Film Malam 3 Yasinan merupakan salah satu karya horor Indonesia terbaru yang dirilis pada 8 Januari 2026 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Disutradarai oleh Yannie Sukarya, film ini diproduksi oleh Helroad Films dan Alkimia Production, dengan durasi sekitar 102 menit.
Genre utamanya adalah horor thriller dengan sentuhan drama keluarga, yang menggabungkan elemen misteri gaib dan konflik internal manusia.
Pemeran utama termasuk Shalom Razade yang memerankan dua peran sebagai saudara kembar Samira dan Sara, Wulan Guritno sebagai salah satu anggota keluarga yang kuat, Baim Wong, Piet Pagau, Amanda Gratiana, serta aktor pendukung seperti Yasmine Aqeela, Izabel Jahja, dan Tien Kadaryono.
Film ini rated R17+ karena mengandung adegan kekerasan, darah, dan tema dewasa seperti perselingkuhan dan rahasia keluarga.
Teror di Malam Yasinan Keluarga Djoyodiredjo

Sinopsis cerita berpusat pada keluarga Djoyodiredjo, sebuah konglomerat kaya raya pemilik pabrik gula sejak era 1980-an, yang dipimpin oleh Opa Hendra. Keluarga ini hidup dalam kemewahan, tapi dibayangi oleh konflik internal, termasuk persaingan warisan antara anggota keluarga.
Cerita dimulai ketika Samira menerima kabar mendadak tentang kematian saudara kembarnya, Sara, yang mengguncang seluruh keluarga. Samira pun kembali ke rumah besar mereka di Bogor, Jawa Barat, untuk menghadiri ritual yasinan.
Sebuah tradisi membaca surat Yasin dalam Islam untuk mengenang orang meninggal. Akan tetapi, apa yang seharusnya menjadi malam duka berubah menjadi teror mengerikan.
Mulai dari malam pertama yasinan, kejadian aneh muncul: suara-suara misterius, penampakan gaib, dan rahasia kelam masa lalu yang mulai terungkap satu per satu.
Samira, yang awalnya ragu, terpaksa menyelidiki keterkaitan antara kematian Sara, sejarah keluarga, dan gangguan supernatural yang semakin intens.
Film ini tidak hanya mengandalkan jumpscare, tapi juga mengeksplorasi horor secara manusiawi seperti ambisi, pengkhianatan, dan dosa yang menagih bayaran.
Review Film Malam 3 Yasinan

Dari segi plot, Malam 3 Yasinan berhasil membangun atmosfer mencekam secara perlahan. Latar belakang rumah megah ala kolonial dengan elemen pabrik gula memberikan nuansa nostalgia sekaligus eerie, mengingatkan pada film-film horor Indonesia seperti Pengabdi Setan.
Konflik keluarga di awal cerita terasa relevan dan membangun rasa penasaran, terutama soal persaingan antara istri-istri Ari (anak Opa Hendra) yang berebut warisan.
Akan tetapi seiring berjalannya film, beberapa dialog terasa berlebihan dan klise, seperti perdebatan keluarga yang terlalu dramatis hingga mengurangi dampak emosional. Unsur horornya lebih condong ke thriller psikologis daripada horor.
Wulan Guritno, yang juga bertindak sebagai produser, menjadi tulang punggung film dengan penampilan konsisten sebagai karakter yang kompleks, penuh rahasia dan emosi dalam.
Dinamika antara Wulan dan Shalom sering mencuri perhatian, dengan dialog hidup yang sesekali menghibur di tengah ketegangan.
Sayangnya, aktor lain seperti Baim Wong dan Piet Pagau terasa kurang maksimal; reaksi mereka di momen krusial sering datar, bahkan saat seharusnya panik atau histeris. Tidak ada air mata asli di adegan sedih, yang membuatnya kurang autentik.
Sutradara Yannie Sukarya berhasil menyajikan visual yang solid, dengan sinematografi yang memanfaatkan cahaya redup dan bayangan untuk menciptakan suasana mencekam. Sound design juga patut diacungi jempol, terutama efek suara yasinan yang bergema di malam hari, yang menambah rasa ngeri.
Menurutku, elemen horor gaibnya kurang menggigit; jumpscare terasa standar dan tidak inovatif, membuat film ini lebih kuat sebagai drama keluarga daripada horor penuh. Klimaks cerita membangun tensi dengan rapi, tapi akhirnya kurang nendang—seperti menunggu ledakan yang tak kunjung datang, meninggalkan rasa kurang puas.
Secara keseluruhan, Malam 3 Yasinan adalah hiburan yang intens dengan emosi tinggi, terutama bagi penggemar horor lokal yang menyukai campuran misteri dan konflik antargenerasi.
Ini adalah drama keluarga yang relatable, mulai dari segi akting Wulan Guritno yang kuat, dan build-up atmosfer yang baik. Tapi memang sih kesan horornya kurang inovatif, akting timpang, dan logika cerita yang kadang aneh (seperti keputusan karakter yang tak masuk akal).
Film ini layak ditonton sebagai tontonan ringan penuh misteri, terutama di akhir pekan. Rating dariku: 7.5/10. Kalau kamu mencari horor murni, mungkin bakalan kecewa; tapi untuk drama dengan sentuhan bumbu gaib, ini cukup memuaskan sih. Buruan pesan tiketnya dan rasakan kengerian di dalam filmnya!