Drama Korea ‘Can This Love Be Translated?’ tayang perdana di Netflix pada 16 Januari 2026. Drama ini dibintangi oleh Kim Seon-ho sebagai Joo Ho-jin, seorang interpreter profesional multibahasa, dan Go Youn-jung sebagai Cha Mu-hee, aktris papan atas dengan karier internasional.
Ditulis oleh Hong Sisters, drama ini mengusung genre romansa dengan pendekatan emosional yang tenang, reflektif, dan sarat makna psikologis. Alih-alih menyajikan konflik besar yang dramatis, cerita berkembang melalui dialog, keheningan, dan kesalahpahaman yang terasa dekat dengan realitas relasi dewasa.
Secara garis besar, drama ini mengisahkan hubungan profesional yang perlahan berubah menjadi relasi personal antara Ho-jin dan Mu-hee.
Ho-jin terbiasa bekerja dengan presisi bahasa dan makna literal, sementara Mu-hee hidup di dunia yang penuh tuntutan, sorotan publik, dan luka emosional dari masa lalu. Ketika keduanya mulai terlibat secara emosional, perbedaan cara mengekspresikan perasaan menjadi sumber konflik utama. Mereka kerap “berbicara” dalam bahasa yang sama, tetapi memahami dengan cara yang berbeda.
Namun, drama ‘Can This Love Be Translated?’ tidak sekadar bercerita tentang cinta dan miskomunikasi. Drama ini mengajak penonton untuk merefleksikan bagaimana trauma membentuk cara seseorang mencintai, menahan diri, dan melindungi perasaannya sendiri.
Dalam relasi Ho-jin dan Mu-hee, trauma tidak selalu hadir sebagai peristiwa besar yang diceritakan secara eksplisit, melainkan sebagai pola. Diam, ragu, dan jarak emosional yang terus berulang.
Trauma dan Mekanisme Bertahan Cha Mu-hee
Cha Mu-hee digambarkan sebagai sosok yang tampak percaya diri di hadapan publik, tetapi rapuh dalam relasi personal. Beberapa adegan menunjukkan bagaimana ia sering menghindari percakapan emosional yang terlalu langsung.
Dalam satu scene, Mu-hee memilih mengakhiri pembicaraan ketika Ho-jin mulai menanyakan perasaannya secara jujur, bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena kedekatan emosional terasa mengancam.
Pola ini mencerminkan mekanisme bertahan yang umum pada individu dengan pengalaman traumatis, yakni dengan menjaga jarak untuk menghindari luka yang sama terulang kembali.
Mu-hee lebih memilih memendam perasaan daripada mengambil risiko untuk terluka, sehingga cintanya sering hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata. Seperti perhatian kecil, kehadiran diam, dan keputusan-keputusan yang tidak pernah ia jelaskan dengan kata.
Ho-jin dan Kesulitan Membaca Emosi yang Tidak Terucap
Sebagai interpreter, Joo Ho-jin sangat mengandalkan kejelasan makna. Ia terbiasa bahwa setiap pesan memiliki padanan yang bisa diterjemahkan secara tepat.
Masalah muncul ketika ia berhadapan dengan Mu-hee, yang justru berbicara melalui isyarat emosional yang ambigu. Dalam beberapa adegan, Ho-jin tampak bingung dan frustrasi karena Mu-hee mengatakan “tidak apa-apa”, tetapi menunjukkan sikap menjauh.
Ho-jin kerap menafsirkan sikap Mu-hee secara literal, bukan kontekstual. Ia gagal membaca bahwa keheningan dan penolakan halus Mu-hee adalah bagian dari luka yang belum selesai. Di sinilah drama ini menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif tidak selalu beriringan dengan literasi emosional, terutama ketika berhadapan dengan trauma orang lain.
Salah Paham sebagai Produk Trauma Relasional
Hubungan Ho-jin dan Mu-hee dipenuhi salah paham yang tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari dua pola luka yang saling beririsan.
Mu-hee menahan diri karena takut terluka, sementara Ho-jin menarik diri karena merasa ditolak. Keduanya terjebak dalam siklus yang sama. Satu diam untuk bertahan, yang lain menjauh karena tidak mengerti.
Salah satu bagian menarik dalam drama ini adalah makna bahwa cinta tidak selalu gagal karena kurangnya rasa, tetapi karena luka yang tidak pernah diberi ruang untuk dipahami bersama.
Trauma, dalam konteks ini, bukan penghalang cinta, melainkan bahasa emosional yang belum diterjemahkan dengan tepat.
Bahasa Cinta yang Terluka
“Setiap orang memiliki bahasanya masing-masing.”
Salah satu percakapan yang hadir dalam drama ini dan sukses membuka pemaknaan besar. Kutipan ini tidak hanya relevan secara tematik, tetapi juga psikologis.
Trauma menyebabkan seseorang mengembangkan bahasa cinta yang berbeda, lebih berhati-hati, lebih sunyi, dan sering kali sulit dipahami oleh orang lain.
Mu-hee mencintai dengan menjaga jarak, Ho-jin mencintai dengan mencari kejelasan. Keduanya perlu belajar bahwa memahami pasangan bukan soal memaksa orang lain berbicara dengan bahasa kita, tetapi berusaha mempelajari bahasa yang terbentuk dari pengalaman hidupnya.
Melalui drama ini, penonton diajak untuk memahami bahwa relasi romantis tidak pernah berdiri di ruang hampa. Cinta selalu membawa sejarah, luka, dan cara bertahan masing-masing individu.
Melalui Ho-jin dan Mu-hee, drama ini menunjukkan bahwa menerjemahkan cinta bukanlah soal kata yang tepat, melainkan kesediaan untuk mendengar, menunggu, dan memahami bahasa luka orang lain. Sebuah refleksi sunyi tentang cinta yang tumbuh perlahan, di antara trauma yang belum sepenuhnya sembuh.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS