Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita

Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita
Kumpulan Cerita Pendek Monyet Bercerita. (Dok.Pribadi/ Chairun Nisa)

Monyet Bercerita adalah kumpulan cerpen karya Aris Kurniawan yang memadukan dua unsur penting: mitos seputar kera di sebuah desa di lereng Gunung Ciremai, Cirebon, serta kehidupan urban yang sering kali mencerminkan tingkah laku “monyet” dalam arti simbolik—liar, naluriah, penuh kepura-puraan, dan kadang kejam. Cerpen-cerpen dalam buku ini sebelumnya pernah terbit di berbagai media seperti Detik, Koran Suara Merdeka, Jawa Pos, dan lainnya. Terdiri dari 30 cerpen dengan panjang dan kekuatan yang beragam, ada yang terasa sangat kuat dan membekas, ada pula yang cukup sederhana namun tetap menyimpan makna.

Beberapa cerpen yang cukup menonjol di antaranya:

Mata Monyet mengisahkan kekesalan Liman, seorang ayah tunggal, terhadap Mongki, monyet kecil peliharaan anaknya. Ia selalu resah setiap kali menatap mata monyet itu karena meyakini bahwa monyet-monyet di Taman Wisata Plangon adalah jelmaan orang-orang yang berkhianat—dan salah satunya adalah istrinya, Maryam. Cerita ini bukan sekadar tentang mitos, tetapi tentang rasa kehilangan, kecurigaan, dan luka batin yang belum selesai. Kepercayaan terhadap mitos menjadi cara Liman menenangkan sekaligus menyiksa dirinya sendiri.

Plangon seperti kelanjutan dari cerpen sebelumnya. Punang, anak Liman yang telah dewasa, mengunjungi Taman Wisata Plangon untuk membuktikan keberadaan ibunya yang dipercaya telah berubah menjadi monyet. Batas antara legenda urban dan kenyataan terasa sangat tipis, apalagi ketika ia bertemu seorang nenek pawang monyet yang menunjukkan jalan kepadanya. Cerpen ini memperlihatkan bagaimana keyakinan dapat membentuk realitas seseorang, meskipun belum tentu dapat dibuktikan secara rasional.

Dongeng Cinta Sepasang Monyet menceritakan ketakutan seorang pemuda yang diajak berbincang panjang oleh seorang nenek berusia lebih dari 200 tahun. Sang nenek berkisah tentang seekor monyet yang dirawatnya, yang sebenarnya adalah kekasihnya dahulu—pengkhianat Pangeran Panjunan pada masa perang zaman Belanda—yang diyakini akan kembali menjadi manusia. Di sini, cinta, penantian, dan penebusan dosa dibalut dalam kisah yang terasa seperti dongeng, tetapi menyimpan kepedihan sejarah.

Monyet Murung di Lereng Gunung berkisah tentang seekor monyet yang masih mengingat kehidupannya sebelum menjadi monyet, termasuk bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Namun, kawanan monyet lain menganggapnya aneh dan tidak normal. Cerita ini menyentuh tema keterasingan dan bagaimana seseorang yang berbeda sering kali dijauhi oleh lingkungannya.

Pandawa Lima bercerita tentang keyakinan Maryoso bahwa salah satu temannya yang hilang saat wisata berlima di Gunung Ciremai telah berubah menjadi monyet. Namun kenyataannya, temannya itu justru terlibat dalam aksi kriminal pengeboman. Cerpen ini menyentil bagaimana manusia kadang lebih mudah mempercayai mitos daripada menghadapi kenyataan pahit tentang pilihan hidup seseorang.

Berbeda dengan cerpen-cerpen bernuansa mitos, beberapa cerita lain mengangkat kerasnya kehidupan kota.

Penawaran Iklan menggambarkan dunia metropolitan melalui kisah seorang sales iklan di media koran besar yang rela melakukan berbagai cara demi target, termasuk menjalin hubungan dengan klien atau menyembunyikan fakta tentang zat berbahaya dalam produk yang diiklankan. Cerpen ini mengkritik kapitalisme dan kompromi moral yang sering terjadi di kota besar.

Menunggu Moningka mengisahkan seorang penulis yang diragukan karyanya, menjalin komunikasi dengan seorang penggemar melalui pesan singkat. Ia membangun fantasi sendiri, tetapi saat pertemuan nyata terjadi, ia justru berpura-pura tidak mengenalnya. Cerita ini menyindir kepalsuan identitas dan keberanian yang hanya muncul di balik layar.

Rencana Membunuh Iblis menghadirkan konflik moral yang lebih kompleks. Seorang kiai besar, Kiai Husein, meminta santrinya yang sangat patuh untuk menikahi seorang gadis yang disebut mengandung bayi iblis. Belakangan terungkap bahwa semua itu hanyalah cara menutup skandal keluarga sang kiai. Cerpen ini mengingatkan pentingnya berpikir kritis, bahkan terhadap figur yang dianggap suci dan berwibawa.

Pada Sebuah Hotel, Ziarah Terakhir, dan Laki-Laki Hujan Malam sama-sama menyoroti sisi rapuh manusia: ambisi, rahasia keluarga, kesepian, dan kekecewaan. Tokoh-tokohnya tidak sepenuhnya hitam atau putih; mereka manusia dengan kelemahan dan keputusan yang kadang salah arah.

Jika dicermati lebih dalam, “monyet” dalam kumpulan cerpen ini bukan sekadar unsur mitos atau cerita rakyat, melainkan metafora sosial yang kuat. Monyet menjadi lambang sisi naluriah manusia ketika akal sehat dikesampingkan, ketika moral dikorbankan demi ambisi, atau ketika kekuasaan dan kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kebenaran. Di desa, mitos jelmaan menjadi cara masyarakat memaknai pengkhianatan dan rasa bersalah. Di kota, “kemonyetan” muncul dalam bentuk manipulasi, kepalsuan, dan kompromi moral. Dengan cara inilah Aris Kurniawan menyampaikan kritik sosialnya secara halus tetapi tajam, seolah mengajak pembaca berkaca pada dirinya sendiri.

Identitas Buku

Judul: Monyet Bercerita
Penulis: Aris Kurniawan
Penerbit: Basa Basi
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-5783-70-8

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak