Rumah kami terletak di pojok paling belakang. Depan rumah ada rumah keluarga A Bi. Sebelah timur berbatasan dengan tembok sebuah toko matrial. Sebelah belakang ada tanah kosong penuh perdu lebat. Dan sisi barat berbatasan dengan tembok keliling area pemukiman yang tengah dibangun. Untuk menuju jalan raya kami mesti melintasi jalan setapak, yang sejatinya merupakan tanah sisa dari rumah A Bi dan toko matrial.
Di rumah berlantai papan itu Ayah memulai usaha konfeksi skala rumah tangga. Meskipun baru merintis, Ayah sudah cukup sibuk menerima pesanan kaos-kaos olahraga dari sejumlah sekolah. Sehari-harinya ia dibantu oleh dua orang penjahit pria. Sedangkan Ibu mengajar di sekolah teknik menengah, yang agak jauh jaraknya dari rumah.
Kehidupan kami berjalan biasa saja. Aku berangkat sekolah setiap hari di SD terdekat, dua adik balita bermain di rumah. Karena pekerjaan Ayah di rumah, ia bisa bekerja sambil mengawasi adik-adik. Terkadang ada seorang kenalan Ibu yang kami panggil Kakak, yang diminta membantu mengasuh adik paling kecil. Hal itu dilakukan jika Ayah sedang dikejar tenggat waktu pesanan.
Sepulang sekolah barulah aku bermain dengan kedua adikku. Tak jarang pula kami bermain bersama A Bi, yang usianya tak selisih jauh dengan adik pertamaku. Kami bermain di pelataran toko matrial yang cukup luas. Meskipun keluarga A Bi bermata sipit, kami tidak canggung bergaul seperti biasa. Lagipula ibunya baik, suka memberi jajan kepada kami.
Semua terasa berjalan baik-baik saja. Hingga di satu hari, aku mulai memperhatikan keganjilan di rumah kami. Waktu itu aku ingin tiduran setelah lelah bermain. Aku pun masuk ke kamar, dan naik ke ranjang kayu. Dua karyawan Ayah menjahit seperti biasa. Sementara Ayah dan Ibu sedang pergi bersama adik-adik.
Di luar, matahari khatulistiwa terik membakar ubun-ubun. Namun kamar kami begitu adem, sunyi, padahal tidak memasang kipas angin. Aku berbaring dengan nyaman. Mungkin nyaris tertidur. Tahu-tahu, seseorang menggoyang-goyang ranjang begitu kuat. Aku terlonjak kaget, kantukku hilang. Goyangan berhenti.
Ketika aku masih mencerna apa yang terjadi, kejadian terulang lagi. Kali ini terasa olehku tendangan dari kolong ranjang. Spontan aku duduk dan berseru, "Mang Yudi! Jangan usil! Apa-apaan sih umpetan di kolong?" Aku marah betul, karena istirahatku terganggu.
Aku mengira itu ulah Mang Yudi. Karyawan Ayah yang satu ini memang terkadang suka meledek aku dan adik-adik. Maka aku langsung turun dari ranjang, dan melongok ke kolong, berniat memergoki Mang Yudi yang bertingkah.
Namun, takada apa pun di situ. Hanya kegelapan yang normal kita temui di bagian bawah ranjang, dan debu. Setelah puas memeriksa tanpa hasil, barulah aku beranjak ke ruang tengah. Kulihat Mang Yudi dan Pak Man, karyawan Ayah satunya lagi, sedang fokus menjahit pakaian. Aku tertegun. Lalu tadi itu siapa yang iseng?
Di lain hari, kejadian aneh terjadi lagi. Siang yang panas, aku ke dapur bermaksud mengambil minum. Dari ruang tengah ke dapur di hubungkan selasar pendek, melewati kamar tidur utama. Jaraknya tak begitu panjang.
Setelah menuntaskan rasa haus aku berbalik hendak kembali ke ruang tengah. Saat itulah mataku menangkap makhluk hitam, bergelung diam. Kepalanya yang kecil tepat menghadap ke arah pintu dapur. "Ular!" teriakku refleks.
Sontak Ayah, Ibu, Mang Yudi, dan Pak Man berhamburan ke arah suaraku. Adik-adikku ikut melongok, tapi dihalangi oleh Ibu. Mereka semua terperangah. "Dari mane datang ular, tu?" teriak Ibu.
Ya, dari mana? Aku pun heran. Lantai papan kami begitu rapat, kalaupun ada celah tak mungkin bisa dilalui badan ular. Langit-langit rumah pun tak bolong. Dan lebih mengherankan lagi, sewaktu aku tadi lewat hendak ke dapur, takada ular di situ. Seolah-olah ia muncul dari ruang hampa untuk menakuti kami.
Ayah menyuruhku diam saja di tempat. Mang Yudi berinisiatif mengambil bilah kayu, hendak mencungkil ular itu. Namun, Pak Man mencegahnya. Lelaki asli Melayu itu berbisik-bisik serius dengan Ayah, dan Ibu.
Aku terus mengawasi si ular, khawatir ia bergerak menyerang. Lalu kulihat Pak Man mengambil sapu ijuk di dekatnya. Setelah itu ia merapalkan sesuatu, mungkin doa-doa, di ijuk hitam tersebut.
"Mundur, Nak!" katanya padaku. Aku patuh.
Pak Man memukulkan sapu itu ke arah ular. "Pergi!" serunya. Kami semua menahan napas.
Saat sapu diangkat, ular itu menghilang. Pak Man, Ayah, dan Mang Yudi lalu menggeledah sapu, lantai, dinding, jendela. Hasilnya nihil. Ular hitam itu betul-betul lenyap tanpa bekas. Ia datang dan pergi dengan cara misterius. Aku menghambur ke pelukan Ibu.
Kejadian tersebut menjadi bahan pembicaraan serius di antara Ayah dan Ibu. Ketika aku mencoba bertanya tentang identitas ular tersebut, mereka tak mau menjawab secara jelas. Aku hanya bisa membaca raut kekhawatiran di wajah keduanya.
Tak lama setelah kemunculan ular misterius, terjadi lagi peristiwa aneh lainnya. Akhirnya Ayah dan Ibu memutuskan pindah ke rumah kontrakan lain. Kami pun melambaikan tangan kepada A Bi dan ibunya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS