Kisah Cinta Naif Di Masa Nazi, Ulasan Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?

Hikmawan Firdaus | Athi S. R.
Kisah Cinta Naif Di Masa Nazi, Ulasan Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?
sampul buku "Lelaki Malang, Kenapa Lagi?" (source: dokumentasi penulis)

Buku ini ditulis oleh Hans Fallada, seorang penulis Jerman bernama asli Rudolf Wilhelm Friedrich Ditzen, dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1932. "Kleiner Mann, was nun?" diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Moooi Pustaka pada 2019, dengan judul Lelaki Malang, Kenapa Lagi? Novel ini menggambarkan kehidupan pasangan muda, Johannes dan Emma Pinneberg, di Jerman pada periode pasca Perang Dunia I, sekitar tahun 1930 hingga 1932.

Johannes Pinneberg, yang biasa dipanggil Pinneberg, adalah tokoh utama dalam cerita. Ia bekerja sebagai karyawan dengan upah yang rendah. Emma, istrinya, adalah sosok yang penuh kasih dan mendukung suaminya meskipun mereka menghadapi kesulitan finansial.

Kedua karakter ini digambarkan sebagai sosok yang naif, tapi memiliki kejujuran dan kebaikan hati yang murni. Saat pertama kali bertemu, tanpa saling mengenal satu sama lain, keduanya secara alami mengembangkan ketertarikan kimiawi.

“Tidak, mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka hanya merasa bahwa mereka masih muda dan tentu bagus jika mereka bisa saling mencintai. Mereka tak memikirkan sama sekali tentang adanya kehadiran Murkel.” (h. 251)

Murkel adalah nama anak mereka, yang tiba-tiba dicetuskan oleh Emma saat Pinneberg melamarnya, usai berkunjung ke dokter kandungan.

Fallada mengeksplorasi tema-tema seperti kemiskinan, tekanan sosial, dan perubahan politik di Jerman pada masa itu, saat terjadi Great Depression dan Stock Market Crash. Pinneberg dan Emma harus mengatasi tantangan hidup sehari-hari, seperti mencari pekerjaan dan mencukupi kebutuhan anak mereka, dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, serta meningkatnya pengaruh Nazi.

Perjalanan Pinneberg dan Emma sebagai karakter berkembang seiring waktu. Mereka menghadapi ujian moral dan emosional yang mengubah perspektif hidup mereka. Pengembangan karakter ini memberikan kedalaman pada cerita dan memungkinkan pembaca untuk merasa terhubung dengan perjalanan hidup mereka.

Pinneberg digambarkan sebagai sosok anak muda usia 20-an yang menjunjung tinggi martabat, dan suka bergaya borjuis. Ia lebih memilih bekerja sebagai karyawan daripada menjadi buruh biarpun gajinya tak banyak. Hal ini juga menjadi sentimen untuk ayah Emma yang seorang buruh.

“Kalian berpikir bahwa kalian lebih baik daripada kami para buruh. Dan kenapa kalian berpikir seperti itu? Karena kalian dibayar untuk satu bulan penuh, tidak seperti kami yang dibayar setiap satu minggu sekali. Kalian juga tidak mendapatkan uang dari jam lembur kalian, kalian dibayar di bawah tarif. Kalian juga tidak pernah berdemonstrasi karena kalian adalah para pengacau aksi demonstrasi.” (h. 20)

Lika-liku perjalanan Pinneberg dan Emma sungguh menarik diikuti. Mereka beberapa kali kehilangan pekerjaan dan berpindah-pindah tempat tinggal. Pasangan itu juga harus berhadapan dengan ibu kandung Pinneberg, yang cukup menyulitkan mereka berdua.

“Ayo, semangat! Semangat! Hidup kita ini sudah cukup sulit, kalian jangan membuatnya lebih sulit lagi. Aku ingin bertanya, apa kau bisa membantuku mencuci pakaian, Emma? Cucian kotorku sudah sangat menumpuk.” (h. 203)

Di tempat kerjanya, Pinneberg harus menghadapi bos yang menekan karyawan-karyawannya, serta teman yang membawanya pada kesulitan. Ia dibuat frustasi dengan target penjualan dari atasannya, dan hal itu menjadi lebih buruk karena menjual bukanlah keahlian yang dikuasai Pinneberg.

Emma dan Pinneberg benar-benar harus menghemat pengeluaran mereka, menghitung setiap Pfening (satuan terkecil mata uang Jerman saat itu) yang mereka keluarkan, dan membuat catatan rinci terkait pemasukan dan pengeluaran.

Mereka bahkan sampai berdebat saat muncul ide merayakan pertunangan mereka.

“Segala sesuatu yang membuat bahagia pasti membutuhkan uang. Jika kau ingin pergi menghirup udara segar di pedesaan, kau butuh uang! Jika kau ingin mendengarkan musik, kau butuh uang! Segala sesuatu membutuhkan uang, tak ada hal yang tak membutuhkan uang!” seru Pinneberg. (h. 224)

“Kemiskinan membuat segala sesuatu menjadi rumit,” tulis Fallada. (h. 228)

Sang penulis menggunakan gaya bertutur yang sederhana namun efektif untuk menyampaikan pesan-pesan dalam bukunya. Dialog dan narasi membangun suasana yang kuat, menjadikan pengalaman membaca lebih mendalam.

Meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan dan benar-benar bangkrut, Pinneberg dan Emma menunjukkan keuletan dan tekad untuk melanjutkan hidup. Mereka adalah contoh paling gamblang tentang gambaran pasangan muda yang tidak mapan, naif, dan lebih banyak mengandalkan ‘cinta’.

Meskipun begitu, pada akhirnya mereka membuktikan kekuatan ‘cinta’ yang tampak remeh jika disandingkan dengan kondisi eksternal saat itu: kemiskinan, resesi, dan Nazi.

“Tapi, kau masih tetap bisa menatapku! Selalu dan terus menerus! Kau akan selalu berada di sampingku, kita akan selalu bersama-sama....” (h. 421)

Kekuatan cinta itu juga yang membuat karakter mereka berkembang, dari anak muda yang penuh impian menjadi orang tua yang penuh tanggung jawab. Proses ini memberikan dimensi tambahan pada naratif, membuatnya lebih kompleks dan memikat.

Karakter Emma dan Pinneberg yang sangat membumi dan apa adanya, dengan masalah rumah tangga yang jamak terjadi juga terasa dekat dengan kehidupan pada masa sekarang. 

Selamat membaca!

Data buku

Judul            : Lelaki Malang, Kenapa Lagi?

Penulis         : Hans Fallada

Penerjemah : Tya Hapitiawati

Penerbit        : Moooi Pustaka, Yogyakarta

Tebal             : 425 halaman

Cetakan        : I, 2019

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak