dengan pencapaian orang lain, cobalah untuk menyusun rencana hidupmu sendiri. Pikirkan hal apa saja yang hendak kamu raih dalam beberapa tahun ke depan. Tak cukup di situ, kamu juga perlu merencanakan langkah-langkah tepat untuk merealisasikan impian tersebut.
Yuk, mulai sekarang, sempatkanlah setidaknya sedikit waktu untuk merenung dan mulai merancang rencana hidup dengan matang. Dengan begitu, kamu akan lebih mengenal sosok dirimu yang sebenarnya, dan tahu seperti apa tujuan hidupmu.
6. Melakukan aktivitas positif
Ketika kamu dihadapkan pada krisis seperempat abad ini, jangan hanya berdiam diri saja sambil meratapi hidupmu. Sebab, hal tersebut tak dapat mengubah keadaan. Sebisa mungkin kamu harus menyibukkan diri dengan melakukan berbagai kegiatan positif. Seperti menjalankan hobi, atau belajar keahlian baru.
Selain ampuh mengalihkan pikiranmu dari hal-hal negatif yang disebabkan oleh QLC, kamu juga bisa sekalian mengasah kemampuanmu dalam suatu bidang.
Nah, itu tadi enam cara bijak menghadapi quarter life crisis. Mengingat fase ini adalah hal yang lumrah untuk dialami oleh siapa pun, oleh sebab itu kamu jangan terlalu panik saat QLC menimpamu. Tetap semangat dalam memasuki tahap pendewasaan ini!