Bermukim dalam kurun waktu yang sangat lama (bahkan seumur hidup) di wilayah yang bersinggungan langsung dengan pantai, membuat mereka tak memiliki pilihan lain selain menggantungkan hidup dengan cara melaut.
Bila dicermati, ada banyak perbedaan kehidupan para nelayan dengan penduduk perkotaan. Misalnya, sebagian nelayan terbiasa hidup dalam gelimang kemiskinan dan tak bisa mendapat pelayanan pendidikan yang layak. Sementara bagi masyarakat perkotaan, mereka bisa melakukan banyak pekerjaan sesuai profesi mereka dan dapat meraih pendidikan, mulai SD hingga jenjang perguruan tinggi dengan sangat mudah.
Bicara tentang kehidupan kaum nelayan yang memprihatinkan bisa disimak dalam novel inspiratif berjudul “Petualangan Tiga Hari” karya Dian Dahlia.
Penulis yang berprofesi sebagai dokter umum ini pernah memiliki pengalaman tinggal selama 1,5 tahun di Benua Etam, Kalimantan, tepatnya di Kota Bontang. Ia berusaha mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pesisir dan kampung laut. Latar (bahkan bisa jadi sebagian cerita) dalam novel ini, secara tak langsung terinspirasi dari pengalaman penulis selama bermukim di sana.
Novel ini mengambil latar di sebuah kampung yang rumah-rumahnya berada di atas permukaan air laut. Kampung tersebut bernama Pallawa Lipu, tepatnya di satu sisi Selat Makassar wilayah perairan Kota Bontang, bertetangga dengan beberapa kampung laut yang lain. Pallawa Lipu berdiri tegar laksana menghadang gelombang. Rumah-rumah di atasnya ditopang oleh tiang ulin yang tertancap di dasar perairan.
Jika laut surut, tampaklah sebagian tiang-tiang itu telah dihiasi kerang yang menempel berjajar-jajar. Pada sebagian rumah tertambat ketinting (perahu kecil bermesin) sebagai alat transportasi mereka untuk bekerja. Mata pencarian utama penduduknya adalah sebagai petani rumput laut, nelayan, dan budi daya ikan di dalam keramba (hlm. 6-7).
Kisah bermula ketika Mukhlis, bocah lelaki yang sedang beranjak remaja tapi masih duduk di bangku SD, merasa sangat kecewa karena gagal diajak oleh ayahnya melintasi perairan, menuju Kota Bontang, untuk kali pertamanya. Padahal sebelumnya ayah telah berjanji akan mengajaknya.
Gegara mesin ketinting ayah rusak, rencana pun jadi berantakan. Akhirnya ayah bersama Sanusi, kakak sulung Mukhlis, ikut menumpang perahu Pak RT yang agak besar dengan membawa sekarung rumput laut untuk dijual.
Kedua orangtua Mukhlis memang bukan dari kalangan berada. Bisa dikatakan, mereka hidup pas-pasan bahkan kadang serba kekurangan. Terlebih, Mukhlis memiliki lima saudara. Sehingga tak heran bila kehidupan mereka kerap kekurangan, sementara pekerjaan ayah hanyalah sebagai nelayan dan memelihara rumput laut untuk dijual.
Suatu hari, Mukhlis memilih tidak masuk sekolah. Diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orangtua dan teman-temannya, ia ikut menumpang perahu besar yang saat itu sedang merapat. Rupanya ia masih merasa penasaran ingin melihat dan menjelajahi Kota Bontang yang telah ia impikan sejak lama yang ada di seberang sana.
Namun Mukhlis kepergok saat kapal sudah melaju cukup jauh dari daratan. Ternyata kapal tersebut disewa oleh Pak Rustam, Pak RT kampung Pallawa Lipu, untuk mengantar salah satu anggota keluarganya yang sedang sakit ke rumah sakit.
Meski Pak Rustam kesal dengan keberadaan Mukhlis yang nyelonong ke dalam perahu, tapi kemudian ia berusaha menerima kehadirannya. Untung ada Pak Hasdam, saudara Pak RT, yang bijaksana dan menyuruh Mukhlis agar membuntuti terus ke mana pun keluarganya pergi, jangan sampai memisahkan diri dari rombongan.
Sialnya, Mukhlis teledor. Ketika kapal telah merapat di dermaga, ia keasyikan melihat suasana. Akibatnya, ia tertinggal dari rombongan Pak RT yang sudah membawa anggota keluarga yang sakit dengan ambulans. Akhirnya, ia terlunta-lunta di Kota Bontang seorang diri. Sementara perutnya terasa lapar karena tadi pagi ia tak sarapan terlebih dahulu.
Berbagai kejadian, baik suka maupun duka, dialami oleh Mukhlis selama hidup terlunta-lunta di kota yang ramai dan suasananya sangat jauh berbeda dengan kampungnya.
Antara lain, saat ia bertemu Pak Jo, lelaki yang sangat jahat yang pekerjaan sehari-harinya memanfaatkan Alif, keponakannya yang masih kecil untuk dijadikan sebagai pengemis. Bersama Alif, Mukhlis pun terpaksa mengikuti segala kemauan Pak Jo, sebab kalau tidak, mereka berdua akan disiksa.
Kisah Mukhlis, anak seorang nelayan yang kesehariannya hidup dalam garis kemiskinan, dalam novel remaja terbitan Indiva (September 2020) ini masih panjang dan berliku.
Kisahnya begitu menarik dan meninggalkan pesan-pesan yang layak direnungkan oleh para pembaca. Misalnya, tentang arti persahabatan sejati, pentingnya menolong sesama yang kesulitan, dan pantangan hidup dengan cara mengemis meskipun kita sedang dalam kondisi kesulitan.