alexametrics

Misteri 7 Pendaki Gunung yang Meninggal Dunia dan Hilang Menyatu dengan Alam

Lirt
Misteri 7 Pendaki Gunung yang Meninggal Dunia dan Hilang Menyatu dengan Alam
Ilustrasi Gunung Kinabalu, Malaysia. (Shutterstock)

Mendaki gunung memang memiliki sensasinya sendiri. Namun mendaki gunung juga memiliki resiko yang besar bagi para pendaki. Bahkan nyawa bisa menjadi taruhannya jika tidak mengutamakan keselamatan diri.

Di Indonesia sendiri, terdapat banyak gunung yang biasa dijelajahi oleh para pendaki, dan ini dia para pendaki yang dinyatakan meninggal dunia serta hilang seakan menyatu dengan alam.

1. Soe Hok Gie, Daris, & Andika - Gunung Semeru

Gunung Semeru mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi para pendaki. Sudah puluhan pendaki yang meninggal di gunung yang dijuluki atap pulau jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini. Puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat kecelakaan dan sisanya hilang.

Tercatat aktivis mahasiswa sekaligus pendiri organisasi pecinta alam Universitas Indonesia, Soe Hok Gie dan Idan Lubis menjadi korban pertama yang hilang dan meninggal di Gunung Semeru akibat menghirup gas beracun pada 1969.

Selanjutnya, Daris atau daing, pendaki yang hilang di tahun 2001 saat perjalanan turun dari puncak tepatnya di blank 75 dan belum di temukan hingga kini.

Selain itu, tepat di Ranu Kumbolo, terdapat sebuah plakat yang tertulis “Dalam kenangan saudara kami Andika Listyono Putra, jejakmu tertinggal di sini, senyummu kubawa pergi”. Andika menjadi korban ke 28 ganasnya alam Semeru pada 2009 lalu. Andika benar-benar hilang tersapu badai berpasir di puncak Semeru.

2. Thoriq Rizky - Gunung Piramid

Di tahun 2019, remaja 15 tahun, Thoriq Rizky, asal Kabupaten Bondowoso, ditemukan meninggal setelah dinyatakan hilang selama 12 hari setelah mendaki Gunung Piramid.

Thoriq mendaki bersama tiga rekannya untuk melihat sunset di gunung yang berada di kawasan Pegunungan Argopuro tersebut.

Namun, ketika hendak turun, Thoriq dikabarkan terjatuh dan ditemukan tersangkut di pohon di kawasan punggung naga Gunung Piramid.

Untuk mencapai lokasi penemuan jenazah, tim harus berjalan kaki selama 3 sampai 4 jam karena berada di jurang dengan kedalaman 500 meter. Proses evakuasi melibatkan 100 relawan.

3. Alvi Kurniawan - Gunung Lawu

Alvi Kurniawan, pendaki yang dilaporkan hilang saat mendaki puncak Gunung Lawu pada 31 Desember 2018. Menurut Humas Basarnas, Alvi hilang setelah diajak balapan menuju puncak oleh seorang wanita pendaki asal Wonosobo di hari kejadian.

Alvi mendaki bersama 6 rekannya via jalur pendakian Candi Cetho sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, saat tiba di Pasar Dieng sekitar pukul 12.15 WIB, wanita pendaki asal Wonosobo kecapekan hingga akhirnya Alvi melanjutkan mendaki ke puncak sendirian hingga akhirnya Alvi Kurniawan dilaporkan hilang oleh rekannya sesama pendaki Wahyu Chandra.

Pencarian sudah sempat dihentikan sepekan setelah Alvi dinyatakan hilang, yakni pada 8 Januari 2019. Hal itu sesuai dengan prosedur pencarian korban yang ada. Namun, tim tetap melakukan pencarian selama 23 hari.

Terakhir, keluarga Alvi dari Magelang pun datang ke Gunung Lawu dan ikut melakukan pencarian. Namun hasil tetap nihil hingga pencarian Alvi ditutup total pada 24 januari 2019 setelah keluarga Alvi mengikhlaskan.

4. Galih Andika - Gunung Bawakaraeng

Pada tahun 2019 silam, Galih Andika dilaporkan terpisah dari 2 rekannya di pos 6 Bawakaraeng, saat perjalanan dari puncak ke Kampung Lembanna.

Menurut Sri, ibu kandung Galih, dia terakhir bertemu Galih saat meminta izin ingin pergi mendaki ke Bawakaraeng.

Basarnas sempat melakukan pencarian selama tujuh hari, 11-17 Februari 2019 Namun, hasilnya nihil.

Setelah menghilang 3 bulan, tepatnya tanggal 21 Mei 2019, Galih ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dan tinggal tulang belulang di hulu tenggara sungai Gunung Bawakaraeng, Gowa, Sulawesi Selatan.

“Tim SAR gabungan sudah berhasil mengevakuasi Rabu dini hari tadi. Tim SAR berangkat dari posko Buluballea setelah menerima laporan warga yang menemukan tulang belulang itu,” kata Humas Basarnas Kota Makassar Ade Hamsidar.

5. Yudha Sentika & Setiawan Maulana - Gunung Kerinci

Tugu Yudha merupakan sebuah plakat untuk mengenang seorang pendaki muda asal Jakarta yang hilang ditengah perjalanan pendakian Gunung Kerinci pada 23 Juni 1990.

Pada saat itu, Yudha Sentika, baru berusia 17 tahun merupakan siswa penggiat alam yang berencana mendaki atap sumatra yaitu Gunung kerinci bersama 6 rekan lainnya. Namun perjalanan mereka harus menghadapi cuaca buruk dan diselimuti perasaan khawatir yang tak bisa terpungkiri.

Ternyata Yudha berhasil lebih awal summit bersama dua rekannya. Ketika perjalanan turun, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti perjalanan mereka, Yudha dikabarkan terpisah dari rekannya dan dinyatakan menghilang. Jasadnya pun belum ditemukan hingga kini.

Tugu Yudha pun menjadi terkenal di kalangan pendaki Gunung Kerinci karena sering dijadikan sebagai patokan jarak para pendaki sebelum ke puncak atau disebut puncak Indrapura.

Sama seperti Yundha Sentika, Setiawan Maulana pendaki asal Bogor inipun melakukan pendakian Gunung Kerinci pada tanggal 25 Desember 2014 silam.

Di tengah perjalanan, terjadi badai dan cuaca buruk, sehingga mereka menghentikan perjalanan dan menggelar diskusi kecil, mencari kesepakatan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak atau tidak.

Mereka sepakat untuk tidak melanjutkan pendakian dan kembali turun. Akan tetapi, Setiawan dan satu orang lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Keduanya berhasil mencapai puncak. Saat perjalanan turun, tepatnya di Tugu Yudha, mereka terpisah.

Setiawan bergegas turun mendahului temannya, sedangkan rekannya tertinggal. Namun, rekan yang ditinggalkannya berhasil kembali sampai basecamp dan Setiawan tidak kunjung tiba. Ia kemungkinkan mengambil jalur yang salah karena saat itu jarak pandang terbatas akibat kabut tebal.

Tim SAR yang melakukan pencarian tidak menemukan hasil, dan sampai saat ini Setiawan Maulana belum ditemukan.

6. Vinsensius Suryadinata - Gunung Argopuro

Vinsensius suryadinata merupakan anggota mahasiswa pecinta alam Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ia mendaki seorang diri di pegunungan Argopuro di tahun 2006. Ia mengawali rute pendakian di pulau Jawa ini dari jalur larek timur di perairan Situbondo.

Saat itu, rute pendakian akan segera ditutup karena cuaca sedang ekstrem dan telah diberitakan telah terjadi longsor serta banjir bandang di beberapa titik di lereng selatan Pegunungan Argopuro.

Di kompleks area puncak, di atas pos disentor, Vinsen sempat berpapasan dengan rombongan pendaki terakhir yang mendaki dari jalur lereng barat sebelum kawasan pegunungan Argopuro ditutup untuk pendakian.

Sebelum dinyatakan hilang, ada seorang saksi yang melihat Vinsen hanya membawa day pack (tas punggung).

Operasi SAR pencarian Vinsensius Suryadinata di pegunungan Argopuro yang dibuka dengan nama SAR Vinsen Argopuro ini merupakan operasi SAR terbesar yang pernah berlangsung dalam skala pencarian orang hilang, karena melibatkan ratusan personel dari berbagai institusi untuk menyisir lebih dari 30 karva peta kontur.

Selama pencarian, tim SAR menemukan tenda, carrier, GPSm dan perlengkapan milik Vinsen lainnya yang ditinggalkan di pos disentor termasuk sebuah buku kuno berbahasa Belanda yang menjadi referensi survivor.

Tim SAR pun juga membelah jalur-jalur pendakian kuno jaman Belanda yang tercatat dalam buku tersebut, yang sebagian besar telah tertutup karena telah lama tidak digunakan.

Mendekati hari terakhir pencarian, Tim SAR menemukan sebuah cangkir yang terindikasi milik Vinsen di kawasan kawah mati yang terletak diantara puncak Argopuro dan puncak Rengganis.

Namun hingga hari terakhir operasi, SAR ditutup Vinsen belum ditemukan hingga saat ini keberadaan Vinsen masih misterius

7. Ikbal, Eko Saputra Sudirman & Yunita Indah Safitri (Gunung Agung)

Tiga orang mahasiswa pendaki yang berasal dari barisan mahasiswa pecinta alam Widyatama Bramatala Bandung dinyatakan hilang saat melakukan pendakian di gunung Agung, antara lain Muhammad Ikbal, Eko Saputra Sudirman, dan Yunita Indah Safitri.

Mereka bertiga mulai mendaki gunung yang terletak di pulau Bali tersebut pada tanggal 26 Desember 2007, ketika cuaca sedang ekstrem dan suhu mencapai sampai 8 derajat celcius selama beberapa hari.

Tim SAR yang melakukan pencarian hanya berhasil menemukan jasad Muhammad Ikbal di ketinggian 2.600 meter, 1.200 meter di atas basecamp mereka.

Jasad Ikbal ditemukan di sebuah jurang antara puncak satu dan puncak dua Gunung Agung. Ia ditemukan dengan kondisi tubuh yang sangat dingin. Ia diduga mengalami kecelakaan karena terdapat luka lebam di kelopak mata dan tulang hidung yang juga retak akibat benturan benda keras.

Sedangkan dua rekan lainnya yakni Eko Saputra Sudirman dan Yunita Indah Safitri dinyatakan hilang dan sampai saat ini tidak ditemukan jasadnya.

Well, Yang terpenting adalah proses pendakian bukan soal puncak. Karena puncak hanyalah bonus. Tetap utamakan keselamatan diri dan patuhi peraturan yang ada karena kita berada di alam bebas dan kita hanya tamu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak