Ujian praktik di SMAN 4 Yogyakarta tampil berbeda dari pola ujian konvensional. Siswa tidak lagi hanya mengerjakan tugas individu, tetapi terlibat dalam proyek nyata berbasis kolaborasi lintas mata pelajaran melalui model pembelajaran inkuiri kolaboratif.
Model ini mendorong siswa untuk aktif bertanya, mengeksplorasi ide, berdiskusi, dan membangun solusi bersama dalam satu kelompok. Proses belajar tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada pengalaman langsung yang melibatkan kerja tim dan eksplorasi ide.
Proyek yang dikerjakan siswa merupakan gabungan dari berbagai mata pelajaran, mulai dari Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Informatika, Fisika, hingga Kimia. Semua bidang tersebut disatukan dalam satu konsep proyek terpadu yang saling terhubung.
Inkuiri Kolaboratif Bantu Siswa Memahami Keterkaitan Antarilmu

Kepala SMAN 4 Yogyakarta, Tri Giharto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa inkuiri kolaboratif diterapkan agar siswa memahami keterkaitan antarilmu dalam kehidupan nyata.
“Kami di SMA 4 melaksanakan pembelajaran dengan namanya inquiry kolaboratif, di mana beberapa mata pelajaran berkolaborasi membuat satu proyek yang sama,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa pendekatan ini membuat siswa tidak belajar secara terpisah-pisah antar bidang ilmu.
“Anak-anak bisa melihat bahwa ilmu itu saling berkaitan dan bisa digabungkan dalam satu karya,” kata Tri Giharto.
Proyek Nyata Siswa: Drive-Thru Yoghurt dan Toko Roti Berbasis Sensor

Salah satu contoh proyek datang dari siswa kelas 12F7, yaitu Tania, Marvel, Kirana, dan Johana. Mereka membuat konsep drive-thru yoghurt yang menggabungkan unsur fisika dan informatika dalam sistem palang pintu otomatis berbasis sensor dan LCD.
Sistem tersebut diprogram menggunakan Arduino dan bekerja secara otomatis saat sensor mendeteksi kendaraan. Konsep ini juga dikaitkan dengan pembelajaran kewirausahaan dalam praktik nyata.
Sementara itu, kelompok kelas 12F8 yang terdiri dari Siva Akesha, Amadziah Keiko, Fawadzah, Latifah Aska, dan Erlinaura menampilkan proyek toko roti mini berbasis sensor otomatis. Proyek ini menggabungkan konsep bisnis sederhana dengan teknologi sensor dalam satu sistem terpadu.
Dalam proses pengerjaan proyek, siswa menghadapi berbagai kendala. Mulai dari keterbatasan waktu, pembagian tugas, koordinasi antaranggota kelompok, hingga kendala teknis dalam pemrograman alat dan penyatuan konsep antar mata pelajaran.
Tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar kolaboratif yang membentuk komunikasi, tanggung jawab, dan kerja sama tim. Siswa belajar menyelesaikan masalah secara bersama, bukan secara individual.
Tri Giharto menegaskan bahwa tujuan utama inkuiri kolaboratif bukan sekadar hasil proyek akhir.
“Yang utama itu prosesnya, anak-anak belajar berpikir, bekerja sama, berdiskusi, dan membangun ide bersama,” katanya.
Ia berharap model pembelajaran ini dapat membentuk karakter siswa yang adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis yang kuat,” tutupnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS