Review Film '13 Bom di Jakarta', Ancaman Bom dari Sekelompok Teroris

Sekar Anindyah Lamase | Adela Puspita
Review Film '13 Bom di Jakarta', Ancaman Bom dari Sekelompok Teroris
Poster film Indonesia "13 Bom di Jakarta" (IMDb)

Setelah merilis Mencuri Raden Saleh pada tahun 2022, Angga Dwimas Sasongko kembali menyutradarai film dengan tema kriminal dan ketegangan tinggi yang berjudul "13 Bom di Jakarta". Ia juga ikut berperan sebagai penulis skenario bersama Irfan Ramly.

"13 Bom di Jakarta" pertama kali ditayangkan pada 2 Desember 2023 sebagai film penutup dalam JAFF 18. Melalui kerjasama produksi antara Visinema Pictures, Indodax, dan Legacy Pictures, film ini menampilkan akting dari Putri Ayudya, Ardhito Pramono, Chicco Kurniawan, Lutesha, Rukman Rosadi, Rio Dewanto, dan Ganindra Bimo.

Waktu-waktu sulit dengan tuntutan ekonomi di Jakarta mendadak dihadapkan pada ancaman dari sekelompok teroris. Kelompok tersebut mengancam untuk meledakkan 13 bom setiap delapan jam, kecuali jika tuntutan mereka dipenuhi.

Damaskus (Rukman), pemimpin badan kontrateroris segera merespons situasi tersebut. Ia menugaskan Karin (Putri) untuk melakukan penyelidikan dan mengirim Emil (Ganindra) ke lapangan untuk menangkap William (Ardhito) dan Oscar (Chicco).

Mereka berdua sebagai tokoh utama dalam layanan perantara transaksi uang digital (bitcoin) yang diduga terkait dengan kelompok teroris. Namun, badan kontrateroris menghadapi kendala karena kelompok teroris selalu berhasil berada satu langkah di depan mereka.

"13 Bom di Jakarta" merupakan film aksi dan kriminal terbaru dari Angga Dwimas Sasongko setelah Mencuri Raden Saleh (2022), Ben & Jody (2022), dan beberapa proyek lain di luar Visinema. Namun, kali ini film '13 Bom' sangat bergantung pada penggunaan senjata api.

Seperti yang kita ketahui, gaya aksi dalam film-film Indonesia saat ini cenderung memisahkan antara penggunaan senjata api dan pertarungan fisik atau bela diri, jarang keduanya digabungkan. Begitu juga dengan 13 Bom, di mana adegan tembak-menembak dan konfrontasi selesai begitu saja tanpa adanya penguasaan bela diri yang terlihat dari pihak badan kontrateroris maupun lawan mereka.

Setidaknya, mengingat posisi Emil dan latar belakang Arok, diharapkan mereka memiliki kemampuan bela diri yang lebih mumpuni.

Ketika membahas mengenai plot penyerangan terhadap wilayah musuh, perlu dilakukan perbandingan antara "13 Bom" dan "The Raid 2". Sayangnya, jika dibandingkan dengan "The Raid 2" yang keduanya memiliki fokus pada jaringan bawah tanah berskala satu kota, plot penumpasan dalam "13 Bom di Jakarta" masih kurang memberikan ketegangan yang sama.

Tone, efek visual, dan nuansa yang dihasilkan juga cenderung menjadi standar dalam adegan laga. Bahkan, pergerakan kamera dan pengeditan adegan yang lebih menghibur dalam konteks film aksi seperti "The Raid 2" menjadi aspek yang terasa kurang dalam film "13 Bom di Jakarta".

Ancaman terhadap William dan Oscar juga tidak begitu intens, tidak seperti situasi yang dihadapi Rama dalam "The Raid 2", meskipun Rama memiliki status sebagai tokoh utama yang tentu memiliki "plot armor". Namun demikian, ancaman hidup dan mati terhadap karakter tersebut masih terasa.

Membahas mengenai eksekusi dalam plot penyerangan, penyergapan, penyerbuan, atau penumpasan. Metode yang diterapkan oleh Emil atau setidaknya oleh badan kontrateroris terlihat kurang cerdas dan terstruktur dibandingkan dengan kelompok pencuri amatir dalam "Mencuri Raden Saleh".

Terlihat jelas bahwa serangan-serangan mereka ke wilayah musuh kurang terencana dengan baik, meskipun mengenai latar belakang pihak lawan yang bukan orang biasa sudah adadari  sejak awal. Bahkan, kemampuan Karin dalam menangani berbagai situasi lebih cocok dengan posisinya sebagai badan kontrateroris. Keberhati-hatian, insting, firasat, ketelitian, kritis, serta kemanusiaannya.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak