Menjadi Minoritas, Menjadi Dewasa: Membaca Sekosong Jiwa Kadaver

Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Menjadi Minoritas, Menjadi Dewasa: Membaca Sekosong Jiwa Kadaver
Sekosong Jiwa Kadaver (Dok. Pribadi/Oktavia)

Sekosong Jiwa Kadaver adalah novel karya Ita Fajria yang menawarkan kisah coming of age seorang santri perempuan yang berani keluar dari ruang aman pesantren menuju dunia yang sama sekali berbeda.

Rayya TamiRayya, putri seorang kiai di Jawa Timur, akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi mahasiswa kedokteran. Ia berangkat ke Bali dengan semangat besar, keyakinan, dan doa keluarga. Meski tak sepenuhnya tanpa keraguan dari orang-orang terdekatnya.

Sinopsis Novel

Bali yang dibayangkan Rayya sebagai ruang ilmu dan masa depan ternyata menyimpan kompleksitas sosial yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Latar waktu pasca dua tragedi Bom Bali membuat sentimen terhadap umat Muslim masih kuat.

Rayya harus menghadapi bullying bernuansa rasis, perasaan terasing sebagai minoritas, serta tekanan akademik yang tinggi di Fakultas Kedokteran. Dunia luar memaksanya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu selembut dinding rumah dan tembok pesantren yang selama ini melindunginya.

Ketegangan emosional mulai terasa ketika novel menyinggung persoalan Tiara yang hamil di luar nikah dengan Bli Adnyana. Karakter yang sebelumnya tampak baik dan protektif ternyata menyimpan sisi rapuh dan problematis.

Lebih menghentak lagi adalah kisah Sofia yang diduga mengalami relasi seksual yang tidak sehat dengan Mas Abrisam, seorang aktivis dakwah kampus. Narasi ini menyentil kemunafikan moral dan memperlihatkan bahwa simbol kesalehan tidak selalu sejalan dengan integritas pribadi.

Kisah cinta Rayya pun tidak luput dari luka. Hubungannya dengan Gede, pemuda Bali yang mulai tertarik pada Islam berakhir tanpa kejelasan. Cinta beda agama kembali digambarkan sebagai ruang penuh ketidakpastian dan kehilangan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Novel ini terasa sangat realis karena memang diangkat dari kisah nyata. Namun, justru di situlah letak dilema pembaca. Hingga lebih dari seratus halaman pertama, alurnya terasa terlalu tenang, datar, dan nyaris tanpa dramatisasi.

Konflik memang ada. Konfrontasi Rayya dengan Kristo dan kelompok mahasiswa Bali yang menyimpan dendam lama, hingga kewalahan menghadapi ritme kuliah kedokteran. Tetapi semuanya disajikan seperti catatan keseharian.

Bagi pembaca yang menyukai dinamika konflik naik-turun, bagian awal novel ini bisa terasa membosankan. Untungnya, pilihan diksi dan struktur kalimatnya rapi, sehingga tetap nyaman diikuti. Di titik ini, kerja editor dan proofreader patut diapresiasi.

Meski demikian, novel memberi penutup yang menenangkan: Rayya akhirnya menemukan jodohnya, sosok yang hadir singkat namun berkesan, bahkan sedikit komedik dengan cara menyatakan cinta yang lugas dan langsung.

Pesan Moral

Lebih dari sekadar cerita perjuangan akademik, Sekosong Jiwa Kadaver adalah potret santri yang dipaksa tumbuh dewasa di luar zona nyaman. Rayya belajar bahwa privilege (nasab, kekayaan, maupun status sosial) bersifat sementara.

Yang benar-benar membentuk manusia adalah mindset, kegigihan, kesabaran, dan integritas dalam menjalani proses. Novel ini juga menegaskan bahwa kecerdasan saja tidak cukup; kepribadian dan kemampuan menjalin relasi sosial jauh lebih menentukan.

Di tengah dunia yang luas dan sering kali tidak ramah, Rayya belajar satu hal penting: kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tetapi kita bisa menjaga nilai dan prinsip diri sendiri. Dan sebagai manusia beriman, ia akhirnya memahami bahwa setiap takdir, seberat apa pun selalu membawa makna terbaik, meski jalannya berliku.

Sebagai bacaan, novel ini mungkin tidak menawarkan ledakan emosi yang dramatis, tetapi justru menghadirkan kejujuran yang sunyi. Sebuah kisah inspiratif yang mendorong santri dan siapa pun, untuk berani melangkah keluar, tanpa kehilangan arah pulang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak