Kemegahan yang Rapuh
Mungkinkah sebutan itu dilekatkan pada tanah Sumatera?
Hijaunya jajaran Bukit Barisan ternyata hanya tampak luar belaka.
Ketika Tuhan tumpahkan air dari langit tanpa henti, semua hilang dalam sekejap!
Bukit runtuh!
Tanah longsor memutus asa, meluluhlantakkan segalanya..
--
Larut dalam untaian baris di atas, kita menyadari bahwa Sumatera adalah tanah yang megah sekaligus rapuh. Di balik keelokan lanskapnya, tersimpan risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa memutus segalanya dalam sekejap. Ketika tanah longsor menimbun jalan atau banjir bandang meruntuhkan jembatan, yang hilang bukan sekadar aspal atau beton. Yang terputus adalah denyut nadi : akses seorang ibu menuju puskesmas, jalur logistik pangan, hingga langkah kecil anak-anak menuju sekolah.
Teguhnya Asa dari Tengah Kepungan Air
Kegetiran bencana terpancar jelas dalam ingatan Muhammad Ichsan, Pembina Yayasan Darul Mukhlisin di Aceh. Saat banjir melanda, daratan seolah lenyap. “Kami memasak di atas air. Kayu-kayu besar berputar-putar menghancurkan asrama santri putri,” kenangnya dengan nada getir.
Bagi warga seperti Ichsan, langkah nyata di lapangan adalah jawaban atas asa yang tetap tumbuh di hati warga, yaitu harapan pemulihan akses. Tanpa infrastruktur yang kembali kokoh, proses belajar-mengajar dan masa depan para santri akan terus menggantung di tengah ketidakpastian.
Dedikasi: Mengubah Puing Menjadi Kepastian
Di balik deru mesin ekskavator yang memecah keheningan lokasi bencana, terdapat narasi pengabdian yang sering kali luput dari pandangan mata. Mereka adalah para petugas yang tetap berdiri tegak saat alam sedang tidak bersahabat. Tujuannya hanya satu: memastikan nadi transportasi Sumatera tidak benar-benar terhenti.
Perjuangan itu bukan sekadar tentang perbaikan fisik, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk memulihkan harapan. Di Sumatera Utara, misalnya, upaya kolektif ini terlihat pada penanganan intensif di 12 koridor jalan nasional utama yang sempat lumpuh. Di sana, infrastruktur bukan lagi sekadar benda mati, melainkan garis pertahanan terakhir bagi ribuan warga yang menggantungkan hidupnya pada kelancaran jalur logistik.
Refleksi tentang "menenun kembali" sangat terasa ketika kita melihat teknis penanganan di lapangan. Di koridor Tarutung – Sipirok, tim harus bekerja ekstra hati-hati membuat jalur detour (pengalihan) di tengah medan yang labil. Sementara di ruas Sibolga – Batangtoru, konstruksi timbunan tanah harus dibangun kembali di atas alur sungai yang baru. Penanganan ini adalah bukti bahwa pembangunan kembali bukan sekadar menambal lubang, melainkan sebuah upaya adaptasi. Ibarat sebuah dialog antara keahlian manusia dan kekuatan alam yang tak terduga.
Di sini kita belajar sebuah makna reflektif bahwa infrastruktur yang kokoh di Sumatera tidak hanya dibangun dengan semen dan baja. Ia ditegakkan di atas dedikasi mereka yang bekerja dalam senyap, memastikan bahwa "Kemegahan yang Rapuh" tidak akan pernah membiarkan masyarakatnya terputus dari masa depan.
Setiap aspal yang kembali mulus adalah janji yang ditepati. Seberat apa pun bencana menghantam, jalan menuju pemulihan akan selalu dibuka kembali.
Jembatan: Simbol Martabat dan Perlindungan Masa Depan
Kita mungkin masih ingat potret memilukan warga yang harus menyeberangi sungai dengan bertaruh nyawa pada seutas tali sling baja. Pemandangan itu adalah pengingat betapa krusialnya peran sebuah konektivitas. Namun, keamanan sebuah jembatan tidak hanya bergantung pada kokohnya struktur atas, tetapi juga pada harmoni aliran air di bawahnya.
Refleksi ini tertuang nyata dalam upaya percepatan normalisasi Sungai Batang Sumpur di Kabupaten Tanah Datar. Pascabencana lahar dingin, tumpukan material sedimen dan sampah kayu yang menyumbat alur sungai mengancam permukiman juga kekuatan jembatan di atasnya. Melalui kolaborasi taktis antara Kementerian PU dan pemerintah daerah, pengerahan alat berat untuk membersihkan sedimen dan menata alur sungai bukan sekadar pekerjaan teknis biasa. Ini adalah upaya mengembalikan rasa aman yang sempat runtuh bersama material bencana.
Sama halnya dengan pembukaan kembali Jembatan Krueng Meureudu di Aceh, langkah penanganan di Tanah Datar ini merupakan bentuk pemulihan martabat. Warga tidak perlu lagi merasa was-was setiap kali hujan turun di hulu. Para pedagang bisa kembali mengirim hasil bumi tanpa takut jalur terputus dan ambulans bisa melaju tanpa hambatan.
Normalisasi sungai dan pembangunan kembali jembatan adalah satu kesatuan napas dalam menjaga kehidupan. Bina Marga sedang menata kembali ruang hidup masyarakat agar lebih tangguh. Di sini, kerukan alat berat di dasar sungai dan aspal yang kembali mulus di atas jembatan menjadi representasi kekuatan asa yang terealisasi.
Refleksi: Membangun dengan Hati
Menangani bencana di Sumatera mengajarkan kita bahwa membangun infrastruktur adalah sebuah proses reflektif. Kita tidak sedang mencoba menaklukkan alam yang perkasa, melainkan belajar beradaptasi dengannya. Setiap retakan jalan yang diperbaiki adalah pelajaran untuk membangun konstruksi yang lebih tangguh di masa depan.
Pada akhirnya, saat tim Bina Marga menyelesaikan tugasnya dan alat-alat berat ditarik kembali ke pangkalan, mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jalan mulus. Mereka meninggalkan konektivitas manusia. Mereka memastikan bahwa tidak ada desa yang terisolasi, tidak ada mimpi yang terhenti, dan tidak ada harapan yang terputus.
Karena pada setiap jengkal jalan nasional yang terbentang di Sumatera, ada komitmen untuk memastikan bahwa hidup harus terus berjalan, apa pun ujiannya.