Malam itu, angin kencang meniup daun-daun kering di kota kecilku. Aku berjalan pulang dari kantor, jaketku berkibar, dan sepatuku berderit di trotoar berdebu. Jalanan sepi, hanya lampu jalan kuning redup yang berkedip, menciptakan bayangan panjang di belakangku. Biasa saja, setiap orang punya bayangan.
Namun, saat aku melangkah cepat menghindari lubang, bayanganku terasa... tertinggal. Bukan karena angin atau ilusi cahaya. Ia bergerak sedetik lebih lambat, seolah enggan mengikuti. Aku berhenti di bawah lampu untuk mengecek jam. Saat melanjutkan langkah, bayangan itu baru menyusul, seperti baru sadar.
Aku menggelengkan kepala. Kelelahan, pasti. Sudah larut.
Di rumah kos lama yang berderit, aku mandi air dingin dan langsung tidur. Tengah malam, rasa haus membangunkanku. Saat berjalan ke dapur dalam gelap, cahaya bulan menyusup dari jendela, menerangi lantai kayu.
Aku membeku.
Bayanganku di lantai masih berjalan dari arah kamar tidur, meskipun tubuhku sudah berdiri diam membuka kulkas. Ia menyusul perlahan, lalu menyatu dengan kakiku. Jantungku berdegup liar. Aku nyalakan lampu. Hilang. Hanya lantai kosong.
Pagi harinya, aku bercerita pada rekan kerja. "Mungkin kamu butuh libur," kata mereka sambil tertawa. Aku pura-pura ikut tertawa, tetapi gelisah sepanjang hari.
Malam kedua terasa lebih buruk.
Angin semakin kencang, debu beterbangan. Aku melewati gang sempit sebagai jalan pintas. Mendengar langkah di belakang: tap... tap... tap. Sinkron sempurna dengan langkahku. Aku percepat—ia percepat. Aku pelan—ia pelan. Aku berhenti mendadak—langkah itu berhenti, tetapi terlambat setengah detik.
Aku berbalik cepat. Kosong. Hanya bayanganku memanjang di dinding gang karena lampu neon yang jauh. Saat berbalik lagi dan melangkah, bayangan itu diam sebentar di dinding, kepalanya seolah menoleh ke arahku berbalik tadi, baru kemudian mengikuti. Aku lari pulang dengan napas tersengal. Kunci pintu ganda, gorden ditutup rapat.
Di kamar, aku duduk di tepi ranjang, menatap cermin besar warisan almarhumah istriku. Bayanganku duduk sama. Aku mengangkat tangan kanan perlahan untuk menyisir rambut. Bayanganku mengangkat tangan kiri.
Salah sisi.
Aku coba lagi, mengangkat kedua tangan. Ia mengangkat satu saja. Lalu ia tersenyum—bibir hitamnya melebar—padahal aku tidak tersenyum. Aku melempar bantal ke cermin. Pecah. Serpihan jatuh, tetapi di lantai, bayangan tetap utuh, berdiri dari posisi duduk, lalu mendekat ke arahku. Aku mematikan lampu dan sembunyi di bawah selimut seperti anak kecil.
Malam-malam selanjutnya, ia semakin berani. Tidak butuh cahaya lagi. Di kegelapan total, aku merasakan dingin di samping ranjang. Napas pelan, bukan milikku—lebih dalam, lebih lambat.
Pagi hari, aku menemukan jejak kaki berdebu dari jendela ke ranjangku. Jendela terkunci dari dalam. Aku tinggal sendirian sejak istriku meninggal dua tahun lalu dalam kecelakaan mobil yang kusopiri pada malam berangin kencang seperti ini. Aku yang selamat. Dia tidak. Mungkin itu penyebabnya; rasa bersalah yang menggerogoti.
Suatu malam, aku tidak tahan lagi. Aku duduk di ruang tamu yang gelap gulita dengan pisau dapur di tangan.
"Keluarlah!" teriakku pada kegelapan.
Dinding berderit pelan. Bayangan muncul—bukan hitam datar biasa. Ia punya tekstur, seperti asap pekat berbentuk manusia yang mirip aku, tetapi wajahnya kosong: lubang hitam menganga di tempat mata, hidung, dan mulut. Ia melangkah turun dari dinding, menjadi nyata, tiga dimensi. Lantai terasa dingin di bawah telapak kakinya yang tak terlihat. Ia mendekat lambat dengan tangan hitam terulur.
"Kamu apa?" bisikku, suara gemetar.
Suara keluar dari lubang wajahnya—suara milikku sendiri, tetapi lebih dalam dan lebih dingin: "Aku yang seharusnya hidup."
Ingatan malam kecelakaan itu banjir kembali. Mobil terguling di jalan berdebu. Aku sadar di kursi pengemudi, tubuh istriku tak bergerak di samping. Darah di mana-mana. Aku tarik napas, rasakan nyeri... tetapi kemudian semuanya gelap.
Tidak. Aku selamat.
Bayangan itu tertawa pelan, suaranya bergema di ruangan.
"Kamu mati malam itu. Jiwa kamu tertinggal di mobil dingin. Aku—bayanganmu—masuk ke tubuh hangat yang kosong. Aku yang jalani hidupmu, pura-pura jadi kamu. Meniru langkah, suara, kebiasaan."
Aku mundur sampai tembok. Pisau jatuh dari tangan.
"Sekarang aku lelah meniru," lanjutnya. "Giliran kamu jadi bayangan. Ikuti aku selamanya."
Tangan dinginnya menyentuh dadaku. Rasa sakit menusuk, seperti es yang membekukan darah. Dunia berputar gelap.
Kini aku hanya bayangan tipis. Menempel di dinding, lantai, dan cermin pecah. Mengikuti langkahnya—langkah tubuhku yang dicuri. Ia berjalan pulang malam ini, angin kencang lagi, tersenyum pada lampu jalan. Aku tertinggal sedetik, menunggu kesempatan untuk merebut kembali.
Namun, semakin lama, aku semakin pudar. Mungkin selamanya begini. Bayangan yang meniru langkahnya... yang sebenarnya milikku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Media Sosial, Budaya Komentar, dan Matinya Proses Membaca
-
Mengapa Pelaku Pelecehan Selalu Merasa Aman, dan Korban Selalu Disalahkan?
-
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
-
Pertemuan Park Shin Hye dan Cho Han Gyeol Kacau di Undercover Miss Hong
-
Anime Gnosia Masuki Cour Kedua Bertajuk Truth Arc, Tayang 10 Januari 2026