Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tebarkan 450 Bibit Tumbuhan

Hayuning Ratri Hapsari | Yudi Purwanto
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tebarkan 450 Bibit Tumbuhan
Mahasiswa KKN UIN Walisongo berikan 450 Bibit Tumbuhan di Desa Rowosari, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Minggu 8 Febuari 2026. (Dok. Pribadi/Rahma).

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN-MIT) ke-21 UIN Walisongo Semarang menggelar aksi pelestarian lingkungan di Desa Rowosari, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Melalui program bertajuk “Bersama Kita Rawat dan Ruwat Alam Rowosari”, mereka menyalurkan 450 bibit tumbuhan produktif kepada masyarakat, Minggu (8/2/2026).

Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa yang menitikberatkan pada perawatan lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi warga. Mahasiswa KKN memilih bibit tanaman produktif karena dinilai mampu memberikan manfaat ekologis dan nilai ekonomi jangka panjang. Bibit yang mereka distribusikan berasal dari Persemaian Permanen Bergas, Ungaran, dengan jenis alpukat, jambu, sirsak, jengkol, dan petai.

Tim KKN menyalurkan bibit ke empat dusun di Desa Rowosari, yaitu Dusun Rowosari, Adiloko, Paten, dan Pencar. Mereka menyusun mekanisme distribusi secara terkoordinasi bersama perangkat desa. Untuk memastikan informasi menjangkau seluruh warga, mahasiswa KKN mengedarkan undangan langsung, mengumumkan kegiatan melalui speaker mushola, serta menyebarkan pamflet digital di media sosial. Warga kemudian mengambil bibit di rumah kepala dusun masing-masing.

Selain menyalurkan bibit kepada warga, mahasiswa KKN juga melakukan penanaman di ruang publik. Mereka menanam bibit di sepanjang jalan Dusun Pencar dan di Lapangan Rowosari. Langkah ini bertujuan memperkuat ruang terbuka hijau sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan desa.

Penanggung jawab kegiatan, Farah Ghifari, menegaskan bahwa tim KKN merancang program ini untuk menghasilkan dampak berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa tim secara sengaja memilih tanaman produktif agar warga merasakan manfaat nyata di masa mendatang.

“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Tanaman produktif ini kami harapkan dapat memberi hasil, baik untuk kebutuhan keluarga maupun tambahan pendapatan,” ujarnya.

Farah juga menambahkan bahwa tema “ruwat alam” memiliki makna simbolis sekaligus praktis. Mahasiswa KKN memaknai ruwat alam sebagai komitmen bersama untuk merawat, menjaga, dan memulihkan keseimbangan lingkungan melalui tindakan konkret.

Kepala Desa Rowosari menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai program mahasiswa KKN selaras dengan kebutuhan desa, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong kesadaran warga.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Mahasiswa tidak hanya menanam bibit, tetapi juga mengajak warga berpikir tentang keberlanjutan lingkungan. Kami berharap masyarakat merawat tanaman ini agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Warga menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan. Banyak warga segera mengambil bibit dan langsung merencanakan penanaman di pekarangan masing-masing. Beberapa warga bahkan ikut terlibat dalam penanaman di area publik bersama mahasiswa KKN.

Melalui aksi ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada edukasi sosial. Mereka menghadirkan kontribusi nyata melalui pelestarian lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan. Mahasiswa berharap program penebaran bibit ini mampu memicu kesadaran kolektif masyarakat untuk terus menjaga alam Desa Rowosari di masa mendatang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak