facebook

6 Kuliner Khas Indonesia Dulu Sajian Buat Raja, Kini Dinikmati Orang Banyak

Andi Nitha Nahfiah
6 Kuliner Khas Indonesia Dulu Sajian Buat Raja, Kini Dinikmati Orang Banyak
ilustrasi gudeg (Instagram.com/resepsayur354)

Dahulu di Indonesia terdiri banyak kerajaan-kerajaan. Tidak mengherankan banyak kuliner khas Indonesia yang merupakan sajian buat raja.

Seiring perkembangan zaman makanan tersebut kini dapat dinikmati orang banyak dan banyak dijajakan. Berikut enam makanan khas Indonesia dulu sajian raja, kini dinikmati orang banyak, yaitu

1. Pecel

ilustrasi pecel sayuran(instagram.com/lysa_tangkulung)
ilustrasi pecel sayuran(instagram.com/lysa_tangkulung)

Pecel adalah sayuran yang direbus kemudian disiram bumbu kacang. Pecel sudah ada sejak abad ke-9 karena tercatat dalam kitab Kakawin Ramayana yang diperkirakan kitab tersebut sudah ada sejak abad ke-8. Kitab Kakawin Ramayana ini berisi cerita Ramayana yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno.

Pecel dulu sajian yang hanya untuk raja dan para tamunya. Namun, saat ini pecel sangat mudah temui di warung atau pasar-pasar yang menjual berbagai makanan untuk sarapan.

Maka saat berkunjung ke Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur jangan lewatkan untuk mencicipi pecel, ya.

2. Rujak

ilustrasi rujak(Instagram.com/aguskusmanaputra)
ilustrasi rujak(Instagram.com/aguskusmanaputra)

Rujak sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia. Ternyata rujak dahulu hanya untuk sajian raja, lo. Diduga rujak sudah ada sejak kerajaan Mataram. Hal ini disebutkan dalam prasasti Taji pada abad ke-9. Semula bernama rerujak kemudian berubah menjadi rujak untuk memudahkan pelafalannya.

Rujak kini banyak dijajakan menggunakan gerobak kecil atau di warung-warung. Apakah kamu suka makan rujak?

3. Dawet

ilustrasi dawet(Instagram.com/serayu_news)
ilustrasi dawet(Instagram.com/serayu_news)

Dawet minuman khas dari Jawa Timur ini banyak dijajakan dipinggir jalan atau gerai menjual minuman. Dawet sudah ada sejak dahulu, dari zaman kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Disebutkan dalam sebuah karya sastra Jawa kuno bernama Kakawin Kresnayana. 

Sebagai pelepas dahaga yang nikmat, dawet dahulu sebagai suguhan bagi para raja. Namun, sekarang kamu dengan bebas dapat membeli dan menikmat dawet ini.

4. Barongko

ilustrasi barongko(Instagram.com/anhie_zud)
ilustrasi barongko(Instagram.com/anhie_zud)

Sulawesi Selatan dikenal memiliki beraneka ragam kuliner. Salah satunya adalah barongko. Barongko pada zaman dahulu  tergolong makanan mewah yang hanya disajikan untuk kaum bangsawan dari kerajaan Bugis. Seiring berjalannya waktu barongko kini dapat dinikmati oleh banyak orang. Terutama saat acara-acara penting dan bulan puasa.

5. Nasi blawong

ilustrasi nasi blawong(Instagram.com/birotapemsetdadiy)
ilustrasi nasi blawong(Instagram.com/birotapemsetdadiy)

Nasi blawong adalah nasi putih  yang dimasak menggunakan rempah sehingga setelah tanak nasi berubah menjadi berwarna merah. Nasi blawong merupakan makanan khas Yogyakarta dan dianggap sakral karena dahulu hanya disajikan saat memperingati acara tinggalan dalem atau ulang tahun sultan Hamengkubuwono.

Jika kamu penasaran dengan nasi blawong ini, dapat kunjungi Gadri Resto yang terletak di sebelah barat keraton Yogyakarta.

6. Ketan bintul

ilustrasi ketan bintul(Instagram.com/infoserang)
ilustrasi ketan bintul(Instagram.com/infoserang)

Apakah kamu pernah mencicipi ketan bintul? Makanan ini sudah ada sejak abad ke-16, dan merupakan makanan favorit para sultan Banten. Ketan bintul ini menjadi makanan wajib para sultan saat buka puasa.Berjalannya waktu ketan yang ditabur serundeng ini menjadi makanan yang dapat dinikmati oleh masyarakat Banten terutama pada bulan Ramadan.

Indonesia memang kaya akan kulinernya dan semuanya enak. Dikenal sejak dahulu, seperti kuliner di atas sudah ada sejak zaman kerajaan. kini kuliner tersebut dapat dinikmati orang banyak. Ayo, cintai kuliner Indonesia yang enaknya tidak ada tandingan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak