Dalam hiruk-pikuk literatur kontemporer yang sering kali mengejar plot besar, konflik eksistensial yang berat, atau eksperimen bahasa yang rumit, Reda Gaudiamo hadir dengan sesuatu yang menyegarkan sekaligus bersahaja. Melalui bukunya yang berjudul "Kios Pasar Sore", Reda membuktikan bahwa narasi yang paling menyentuh justru sering kali terselip di balik rutinitas yang kita anggap sepele.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang, sesuai judulnya, mengangkat kehidupan tokoh-tokoh yang "biasa". Tidak ada pahlawan super, tidak ada drama kolosal yang mengubah sejarah bangsa. Yang ada hanyalah pedagang pasar, ibu rumah tangga, anak sekolah, hingga orang tua yang merindukan masa lalu. Namun, di tangan Reda, kebiasaan-kebiasaan ini menjadi cermin besar bagi pembaca untuk melihat kembali kemanusiaan mereka sendiri.
Kekuatan utama Reda Gaudiamo terletak pada kejujuran narasi. Gaya bercerita Reda terasa seperti percakapan sore hari di teras rumah ditemani segelas teh hangat. Ia tidak berusaha menggurui atau memberikan pesan moral yang dipaksakan. Sebaliknya, ia membiarkan pembaca masuk ke dalam emosi para tokohnya melalui detail-detail kecil yang sangat manusiawi.
Dalam cerita pembuka, kita dibawa merasakan atmosfer pasar yang tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial yang intim. Reda sangat piawai dalam memotret detail fisik dan suasana, bau rempah, suara tawar-menawar yang riuh, hingga sorot mata seorang pedagang yang sedang menanti pelanggan. Detail-detail ini membuat "Kios Pasar Sore" bukan sekadar judul, melainkan sebuah dunia yang hidup dalam imajinasi pembaca.
Buku ini berisi deretan cerita yang sangat beragam namun disatukan oleh satu benang merah, keberpihakan pada mereka yang terabaikan. Reda menyoroti bagaimana orang-orang biasa menghadapi kehilangan, kesepian, dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil.
Salah satu aspek yang paling menarik adalah cara Reda menggambarkan karakter perempuan. Baik itu seorang ibu yang mengurus rumah tangga atau perempuan pekerja, mereka digambarkan dengan segala kerentanan namun tetap memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Konflik yang mereka hadapi mungkin terlihat sederhana di mata dunia luar, seperti keraguan saat memilih barang belanjaan atau kecemasan menghadapi hari tua. Namun Reda mampu memberikan kedalaman emosional yang membuat pembaca merasa bahwa masalah tersebut sangatlah nyata dan penting.
Dari segi teknis penulisan, Reda menggunakan diksi yang sangat membumi. Ia menghindari penggunaan metafora yang terlalu tinggi atau struktur kalimat yang berbelit-belit. Strategi ini sangat efektif karena buku ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, dari remaja hingga orang tua. Suara karakter terasa asli sesuai dengan latar belakang mereka.
Cerita mengalir dengan lancar, memungkinkan pembaca untuk menyelesaikan satu cerita dalam sekali duduk tanpa kehilangan kedalamannya. Meskipun bahasanya sederhana, jangan salah sangka bahwa buku ini dangkal. Reda sering kali menyisipkan pengamatan tajam tentang realitas sosial di Indonesia. Ia memotret kesenjangan ekonomi, perubahan zaman yang menggerus tradisi, hingga dinamika keluarga urban dengan cara yang sangat subtil.
Kumpulan cerita pendek ini memiliki kurasi yang baik. Urutan cerita terasa seperti ritme kehidupan, ada saat-saat yang ceria dan penuh tawa, diikuti oleh cerita yang melankolis dan reflektif. Transisi ini menjaga agar pembaca tidak merasa jenuh.
Beberapa cerita dalam buku ini juga menyentuh tema nostalgia. Reda sering kali mengajak pembaca menengok ke belakang, pada masa kanak-kanak atau pada sosok-sosok yang sudah tiada. Hal ini memberikan sentuhan magis tersendiri, sebuah kerinduan yang universal. Kita diingatkan bahwa masa lalu, sekecil apa pun itu, adalah bagian yang membentuk identitas kita hari ini.
Jika harus memilih satu tema besar selain "kebiasaan", maka tema tersebut adalah penerimaan. Tokoh-tokoh dalam buku ini sering kali berada dalam situasi di mana mereka harus menerima kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Namun, yang luar biasa adalah cara mereka menghadapinya bukan dengan keputusasaan yang gelap, melainkan dengan ketabahan yang tenang.
Contohnya, dalam beberapa cerita tentang kehilangan anggota keluarga, Reda tidak mengeksploitasi kesedihan secara berlebihan. Ia justru fokus pada bagaimana hidup harus terus berjalan, bagaimana seseorang harus tetap mencuci piring, pergi ke pasar, dan tersenyum pada tetangga meskipun ada lubang besar di hati mereka. Inilah realitas yang paling jujur dari sebuah duka.
Di zaman yang serba cepat dan menuntut kita untuk selalu menjadi "luar biasa" atau "viral", buku "Kios Pasar Sore" adalah sebuah pengingat yang sangat berharga. Reda Gaudiamo berhasil menyampaikan pesan bahwa, kesedihan adalah bagian alami dari hidup yang tidak perlu ditutupi.
Identitas Buku
Judul: Kios Pasar Rabu
Penulis: Reda Gaudiamo
Penerbit: Shira Media
Tanggal Terbit: 10 Oktober 2025
Tebal: 136 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS