Sering Cemas Hari Senin? Inilah Mengapa Gen Z Rentan Kena Monday Blues

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Sering Cemas Hari Senin? Inilah Mengapa Gen Z Rentan Kena Monday Blues
ilustrasi mengalami monday blues (Pexels/Anna Tarazevich)

Monday blues bukan sekadar rasa malas biasa. Bagi banyak Gen Z, hari Senin sering terasa lebih berat, melelahkan, dan bahkan memicu stres sejak pagi. Bangun tidur terasa enggan, mood menurun, dan pikiran sudah dipenuhi daftar tugas yang menumpuk.

Fenomena ini semakin sering dibicarakan, terutama di media sosial, karena dirasakan secara kolektif oleh generasi muda saat ini. Lalu, apa sebenarnya Monday blues dan mengapa Gen Z begitu rentan mengalaminya?

Apa Itu Monday Blues?

Monday blues adalah kondisi psikologis berupa perasaan tidak bersemangat, cemas, hingga stres yang muncul saat menghadapi hari Senin. Biasanya, kondisi ini terjadi setelah akhir pekan berakhir dan seseorang harus kembali ke rutinitas kerja, kuliah, atau sekolah.

Walaupun bukan gangguan mental, Monday blues bisa berdampak pada produktivitas, suasana hati, dan kesehatan mental jika terjadi terus-menerus. Bayangkan saja, menjelang hari Senin, perasaan tidak nyaman seolah otomatis menyerang pikiran dan perasaan.

Padahal, hari Senin juga sama seperti hari lainnya dengan rutinitas yang memang sudah dijalani berulang kali. Mindset soal Monday blues seolah terlanjur melekat hanya karena momen libur akhir pekan yang selalu dinanti terasa cepat berlalu.

Kenapa Gen Z Rentan Mengalami Monday Blues?

Ada sederet alasan mengapa Gen Z rentan mengalami Monday blues, mulai dari tekanan produktivitas yang tinggi, gagal menerapkan work-life balance, burnout, hingga rasa cemas akan masa depan.

1. Tekanan Produktivitas yang Tinggi

Gen Z hidup di era hustle culture dan media sosial yang membuat paparan konten tentang kesuksesan di usia muda, karier cemerlang, dan hidup yang terlihat “sempurna” semakin sering diterima. Tanpa disadari, hal ini menciptakan tekanan untuk selalu produktif, bahkan sejak awal minggu. Hari Senin pun terasa seperti simbol tuntutan bahwa kita harus langsung fokus, harus perform, dan tidak boleh gagal.

2. Work-Life Balance yang Kabur

Banyak Gen Z bekerja atau kuliah dengan sistem fleksibel, remote, atau hybrid. Meski terlihat santai, batas antara waktu kerja dan waktu istirahat pun terasa semakin tipis. Akibatnya, akhir pekan yang seharusnya bisa menjadi momen recharge energi tidak sepenuhnya terasa sebagai waktu pemulihan. Saat Senin datang atau bahkan belum sepenuhnya dihadapi, energi mental belum benar-benar pulih.

3. Burnout Sejak Usia Muda

Tak sedikit Gen Z yang sudah merasakan burnout di usia 20-an. Beban akademik, tuntutan karier, masalah finansial, dan ekspektasi keluarga bercampur menjadi satu. Monday blues sering kali bukan soal hari Seninnya, melainkan akumulasi kelelahan emosional yang belum terselesaikan.

4. Kecemasan akan Masa Depan

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian: isu ekonomi, sulitnya lapangan kerja, hingga tekanan sosial. Hari Senin bisa memicu kecemasan tentang masa depan—apakah usaha yang dijalani sekarang benar-benar akan membawa hasil?

Tanda Monday Blues yang Sering Dialami Gen Z

Monday blues tidak selalu terlihat jelas. Namun, ada beberapa tanda yang sering muncul, seperti mood buruk sejak Minggu malam, sulit tidur karena overthinking, atau malah kehilangan motivasi di pagi hari.

Beberapa orang bahkan mulai merasakan “sensasi” mudah lelah dan kurang fokus, serta merasa cemas tanpa alasan yang spesifik. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup dan kinerja sehari-hari.

Cara Mengatasi Monday Blues ala Gen Z

Kabar baiknya, Monday blues bisa dikelola dengan langkah-langkah sederhana tetapi konsisten. Berikut beberapa cara mengatasi Monday blues ala Gen Z yang dirasa cukup ampuh:

Jangan “Mengorbankan” Akhir Pekan: Gunakan akhir pekan untuk benar-benar beristirahat, bukan sekadar mengejar produktivitas. Tidak apa-apa memiliki slow weekend tanpa target ambisius.

Buat Transisi yang Lebih Lembut: Alih-alih langsung menumpuk tugas di Senin pagi, kamu bisa membuat agenda ringan di awal hari. Mulai dari hal kecil ternyata malah bisa membantu otak beradaptasi dengan ritme kerja di awal minggu tanpa ada rasa tertekan.

Miliki Sesuatu yang Ditunggu di Hari Senin: Entah itu kopi favorit, playlist khusus Senin pagi, atau jadwal makan siang yang menyenangkan. Hal-hal kecil semacam ini bisa memberi stimulus positif di awal minggu untuk meminimalkan dampak Monday blues.

Evaluasi Rutinitas, Bukan Menyalahkan Diri: Jika Monday blues terus berulang, bisa jadi ada yang perlu diubah dari rutinitas, bukan dari dirimu. Lingkungan kerja, beban tugas, atau ekspektasi yang terlalu tinggi layak untuk dievaluasi demi mengenali asal mula rasa tidak nyamanmu.

Monday Blues: Bukan Tanda Kamu Lemah

Penting untuk diingat, Monday blues bukan tanda lemah, malas, atau tidak bersyukur. Bagi Gen Z, ini sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran butuh jeda, arah yang lebih jelas, dan ritme hidup yang lebih seimbang. Mengakui Monday blues adalah langkah awal untuk lebih peduli pada kesehatan mental.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal bertahan dari Senin ke Jumat, melainkan juga tentang bagaimana menjalani setiap hari dengan lebih manusiawi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak