Judul novel karya Atha Farha yang tayang di Kwikku, salah satu platform menulis daring, ini memantik rasa penasaran saya. Berdasarkan blurb, isinya berkisah tentang Damai Sentosa, yang menjadi korban pelecehan seksual. Wah, saya semakin ingin tahu dan memutuskan membacanya. Apalagi si penulis mendaku bahwa novelnya terinspirasi dari kisah nyata.
Bab pertama dibuka dengan surat pendek dari Damai Sentosa, untuk ‘kamu’. Identitas ‘kamu’ di sini misterius, apakah yang dimaksud adalah kita, para pembaca novelnya? Saya teruskan membuka bab demi bab untuk mengetahui jawabannya. Dan seperti mengupas kulit bawang, perlahan mulai terkuak inti cerita, sekaligus memaksa air mata saya menitik karena ternyata setragis itu.
Damai Sentosa, pemuda berusia 32 tahun, ditangkap pada tanggal 14 Juni 2024, usai mengaku telah membunuh Ustaz Nur. Pria yang dibunuh adalah seorang tokoh agama, sekaligus tokoh masyarakat di Desa Sarang Manis, Kabupaten Payung Teduh.
Namun meskipun telah mengaku, serta menyerahkan alat bukti berupa pisau, pihak penyidik menganggap kasus ini belum terungkap seutuhnya. Sebab Damai bungkam ketika diinterogasi apa yang menjadi motifnya membunuh. Hal tersebut menimbulkan spekulasi bahwa Damai mengalami gangguan mental.
Demi mengungkap motif tersebut, lembaga pemerintah menugaskan seorang psikiater forensik bernama Rain Rinjani. Tugas psikiater forensik adalah mendiagnosa dan menangani gangguan mental dalam sistem peradilan pidana. Ia juga memberikan saran spesialis kepada pengadilan, hingga layanan di penjara.
Pada awalnya Rain kesulitan berkomunikasi dengan Damai, karena pemuda itu selalu menghindar ketika diajak bicara. Oleh karena itu, Rain menganjurkan agar Damai mengungkapkan isi hati dan pikiran melalui tulisan. Itulah sebabnya di bab-bab awal pembaca disuguhi surat dari Damai kepada Rain (‘kamu’).
Dalam surat-suratnya, Damai mengungkap masa kecilnya. Lebih tepatnya, potongan-potongan peristiwa kala ia berumur 8 tahun. Rupanya Damai dulu tinggal bersama kakek dan nenek, karena kedua orang tuanya bekerja di luar kota. Selama diasuh kakek dan nenek, Damai kurang merasakan belaian kasih sayang. Di saat itu, kehadiran sosok Ustaz Nur yang penuh perhatian membuat Damai sempat menganggap guru mengajinya itu seperti bapak sendiri.
Tak dinyana, sikap penuh perhatian Ustaz Nur mempunyai maksud terselubung. Karena setelah hubungan mereka cukup dekat, gurunya itu mulai senang menyentuh tubuh Damai dengan sentuhan yang tidak wajar. Sayangnya, Damai tak bisa bercerita kepada siapa-siapa. Justru ia takut mendapat tuduhan balik dari orang-orang. Sebab warga mengenal Ustaz Nur sebagai lelaki terhormat.
Potongan informasi tersebut mengejutkan Rain. Ia kemudian menghubungi sahabatnya, Laras, untuk bersedia menjadi pembela Damai selama proses hukum berlangsung. Laras pun setuju. Mereka berdua yakin bahwa selama ini Damai telah menjadi korban pelecehan seksual, sehingga mengalami trauma berat.
Cerita ini terus bergulir bak adegan di film. Berlawanan dengan usaha Rain yang ingin mengungkap kondisi mental Damai yang melatarbelakangi pembunuhan, kubu Ustaz Nur tentu saja berusaha sebaliknya. Melalui tokoh Gita, pengacara keluarga Ustaz Nur yang keras hati, emosi pembaca ikut dibuat naik turun. Selain itu, perhatian dari media massa, serta para ahli di bidang kriminal dan kejiwaan, turut mewarnai cerita.
Berhasilkah Damai memperoleh keadilan yang seimbang dari tindakannya membunuh Ustaz Nur? Bagaiamana perjuangan Rain dan Laras mengungkap kebenaran yang tersembunyi, di tengah cemoohan warganet? Kalian harus membaca sendiri novel ini, sobat Yoursay .
Satu hal yang ingin saya garis bawahi, kasus pelecehan seksual selalu berakibat fatal untuk korbannya. Tak hanya potensi luka fisik, si korban pun mengalami luka jiwa yang seringkali lebih membekas lama. Selain itu, tak mudah buat korban untuk mengungkapkan kondisinya. Selain minimnya empati dari lingkungan, hukuman untuk pelaku pelecehan seksual sering tak sesuai harapan keadilan.
Salut untuk penulis yang berhasil menyampaikan pesan ini kepada pembaca. Terlepas dari kekurangan yang saya rasakan selama membaca, novel ini tetap layak dibaca.