Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'

Bimo Aria Fundrika | Oktavia Ningrum
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
Dia yang Haram (Dok.Pribadi/Oktavia)

Novel Dia yang Haram karya Isrina Sumia mengangkat kisah yang berani dan jarang disentuh dalam sastra populer Indonesia. Diterbitkan oleh MS Publishing pada 18 Mei 2023, novel setebal 381 halaman ini mengajak pembaca menyelami kehidupan seorang anak yang sejak kecil hidup di bawah bayang-bayang stigma sebagai “anak haram”.

Isrina Sumia kembali membuktikan kemampuannya meramu cerita yang emosional, tajam, dan menggugah empati. Tokoh utama dalam novel ini adalah Ismi Hanun Nazla, seorang anak perempuan yang tumbuh dengan label sosial yang kejam.

Sinopsis Novel

Sejak kecil, Ismi dipanggil “haram” oleh anak-anak di sekitarnya. Anak haram, dua kata yang awalnya tidak ia pahami maknanya. Dalam kepolosan masa kanak-kanak, Ismi mengira julukan itu diberikan karena wajahnya dianggap jelek. Ia bahkan menyamakan dirinya dengan babi yang juga disebut haram.

Ibunya, Halimah, tak pernah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari bibir kecil itu. Entah karena sama terlukanya atau diliputi trauma yang mendalam, sang ibu justru selalu menyuruh Ismi diam dan membentaknya dengan keras. Namun, seiring bertambahnya usia, Ismi mulai menyadari kenyataan pahit: ia disebut “haram” karena status kelahirannya.

Ismi adalah anak hasil perselingkuhan. Ia tidak pernah mengenal ayahnya, sosok yang menghilang tanpa jejak. Lebih menyakitkan lagi, ibunya sendiri tak mampu memberinya cinta dan perlindungan.

Dalam narasi yang menyayat, Ismi menggambarkan hidupnya sebagai sesuatu yang lebih hina daripada seekor babi. Setidaknya babi masih bisa hidup bersama keluarganya, sementara ia tumbuh dalam kesepian, penolakan, dan kebencian—bahkan dari orang yang melahirkannya.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada premisnya yang unik dan berani. Isu anak haram jarang dijadikan fokus utama dalam novel populer, terlebih dengan sudut pandang korban yang begitu personal.

Isrina Sumia tidak hanya menampilkan konflik eksternal berupa perundungan dan stigma sosial, tetapi juga konflik batin yang mendalam: rasa rendah diri, kebingungan identitas, serta kebutuhan akan cinta yang tak pernah terpenuhi.

Dari segi penulisan, novel ini disajikan dengan narasi yang mengalir dan dialog yang terasa natural. Monolog batin Ismi ditulis dengan jujur dan emosional, membuat pembaca seolah masuk ke dalam pikirannya.

Konflik dieksplorasi secara detail tanpa terasa berlebihan, sehingga emosi yang dibangun tampak autentik dan membekas. Pembaca tidak hanya diajak memahami penderitaan Ismi, tetapi juga dipaksa menghadapi realitas sosial yang kerap diabaikan.

Pesan Moral
Novel ini sarat akan pesan moral. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat kerap menghukum anak atas dosa orang dewasa. Stigma, pengucilan, dan kekerasan verbal yang dialami Ismi memperlihatkan betapa kejamnya norma sosial ketika empati tidak lagi hadir.

Namun, keberanian novel ini juga berpotensi memicu kontroversi. Tema “anak haram” masih dianggap sensitif oleh sebagian kalangan, sehingga respons pembaca bisa sangat beragam, mulai dari simpati mendalam hingga rasa tidak nyaman.

Meski demikian, Dia yang Haram adalah karya yang penting. Novel ini membuka ruang diskusi tentang kemanusiaan, keadilan sosial, dan luka psikologis yang ditinggalkan oleh stigma. Isrina Sumia tidak menawarkan kisah yang nyaman, melainkan menyodorkan realitas pahit yang perlu dihadapi.

Bagi pembaca yang siap menyelami cerita emosional dan reflektif, novel ini menjadi pengingat bahwa label sosial dapat melukai jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.

Identitas Buku
Judul: Dia yang Haram
Penulis: Isrina Sumia
Penerbit: MS Publishing
Tahun Terbit: Mei 2023
ISBN: 978-6-238-810-47-5
Tebal: 381 halaman
Kategori: Fiksi, Novel
Genre: Roman, Drama, Horor

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak