Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
Buku Behave Robert Sapolsky (goodreads)

Kalau di film, ada tokoh antagonis dan ada tokoh protagonis. Semua digambarkan begitu sederhana, ada manusia yang baik dan jahat. Tapi di buku satu ini, bahasannya jauh lebih kompleks. Nyatanya, klasifikasi manusia tak sesederhana itu. 

Mengapa manusia bisa begitu penuh kasih sekaligus begitu kejam? Mengapa satu orang mampu menahan amarah, sementara yang lain meledak hanya oleh pemicu kecil? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi benang merah dalam Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst, buku monumental karya Robert Sapolsky, seorang ahli neurobiologi dan primatologi.

Penulis mengajak pembaca memahami bahwa perilaku manusia tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal. Ia adalah hasil pertemuan rumit antara biologi, pengalaman hidup, lingkungan sosial, sejarah evolusi, dan budaya.

Sejak bab pertama, The Behavior, Sapolsky menolak cara berpikir kategoris dalam menjelaskan perilaku manusia. Satu tindakan (misalnya agresi) tidak bisa disederhanakan sebagai “baik” atau “buruk”, “alami” atau “menyimpang”.

Agresi sendiri memiliki banyak bentuk: agresi antarindividu, agresi melawan predator, agresi impulsif, hingga agresi yang direncanakan dengan matang. Kriminologi, psikologi, dan biologi masing-masing memberi lensa berbeda untuk memahami fenomena yang sama.

Otak yang Menentukan Segalanya: Di Balik Baik dan Buruk Manusia

Dalam konteks biologis, amygdala menjadi pusat perhatian. Bagian otak ini berperan besar dalam emosi, terutama rasa takut dan kecemasan, serta keterkaitannya dengan agresi. Eksperimen pada hewan menunjukkan bahwa kerusakan atau penonaktifan amygdala menurunkan perilaku agresif.

Sebaliknya, stimulasi listrik pada area ini dapat memicu agresi. Namun Sapolsky menekankan satu hal penting: rasa takut dan agresi tidak selalu berjalan beriringan. Tidak semua ketakutan melahirkan agresi, dan tidak semua agresi berakar dari rasa takut.

Contohnya terlihat pada monyet rhesus jantan alfa. Ketika ia tertarik pada betina tetapi harus bersaing dengan pejantan lain, amygdalanya aktif. Namun yang muncul bukan agresi, melainkan kecemasan. Ditandai dengan perilaku seperti menggaruk-garuk diri atau gigi bergemeletuk.

Sebaliknya, pada individu psikopat yang bengis, amygdala justru kurang responsif terhadap stimulus rasa takut dan ukurannya cenderung lebih kecil. Agresi mereka bersifat instrumental: dingin, terencana, dan tanpa rasa bersalah.

Mengapa Kita Bisa Meledak, Menyesal, dan Mengulanginya Lagi?

Di sisi lain, ada frontal cortex—bagian otak yang bertugas mengendalikan impuls, merencanakan masa depan, menunda kepuasan, dan mengatur emosi. Frontal cortex adalah wilayah otak yang berevolusi paling akhir dan baru matang sepenuhnya pada usia pertengahan dua puluhan.

Inilah alasan mengapa perilaku remaja sering kali tampak “ajaib” atau impulsif. Secara sederhana, Sapolsky mengibaratkan frontal cortex sebagai “superego” dan limbic system sebagai “id”, meminjam istilah Sigmund Freud.

Kisah Phineas Gage menjadi ilustrasi klasik. Setelah batang besi menembus frontal cortex-nya, kepribadian Gage berubah drastis: ia menjadi kasar, impulsif, dan sulit mengambil keputusan. Perubahan perilaku ini menegaskan betapa erat hubungan antara struktur otak dan moralitas, kendali diri, serta norma sosial.

Otak, Hormon, dan Moralitas: Apa yang Sebenarnya Mengendalikan Perilaku Manusia?

Sapolsky juga membahas sistem dopamin mesolimbik yang berkaitan dengan reward, pleasure, dan kebahagiaan. Dopamin dilepaskan saat kita makan, berhubungan seks, menikmati musik, atau bahkan sekadar membayangkannya. Sebaliknya, stres kronis dapat menguras sistem ini dan menyebabkan anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan) yang sering muncul pada depresi.

Tak kalah penting, serotonin. Sejak lama, kadar serotonin rendah dikaitkan dengan agresi impulsif dan perilaku bunuh diri impulsif, baik pada manusia maupun berbagai spesies lain. Namun sekali lagi, Sapolsky menegaskan: biologi bukan takdir mutlak. Ia memberi kecenderungan, bukan vonis.

Pada akhirnya, Behave memaksa kita menerima kenyataan yang tidak nyaman: emosi, moral, dan bahkan pilihan kita sangat dipengaruhi proses biologis di otak. Free will, mungkin, tidak sesederhana yang kita bayangkan. Namun justru dari pemahaman inilah empati, kebijakan sosial yang lebih adil, dan cara pandang yang lebih manusiawi bisa lahir.

Identitas Buku

  • Judul: Behave (The Biology of Humans at Our Best and Worst) 
  • Penulis: Robert M. Sapolsky
  • Penerbit: Penguin Press
  • Tahun Terbit: 2017
  • Tebal: 790 Halaman
  • Genre: Popular Science, Neuroscience, Biology, Psychology, and Philosophy,

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak