Hana Tara Hata: Prekuel yang Menghidupkan Kembali Series Bumi

Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Hana Tara Hata: Prekuel yang Menghidupkan Kembali Series Bumi
Novel Hana Tara Hata Tere Liye. [Gramedia]

Karena kita tidak benar-benar tahu akhir sesuatu sebelum sesuatu itu benar-benar berakhir. Dan saat kisah itu berakhir, itu boleh jadi ternyata menjadi awal dari kisah lain yang lebih seru.

Hana Tara Hata merupakan karya terbaru Tere Liye sekaligus buku ke-17 dalam serial Bumi. Bagi pembaca setia seri ini, nama Hana Tara Hata tentu tidak asing: ia adalah penghuni Padang Perdu dari Klan Matahari yang mampu berbicara dengan alam. Buku ini hadir sebagai prekuel, mengisahkan perjalanan Hana secara lebih rinci sebelum perannya dikenal luas dalam seri utama. 

Sinopsis

Cerita dibuka dengan potret Hana kecil kehidupan yang tampak sederhana layaknya anak-anak pada umumnya: bermain, tumbuh, dan belajar mengenali dunia. Namun, keistimewaan Hana mulai tampak dari kemampuannya membaca alam sekitar. Hanya ada dua peristiwa besar yang benar-benar mengguncang alur awal cerita, yakni saat Hana menyelamatkan penduduk Kota Exeos dari runtuhan gedung besar serta peristiwa imigrasi burung-burung Labiba. Dua kejadian ini menjadi bukti keistimewaan Hana dan membuatnya mulai disegani.

Seiring waktu, Hana menikah dengan Gara - gara dia III nama yang mencerminkan sistem penamaan unik Klan Matahari, sederhana namun penuh aturan. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak yang justru menjadi pusat utama cerita: Mata-Hana-Tara. Petualangan sesungguhnya dimulai ketika Mata mengikuti Festival Bunga Matahari, sebuah ajang berbahaya yang semula ditolak mentah-mentah oleh Hana karena mempertaruhkan hidup dan mati. Festival ini mempertemukan berbagai kontingen dari beragam fraksi dalam pencarian tempat pertama kali Bunga Matahari mekar. 

Petualangan Mata dipenuhi tantangan tak terduga yang membuat pembaca ikut tegang dan kelelahan secara emosional. Di tengah pertarungan, kekuatan Mata kerap aktif secara tiba-tiba—sebuah kode genetik petarung jenius yang memungkinkannya memunculkan tameng energi yang diselimuti kilatan petir biru.

Dunia Klan Matahari digambarkan penuh kejutan apa pun bisa muncul di setiap tikungan cerita. Meski sarat ketegangan, Tere Liye tetap menyelipkan humor segar di tengah adegan serius: pejabat yang kayang saat marah- marah, monster ubur-ubur-ikan-lele, hutan lancip berdecip-decip, padang tulip terindah nan menawan hati, dan banyak kejutan absurd lainnya yang membuat cerita terasa hidup dan manusiawi. Festifal ini juga menjadikan Hana seorang ibu yang sanagat menyayangi anaknya harus menerima rasa sakit, kehilangan, pengorbanan, dan memafkan yang tumpah menjadi satu.

Ciri khas Tere Liye tampak kuat dalam penggambaran detail lanskap alam, dunia fantasi yang luas, serta penjelasan ilmiah yang tetap mudah dipahami. Cerita juga beberapa kali bersinggungan dengan realitas politik dan isu lingkungan secara halus. Novel ini ditutup dengan akhir yang menggantung dan sangat emosional, membuat pembaca tak sabar menanti kelanjutan kisahnya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan:

Meski bergenre fantasi dan ramah anak, Hana Tara Hata sarat pesan tentang cinta lingkungan, kekuasaan, dan tanggung jawab. Tidak habis pikir juga bagaimana Tere Liye berhasil menghidupkan cerita  yang seolah sudah “selesai” tanpa terasa dipaksakan, serta menyambungkan alur cerita antar buku dengan rapi tanpa celah. 

Kekurangan:

Sebagian pembaca mungkin bertanya mengapa buku ini tidak diberi judul Mata Hana Tara, mengingat tokoh Mata justru menjadi inti utama cerita. Selain itu, terdapat beberapa kesalahan penulisan nama tokoh di beberapa bagian—misalnya Teta yang tertulis Meta, serta Fala-Rara-Tana IV yang berubah menjadi Fala-Tara-Tana I—yang sempat membingungkan dan memaksa pembaca membaca ulang. Meski demikian, kekeliruan ini tidak terlalu mengganggu karena memang serumit itu penamaan klan Matahari.

Identitas Buku

Judul: Hana Tara Hata
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Penerbit Sabak Grip
Tanggal Terbit: 18 Juni 2025
Seri: Serial Bumi (Buku ke-17)
Jumlah Halaman: 384 halaman
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-6347-04603-1
Ukuran Buku: 13,5 × 20 cm
Berat: ±0,52 kg

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak