Piala Dunia 2026: Ambisi Gila FIFA dan Nasib Kita yang Cuma Jadi Zombie Kopi

M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Piala Dunia 2026: Ambisi Gila FIFA dan Nasib Kita yang Cuma Jadi Zombie Kopi
Ilustrasi FIFA World Cup. (Pixabay.com/@TayebMEZAHDIA)

Ada satu titik di mana kita harus jujur bahwa FIFA bukan lagi sekadar federasi olahraga, melainkan perusahaan hiburan yang sedang mabuk ambisi. Jika Anda berpikir Piala Dunia sebelumnya sudah cukup megah, tunggu sampai tahun 2026. Ini bukan lagi soal sepak bola; ini soal bagaimana caranya memeras perhatian dunia sampai tetes terakhir melalui konsep yang makin tidak masuk akal, tetapi anehnya tetap kita tonton juga.

Piala Dunia 2026 adalah bukti bahwa bagi Gianni Infantino, size does matter. Kali ini, tiga negara sekaligus, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, dijadikan inang. Bayangkan, sebuah turnamen sepak bola tetapi skalanya sudah seperti invasi militer lintas benua. Rasanya seperti menonton serial crossover yang dipaksakan. Hari ini kita disuguhi pemandangan stadion dingin di Kanada yang membuat tulang linu, besoknya kita dipaksa melihat panasnya Meksiko yang penuh gairah, lalu ditutup dengan kemegahan Amerika Serikat yang stadionnya lebih mirip piring terbang ketimbang lapangan bola. Ini sepak bola atau tur keliling galaksi?

Keputusan menambah peserta menjadi 48 tim juga sebenarnya adalah langkah yang jenius sekaligus menyebalkan. Di satu sisi, FIFA tampak sangat baik hati karena memberikan kesempatan kepada negara-negara yang biasanya hanya menjadi penggembira. Di sisi lain, kita semua tahu ini adalah cara paling efektif untuk mengeruk lebih banyak uang dari hak siar.

Kualitas pertandingan? Ah, itu urusan belakangan. Siap-siap saja kita melihat laga antara tim raksasa melawan negara yang mungkin kita sendiri bingung letaknya di peta sebelah mana. Skor-skor ajaib seperti 10-0 mungkin akan sering muncul, membuat kita bertanya-tanya: ini Piala Dunia atau sedang bermain FIFA Mobile level amateur?

Namun, bagi kita di Indonesia, penambahan kuota ini adalah bensin bagi mesin "kehaluan" nasional. Dengan slot yang lebih longgar, mimpi melihat Timnas Garuda tampil di panggung dunia tidak lagi terdengar seperti banyolan di grup WhatsApp bapak-bapak. Kita mulai menghitung peluang dengan kalkulator yang lebih canggih, meskipun realitasnya sering kali lebih pahit daripada kopi saset. Namun ya sudahlah, tanpa berkhayal, hidup di negeri ini memang akan terasa sangat membosankan, bukan?

Puncaknya adalah jumlah pertandingan yang membengkak menjadi 104 laga. Bayangkan, 104 pertandingan dalam 39 hari! Ini bukan lagi pesta bola, melainkan kerja paksa bagi para pemain dan ujian iman bagi para penonton. Sepak bola akan berubah menjadi bahan bakar perdebatan tak berujung, dari warung kopi hingga media sosial. Kita akan dipaksa mengonsumsi drama demi drama, dari wasit yang dicurigai memiliki agenda tersembunyi sampai teori konspirasi receh yang menyebut juara dunia sudah ditentukan melalui kocokan arisan elit global.

Masalah paling nyata bagi kita di Indonesia tetaplah zona waktu. Menonton Piala Dunia 2026 adalah resep paling ampuh untuk merusak metabolisme tubuh. Kita akan dipaksa bangun subuh demi melihat tim-tim medioker saling sikut, lalu berangkat kerja dengan mata merah dan nyawa yang masih tertinggal di bantal. Kita akan menjadi generasi zombie yang hidup dari kafein ke kafein, hanya demi bisa pamer di media sosial bahwa kita mengikuti perkembangan bola.

Pada akhirnya, World Cup 2026 memang akan menjadi peristiwa budaya yang masif. Namun, jangan tertipu oleh kemasan "persatuan umat manusia" yang sering didengungkan. Ini adalah bisnis besar, sebuah sirkus modern yang dirancang untuk memastikan kita tetap terjaga dan terus belanja. Sepak bola memang masih menjadi cerita bersama, tetapi di tahun 2026 nanti, cerita itu mungkin akan lebih banyak ditulis dengan tinta kapitalisme daripada keringat murni di lapangan hijau.

Namun, mau bagaimana lagi? Besok subuh kalau pertandingannya mulai, kita tetap akan bangun, menyeduh kopi, dan berteriak gol dengan mata setengah terpejam. Karena pada dasarnya, kita memang sudah kecanduan drama ini.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak